Loving You (Part 3/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance, Comedy

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (3/?)

 

 

 

Kejutan

 

Kim So Eun POV

 

Aku melangkahkan kakiku memasuki toko es krim itu. Dari luar, kita bisa melihat suasana di dalam toko tersebut karena bagian depan toko yang dibatasi oleh kaca transparan. Terlihat kalau pengunjung di tempat itu tidak terlalu ramai, tapi juga tidak bisa dibilang sepi. Aku lalu berjalan menuju etalase tempat es krim yang sudah dijaga oleh karyawan-karyawannya. Mereka tersenyum ke arahku. Terutama pelayan wanitanya, mereka tersenyum begitu lebar dan manis. Sepertinya, otot-otot wajah mereka akan segera putus kalau mereka tidak segera melepas senyum mereka itu. Aneh, pikirku. Untuk apa mereka tersenyum selebar itu padaku. Apa mereka mengira aku anak seorang presiden, sampai mereka terlihat begitu bahagia dengan kedatanganku? Eh tapi.. Tunggu dulu, tatapan mereka tidak mengarah tepat  kepadaku. Wajah mereka memang menghadap ke arah kedatanganku, tapi mata mereka memandang ke arah lain, tepatnya ke belakangku. Sontak saja aku menolehkan kepalaku ke belakang. Dan ooohh tebak, apa yang sejak tadi menjadi pusat perhatian pelayan-pelayan wanita itu! Laki-laki sombong nan angkuh itu berjalan layaknya seorang bos. Jadi sejak tadi yang membuat pelayan-pelayan itu tersenyum lebar adalah laki-laki ini?! Cih, dasar pelayan centil. Mereka belum tahu bagaimana sifat asli pemuda sombong itu. Wajahnya saja yang tampan, tapi sifatnya sungguh menyebalkan.

Aku kembali berbalik dan berjalan menuju etalase es krim. Untung saja yang datang melayaniku adalah pelayan laki-lakinya, bukan wanita-wanita centil itu. Mereka terlalu sibuk menarik perhatian laki-laki sombong itu.  Tapi yang diincar justru membuang muka, tak memerdulikan mereka. Ckck, betapa bodohnya mereka.

Saat aku sedang melihat-lihat menu es krim yang ditawarkan toko ini, aku baru sadar kalau dia sudah berada di sampingku. Menyilangkan tangannya di depan dada sambil memasang wajah sebal. Meski begitu, dia tetap terlihat tampan. Benar-benar tak berkurang sedikit pun, malah terlihat lebih.. Cool? Aaahhh tidak tidak. Apa yang kupikirkan? Dasar bodoh! Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menyadarkan diriku dari pikiran bodohku tadi. Aku melirik laki-laki itu sekilas, dan benar saja, dia sedang menatapku dengan tatapan heran melihat tingkah anehku tadi. Tak lupa senyum mengejeknya dia perlihatkan kepadaku. Aku  benar-benar menyesali tindakanku bodohku barusan.

Oke, tenangkan pikiranmu So Eun-ah. Jangan biarkan laki-laki sombong itu menertawakanmu lagi. Aku kembali mengalihkan perhatianku pada deretan menu es krim yang terpajang di etalase di depanku ini. Dan saat itulah muncul ide untuk membalas ejekan laki-laki itu tadi. Aku tersenyum licik karena ideku itu. Lalu aku alihkan pandanganku pada pelayan pria yang sejak tadi menungguku memilih pesanan. Sebelum berkata, aku tersenyum ke arah pelayan itu.

“Tolong berikan aku es krim yang paling enak dan mahal di toko ini.” Kataku dengan nada setenang mungkin. Hahahaha. Rasakan kau laki-laki sombong.

Aku tahu, saat ini dia sedang melotot marah kepadaku. Es krim yang tadi kubeli harganya tidak seberapa jika dibandingkan dengan es krim yang akan aku santap sebentar lagi. Tapi kubiarkan saja dia. Aku justru membalas pelototannya itu dengan senyum mengejek seperti yang dilakukannya tadi kepadaku. Sekarang kita impas laki-laki sombong.

 

 

“Hei, Nona. Bisakah kau cepat sedikit! Aku masih banyak urusan, kenapa kau makan lelet sekali!” Lagi-lagi dia berteriak kepadaku.

“Ya.. Apa kau tidak pernah dengar? Kalau kau ingin merasakan kenikmatan es krim itu, maka yang harus kau lakukan adalah memakannya dengan perlahan. Kau tidak bisa merasakan kenikmatannya kalau makan dengan terburu-buru. Dasar laki-laki sombong, selalu berteriak seenaknya.” Aku memelankan perkataanku dibagian terakhir. Semoga saja dia tidak mendengar kata-kata terakhirku tadi. Tapi sepertinya harapanku tidak terkabul, karena setelah itu, dia kembali berteriak kepadaku. Mungkin gendang telingaku akan pecah kalau mendengar teriakannya sekali lagi.

“Apa kau bilang? Laki-laki sombong? Berani-beraninya kau mengataiku sombong. Hei, kau dengar ya, aku ini Cho Kyuhyun! Aku adalah—“

“Ya ya ya. Kau tak perlu menjelaskan panjang lebar padaku mengenai siapa dirimu, Tuan Cho Kyuhyun.  Karena itu sama sekali tidak penting untukku.” Aku memotong perkataannya, sebelum dia semakin menyombongkan dirinya itu.

Dia membuang nafas dengan sedikit keras. Sepertinya dia frustasi untuk menghadapi sikapku padanya. Hahaha. Kau memang tak bisa mengalahkanku Tuan… Ee, siapa tadi namanya?? Aahh, Cho Kyuhyun. Ya, kau tidak akan bisa mengalahkanku Cho Kyuhyun sombong!

Ketika aku sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu menyentuh bagian sudut bibirku. Aku terdiam mengetahui apa yang sedang laki-laki itu lakukan kepadaku. Kurasakan jantungku kembali berdetak secara tak normal.

“Ckck, bahkan saat makan es krim pun masih seperti anak kecil.” Dia berkata sembari terus mengusap-usap bagian sudut bibirku yang terkena lumeran es krim.

Sentuhannya di wajahku seperti aliran listrik yang membuat tubuhku sedikit bergetar olehnya. Rasa apa ini? Aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Kenapa berada di dekat laki-laki ini bisa membuat jantungku berdetak tidak karuan seperti ini?

Mataku bertemu dengan matanya. Kami saling menatap satu sama lain. Tapi itu hanya terjadi beberapa detik saja, karena secara refleks aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Begitu juga dengan dirinya. Kami sama-sama salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi di antara kami. Oh Tuhan.. Kenapa suhu di tempat ini tiba-tiba terasa panas? Es krim yang ada di hadapanku sekarang sudah tak lagi menarik perhatianku. Aku sibuk mengipas-ngipas wajahku dengan kedua tangan. Kurasa wajahku sekarang sudah semerah udang rebus. Ya ampun, apa-apaan aku ini.

 

***

Aku pulang ke rumah saat menjelang malam. Aku harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Pasalnya uang yang kubawa saat pergi bersama Ji Hye tadi sudah habis. Uang yang kugunakan untuk membeli es krim ternyata uang terakhir di tasku. Kalau tahu begitu, seharusnya tadi aku meminta laki-laki itu menggantiku dengan uang saja. Dengan begitu  aku tidak akan lelah berjalan kaki seperti ini.

Saat sudah sampai di depan rumah, aku merogoh tas selempangku dan mengambil kunci cadangan yang selalu kubawa saat keluar. Ibu sendiri belum pulang. Dia masih bekerja sampai jam 9 malam nanti. Sejak dua hari yang lalu, dia sudah bekerja di kedai sederhana di pinggir jalan. Ibu menjajakan berbagai macam odheng. Berbagai sajian odheng, mulai dari ikan, rice cake, ayam, cumi, daging, yang  direbus dalam kuah gurih. Odheng disajikan dalam tusukan sate yang panjang dan besar. Kalau aku sendiri lebih suka odheng ikan. Aku biasa memakannya sambil menyeruput kuah hangat.  Benar-benar terasa enak dan nikmat. Odheng buatan ibu memang yang paling enak di dunia. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes.

 

Setelah mandi dan membuat masakan untuk makan malamku dan ibu, aku beranjak ke luar rumah. Aku ingin menunggu ibu pulang di luar sambil menatap langit malam. Itu memang hobbyku sejak dulu. Sesampainya di luar, aku duduk di anak tangga yang memang berada di depan rumahku. Kemudian aku menengadahkan kepalaku melihat indahnya langit Seoul malam ini. Bulan yang masih sabit namun bersinar dengan terang. Ditemani ribuan bintang yang berkelap-kelip dengan indahnya. Sungguh pemandangan seperti ini sangat kusukai. Aku tersenyum melihat lukisan alam yang satu itu. Ya, aku menyebut semua keindahan alam yang ada di dunia ini dengan lukisan alam. Lukisan alam yang langsung digambarkan oleh Tuhan. Semua benar-benar terlihat indah di mataku. Sangat indah.

Tapi entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja laki-laki yang bernama Cho Kyuhyun itu sudah ada di pikiranku saat ini. Ingatanku kembali kepada kejadian di toko es krim tadi. Saat dia membersihkan sisa-sisa es krim di wajahku. Saat ibu jarinya menyentuh kulit wajahku. Melihat dari jarak begitu dekat wajah tampan itu. Matanya, hidungnya, bibirnya, oh tidak. Kupikir aku sudah gila. Benar-benar gila sampai memikirkan wajah laki-laki itu. Bagaimana mungkin wajah sombongnya itu terus muncul dalam benakku. Ini tidak bisa dipercaya.

Pikiranku terus tertuju pada laki-laki itu sampai kemudian aku mendengar suara langkah seseorang yang semakin mendekat. Sepertinya itu ibu. Dan benar saja. Itu memang ibu. Dia berjalan sedikit gontai. Wajahnya terlihat lelah. Peluh menetes dari dahinya. Melihat itu membuat hatiku terasa sakit. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang anak. Hanya bisa menyusahkannya dan membuatnya harus bekerja keras seperti ini.

Aku harus segera mendapat pekerjaan. Ya, benar. Aku harus mencari kerja, walaupun mungkin akan sulit mencari pekerjaan di kota besar seperti ini dengan hanya mengandalkan ijazah sekolah menengah atas. Aku akan terus mencoba, sampai aku mendapat pekerjaan dan bisa meringankan beban ibu di pundaknya.

Ketika jarak ibu dan aku sudah semakin dekat, ia menghentikan langkahnya. Ibu menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

“Sedang apa kau malam-malam  begini di luar?” Tanya ibu. Entah karena kelelahan atau apa, tapi nadanya terdengar dingin di telingaku. Ibu, bisakah ibu sekali saja tidak bersikap dingin seperti ini padaku?

“Aku menunggu ibu pulang.” Jawabku jujur.

Ibu hanya diam mendengar jawabanku, namun setelah itu dia berlalu dari hadapanku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Heemm.. Tenang Kim So Eun. Ibu tidak marah padamu. Dia hanya kelelahan setelah bekerja seharian ini. Jangan sedih. Aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan sikap yang ditunjukkan ibu padaku.

***

 

Pagi harinya aku mulai mencari-cari lowongan pekerjaan di koran-koran. Berharap ada lowongan pekerjaan yang cocok untukku. Tapi sudah berkali-kali aku membolak-balikkan halaman demi halaman di koran-koran itu, tak ada satupun yang menerima lulusan SMA sepertiku. Ternyata hidup di Seoul benar-benar tidak mudah. Jutaan orang bersaing untuk bisa bekerja di kota ini. Lulusan rendahan sepertiku mana bisa bersaing dengan orang-orang bertitle yang mungkin saja juga masih banyak yang kalah dalam persaingan kerja di kota ini.

Tapi aku tidak boleh menyerah. Pasti ada hal yang bisa kukerjakan. Pasti masih ada tempat yang mau mempekerjakan orang sepertiku. Restoran, toko-toko dvd, toko accesoris, atau mungkin aku bisa membantu ibu berjualan odheng di pinggir jalan? Tapi itu tidak mungkin. Yang ada aku hanya akan merepotkannya saja, dan lagi itu tidak akan menambah penghasilan ibu kalau aku hanya membantunya berjualan. Aku harus mencari pekerjaan sendiri. Menghasilkan uang sendiri dan membantu ibu meringankan biaya keperluan kami sehari-hari.

Ah, kenapa aku tidak minta tolong Ji Hye saja dari tadi. Dia kan bekerja di perusahaan besar. Mungkin saja dia bisa mencarikanku pekerjaan di perusahaannya itu. Apalagi dia punya hubungan yang baik dengan bosnya. Ya, dia pasti mau membantuku.

***

 

Cho Kyuhyun POV

 

Sial. Perempuan itu benar-benar telah mengontaminasi pikiranku. Bagaimana tidak, sejak tadi aku berusaha fokus pada berkas-berkas yang ada di hadapanku saat ini, tapi gadis itu terus saja menghantui pikiranku sejak tadi. Sebenarnya ada apa denganku ini. Kenapa pikiranku tak bisa lepas dari gadis bodoh itu? Dan sialnya lagi, getaran hangat yang menjalar di hatiku ketika aku membersihkan lumeran es krim di wajahnya itu masih kuingat dengan jelas sampai sekarang. Kulit wajahnya yang lembut saat kusentuh, mata indahnya, hidung bangirnya, pipi tembamnya, dan bibir mungilnya. Oh Tuhan… Kenapa pikiranku terus tertuju pada wajah itu. Wajahnya yang merona saat kusentuh. Wajahnya yang lugu dan polos. Astaga, bahkan dengan mengingatnya saja membuat jantungku berdetak cepat seperti ini.

Aku terus melamunkan gadis itu, sampai-sampai tak sadar kalau ternyata sekretarisku, Ji Hye sudah berdiri di depanku sekarang.

“Ah, maaf. Ada apa?” Aku bertanya senormal mungkin. Dia pasti heran melihatku melamun seperti tadi. Aku memang selalu fokus pada pekerjaanku. Tapi tidak untuk kali ini.

“Ini berkas yang kau minta kemarin. Semuanya sudah aku cek dan sepertinya tidak ada kesalahan. Kau bisa mengecek ulang kalau mau.” Ji Hye menyerahkan data yang kemarin aku minta kepadanya.

Kami memang bicara seperti itu, layaknya seorang teman. Aku yang menyuruhnya untuk tidak bicara formal padaku meski itu pada saat jam kantor sekalipun. Kecuali saat kami sedang bersama dengan karyawan lain. Karena kalalu mereka melihat kami bicara tidak formal seperti ini, bisa-bisa mereka ikut berbicara tidak formal padaku. Hah, tidak akan kubiarkan, itu sama saja dengan menurunkan wibawaku sebagai bos mereka.

Sementara aku memeriksa berkas yang diberikan Ji Hye tadi, dia terus memandangku dengan raut wajah penasarannya. Dia memang selalu seperti itu.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanyaku padanya, tanpa mengalihkan perhatianku dari berkas-berkas ini.

“Tidak. Aku hanya heran saja, kenapa tadi kau melamun? Kau tahu, aku sudah puluhan kali memanggilmu, tapi kau tak menyahut sama sekali. Apa yang mengganggu pikiranmu?” Dia senang sekali bicara tanpa jeda seperti itu.

“Tidak ada. Hanya masalah kecil. Kau tak perlu khawatir.”

Sebenarnya aku ragu ini bisa dibilang kecil atau tidak. Bayangkan, aku membiarkan gadis bodoh itu terus mengganggu pikiranku sejak.. Entahlah, aku juga tak tahu sejak kapan. Yang jelas benar-benar mengganggu. Tapi, kalau ada perasaan senang saat aku membayangkan wajahnya, apa itu bisa disebut mengganggu? Suara Ji Hye selanjutnya kembali membuyarkan lamunanku tentang gadis itu.

“Ngomong-ngomong, apa perusahaan ini masih membuka lowongan pekerjaan?” Ji Hye bertanya dengan hati-hati.

Untuk apa dia menanyakan lowongan pekerjaan? Apa ada kerabatnya yang ingin bekerja di sini?

Dia melanjutkan kata-katanya “Temanku sedang membutuhkan pekerjaan. Dia sudah mencari ke mana-mana, tapi ya kau tahu kan Seoul itu kota besar. Sangat sulit mencari pekerjaan di kota ini, apalagi dengan hanya mengandalkan ijazah SMA, dan—“

“Mwo?” Aku kaget dengan kata-kata Ji Hye yang terakhir tadi. Apa dia bilang? Lulusan SMA?

“Apa kau bercanda? Mana mungkin aku akan memekerjakan orang yang hanya lulusan SMA, Park Ji Hye.” Ujarku  kesal padanya.

“Ya, aku tahu itu. Tapi pasti ada pekerjaan yang cocok untuknya di tempat ini. Cleaning service mungkin, atau office girl.” Dia tidak menyerah.

“Jadi temanmu itu perempuan?”

Ji Hye mengangguk. “Ya, dia sahabat baikku. Aku sangat tahu dia. Dia orang yang bisa diandalkan, tekun, tidak mudah menyerah, dan yang paling penting dia selalu bersemangat dalam bekerja. Dia tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan apapun yang dilakukannya. Kau pasti akan menyukainya, Kyuhyun. Jadi, bisakah kau menerimanya?” Jelasnya. Menunggu jawaban dariku.

“Baiklah, akan kupertimbangkan. Suruh dia datang ke sini besok. Aku ingin lihat seperti apa orangnya. Aku tidak bisa menerima seseorang begitu saja tanpa menilai mereka terlebih dahulu.” Kataku akhirnya.

Dan seketika senyum lebar diperlihatkannya padaku.

“Oke. Besok akan aku bawa dia ke sini. Dia pasti tidak akan mengecewakanmu, Kyuhyun-ah. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ingin mengabarkannya mengenai ini.”

Setelah berkata begitu, Ji Hye pun berlalu dari hadapanku. Dan setelah ruangan ini sepi, lagi-lagi pikiranku kembali pada gadis itu. Sial. Aku benar-benar tidak bisa fokus pada pekerjaanku. Sepertinya berjalan-jalan sebentar di luar bisa menyegarkan kembali pikiranku. Aku lalu beranjak dari kursiku. Memakai kembali jasku, dan berjalan menuju pintu keluar. Setelah mengatakan kepada Ji Hye, aku segera menuju basement. Mengambil mobilku yang terparkir di sana.

***

 

Matahari bersinar cerah hari ini dengan langit biru berawan. Setelah melewati jalanan yang sedikit padat, akhirnya aku sampai di daerah Myeongdong. Aku ingin membeli segelas coffee latte terlebih dahulu, baru berjalan-jalan sebentar di sekitar daerah ini. Myeongdong memang terkenal dengan puluhan coffee shop yang berjejer di sepanjang jalannya. Hampir tiap tiga ratus meter, kita bisa menemukan coffee shop. Di Seoul, coffee shop memang sudah sangat menjamur. Orang Korea gemar meminum kopi meski Korea bukanlah negara penghasil kopi. Hampir tiap hari kami meminum secangkir kopi. Import kopi di Korea selalu bertambah tiap tahunnya. Saat ini saja, Korea telah menjadi salah satu dari sepuluh negara pengonsumsi kopi terbesar di dunia.

Aku berjalan ke salah satu coffee shop di sana. Seperti biasa. Setiap kali aku berjalan di tempat umum, wanita-wanita yang berada di sekitarku akan langsung menatapku dengan pandangan terkagum-kagum. Ya, aku tahu. Memang tidak ada wanita yang bisa menolak pesonaku ini, selain gadis bodoh itu tentunya. Aku heran, kenapa dia sama sekali tak terpesona dengan ketampananku. Kuakui dia memang aneh, tapi apa dia seaneh itu sampai-sampai tak bisa merasakan pesona yang ada dalam diriku? Ck. Gadis itu terus saja mengusik pikiranku.

Setelah sampai di dalam, aku langsung memesan segelas coffee latte. Dan setelah menunggu beberapa lama, aku berniat untuk keluar dari coffee shop itu. Namun suara ribut di depan pintu keluar menghentikan langkahku. Aku juga melihat dua orang di depan sana sedang beradu mulut. Ah, bukan. Tepatnya seorang wanita sedang dimaki-maki oleh seorang pria botak yang mengenakan pakaian rapi. Aku dapat mendengar dengan jelas makian yang ditunjukkan pria botak itu terhadap wanita di depannya. Sepertinya kepala botak sedang trend di kota ini. Dua hari yang lalu aku dikejar-kejar pria botak, lalu sehari setelahnya aku bertemu klien yang juga berkepala botak, dan sekarang aku harus kembali melihat seorang pria berkepala botak. Ckck.

Aku mengalihkan perhatianku ke arah wanita yang sedang dimaki itu. Pakaian wanita itu terlihat lusuh dan tak layak pakai menurutku. Wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas karena sedikit terhalang oleh pria botak itu. Heran, ternyata masih ada wanita yang memakai pakaian begitu selain gadis bodoh itu. Si botak  terus saja mengeluarkan makiannya pada wanita yang sekarang bisa kulihat lebih jelas wajahnya karena laki-laki itu sedikit menggeser tubuhnya dan oh.. Ternyata aku salah. Wanita itu bukan wanita lain yang memakai baju lusuh seperti gadis bodoh itu, tapi itu memang dia. Gadis bodoh bernama Kim So Eun.

Apa yang dilakukannya di tempat ini? Dan kenapa dia diam saja dimaki-maki? Bukannya melawan, dia malah memohon-mohon pada laki-laki botak itu. Dan sekarang dia sudah jatuh tersungkur ke tanah karena di dorong oleh si botak. Karena tak tahan melihatnya, aku langsung berjalan mendekati mereka berniat menolong gadis itu. Kopi yang tadi kubeli kutaruh sembarang di salah satu meja.

***

 

Kim So Eun POV

 

Aku tahu ini memalukan. Memohon-mohon demi sebuah pekerjaan di depan orang banyak. Semua mata melihatku, mulai dari yang kebetulan lewat di jalan sampai yang berada di dalam coffee shop ini. Ini benar-benar memalukan, tapi aku sudah tidak punya cara lain lagi supaya aku bisa diterima bekerja di sini.

Aku sudah berkeliling ke setiap tempat di kota ini selama dua hari terakhir. Namun semuanya sia-sia. Tak ada satu pun tempat yang mau menerimaku. Aku juga sudah mengelilingi daerah ini sejak pagi. Ini adalah coffee shop yang terakhir yang kudatangi. Tadinya aku berharap akan diterima di sini, tapi ternyata tidak. Aku pun berusaha membujuk manager coffee shop ini supaya mau menerimaku. Tapi yang ada malah aku dipaksa keluar oleh manager botak itu. Aku diseret hingga ke depan pintu keluar. Sangat malu rasanya. Tapi mau bagaimana lagi? Sepertinya kali ini aku harus menyimpan dulu rasa maluku itu. Yang terpenting sekarang aku bisa mendapat pekerjaan.

Setiap kata yang dikeluarkan oleh manager botak itu adalah hinaan dan makian yang ditujukan untukku. Tapi aku berusaha untuk tidak mendengarkannya dan berusaha menahan emosiku. Aku terus memohon padanya supaya dia mau menerimaku. Tapi pria botak itu benar-benar tak memiliki belas kasihan padaku. Padahal aku sudah memasang wajah memelasku agar dia luluh dan kasihan, lalu mau menerimaku. Tapi tak mempan sama sekali. Apa setiap pria botak seperti itu? Sangar, mudah marah, dan tidak memiliki belas kasihan seperti pria botak di depanku ini dan yang kemarin mengejarku bersama Kyuhyun. Karena sudah kehilangan kesabaran menghadapiku, manager botak itu akhirnya mendorongku hingga aku tersungkur di tanah. Aawww.. Pantatku rasanya sakit sekali.

Aku berusaha berdiri, meski kakiku rasanya sedikit sakit karena tadi saat didorong olehnya, kakiku sedikit terpeleset . Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan memegang lenganku dan membantuku untuk berdiri kembali. Kudongakkan kepalaku untuk melihat orang yang telah membantuku itu dan betapa terkejutnya aku mengetahui siapa orangnya. Ya Tuhan.. Kenapa aku harus bertemu dengannya dalam kondisi seperti ini sih? Memalukan.

Kulihat wajah tampannya setelah aku berhasil berdiri. Dia menatapku dengan sangat intens. Tatapannya lembut. Ada rasa kasihan yang kulihat dari matanya. Apakah dia merasa kasihan padaku?

Pandangannya kini beralih pada manager botak itu, dan seketika itu tatapan lembutnya tadi berubah menjadi tatapan tajam dan dingin. Seperti marah pada laki-laki botak itu. Tapi kenapa dia marah? Apa dia marah karena melihatku dibentak olehnya? Bukankah itu artinya dia telah melihatku sejak tadi? Dia melihatku dihina oleh laki-laki botak ini? Aissshh benar-benar memalukan.

“Tuan, apakah kau tidak tahu bagaimana caranya bersikap pada seorang wanita dengan baik?” Kyuhyun bertanya pada manager botak itu dengan nada yang terdengar marah.

Cih, memang dia pikir dirinya sudah bisa memperlakukan wanita dengan baik? Seingatku dia tidak pernah bersikap baik padaku.

“Maaf, Tuan. Tapi wanita ini benar-benar tidak tahu diri. Sudah jelas-jelas kami tidak sedang membutuhkan karyawan, tapi dia tetap memaksa untuk bisa diterima di tempat ini.” Manager itu berusaha menjelaskan pada Kyuhyun. Kuakui memang kenyataannya seperti itu, tapi hei… Aku tidak terima dia mengataiku tidak tahu diri!

“Aku tidak perduli dengan alasanmu, Tuan. Kalau kau memang manager yang baik, kau tidak akan pernah memperlakukan orang lain yang ingin bekerja di tempatmu seperti ini. Pantas saja semua karyawan-karyawanmu kurus dan berwajah pucat seperti orang sakit begitu, karena managernya sendiri memang tak becus mengurus anak buahnya.”

Aku tertegun dengan apa yang dikatakan laki-laki sombong ini. Berani-beraninya dia menghina manager botak itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau begini ceritanya, yang ada pria botak itu akan semakin enggan untuk mau menerimaku bekerja di sini. Tidak bisa. Aku harus segera membungkam mulut berbisa laki-laki ini. Kulirik manager itu dari sudut mataku dan dapat kulihat jelas kalau saat ini dia semakin marah. Wajahnya memerah menahan amarah sekaligus malu karena kedoknya diketahui oleh Kyuhyun. Aku mengakui kehebatan laki-laki sombong ini dalam membaca sifat seseorang hanya dengan melihat keadaan lingkungannya. Jujur, aku sendiri sulit menjabarkan tentang sifatku sendiri. Tapi laki-laki ini benar-benar luar biasa.

Kulihat Kyuhyun dan manager botak itu terus berpandangan dengan tajam. Aku sendiri hanya bisa diam melihat aura menyeramkan yang mereka timbulkan di tempat ini. Aku ingin menyanggah ucapan Kyuhyun tadi tapi melihat situasi yang seperti ini, nyaliku menciut seprti balon kempes. Aku diam saja, sampai tiba-tiba tangan besar milik Kyuhyun menyambar tanganku dan menariknya menjauh dari tempat itu. Dia terus menarikku dengan kasar. Langkahnya yang besar membuatku kesusahan untuk menyeimbangi langkahnya.  Ditambah dengan kondisi kakiku yang masih sakit akibat terjatuh tadi.

“Yaa, bisakah kau tidak menarikku seperti ini?” Aku berkata kesal padanya.

Dia sama sekali tak menghiraukan perkataanku. Setelah sampai di depan sebuah kursi panjang, dia menyuruhku untuk duduk di sana.

“Duduklah” perintahnya.

Aku pun duduk di kursi itu. Tapi dia malah terus berdiri di depanku dengan terus memandangku, membuatku risih saja dipandang terus begini. Kulihat dia menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya berbicara.

“Apa kau begitu bodoh sampai membiarkan laki-laki botak itu menghinamu di tempat umum?” Teriakkannya benar-benar memekakkan telinga.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak punya pilihan lain selain itu.” Tanpa sadar aku membalas teriakannya tak kalah keras. Emosiku naik begitu dia mengataiku bodoh. Dadaku naik turun karena terlalu emosi. Aku lalu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya. Semoga bisa sedikit meredakan emosiku.

“Aku harus bisa mendapatkan pekerjaan. Dua hari ini aku sudah mencari ke mana-mana dan tak ada satupun yang mau menerimaku. Tempat tadi adalah harapanku satu-satunya. Tapi kau malah datang berlagak sok pahlawan dan mengacaukan semuanya. Usahaku jadi sia-sia karenamu.” Aku berkata lebih lembut padanya, namun tetap dengan wajah kesal.

Dia terdiam. Wajahnya seperti menyesali apa yang sudah dilakukannya tadi. Hah, menyesal? Apa aku tak salah lihat sekarang?

“Maaf. Tadi aku hanya tak tahan melihatmu diperlakukan seperti itu.” Kali ini dia berkata pelan padaku, tanpa ada teriakan seperti biasanya. Seingatku, baru kali ini aku mendengarnya mengucapkan kata maaf dan berbicara lembut padaku. Apa dia sungguh-sungguh minta maaf? Eiii, aku tidak boleh termakan omongannya.

“Kau pikir permintaan maafmu itu bisa membuatku diterima bekerja di tempat itu?” Kataku masih kesal.

“Yaa.. Apa kau masih tetap berniat bekerja di tempat itu setelah apa yang kukatakan tadi pada pria botak itu? Apa kau tak lihat karyawannya yang kurus kerempeng? Kau mau membuat tubuhmu yang sudah kurus itu tambah kurus lagi? Ckck. Otakmu kau taruh di mana sih?” Bentaknya.

Aku terbelalak mendengar bentakannya. Omo, sikap baiknya tadi hanya bertahan beberapa detik saja, dan sekarang dia sudah kembali ke wajah aslinya. Dia ini benar-benar. Seketika emosiku naik lagi.

“Terus kalau kau melarangku bekerja di sana, lalu aku harus mencari di mana lagi?” Aku juga membalasnya dengan teriakan. Membuat semua mata memandang ke arah kami. Aku tak perduli. Mereka mungkin berpikir sedang melihat sepasang kekasih sedang bertengkar. Atau mungkin tidak. Melihat perbedaan mencolok di antara kami dalam hal penampilan. Dia mengenakan setelan jas rapi, sedangkan aku lagi-lagi dengan pakain lusuhku. Kami lebih pantas disebut sang majikan dengan pembantunya dibanding sepasang kekasih. Menyedihkan memang.

Dia lalu menjawab pertanyaanku tadi dengan jawaban yang membuatku kaget.

“Kalau kau mau, aku bisa memasukkanmu ke perusahaanku.” Jawabnya dengan sedikit kikuk.

Memasukkanku ke perusahaannya? Apa itu artinya dia ingin memasukkanku ke perusahaan tempat Ji Hye bekerja? Karena setahuku, dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Ji Hye. Apa dia serius dengan ucapannya tadi? Atau jangan-jangan dia punya maksud lain padaku. Mungkin saja dia ini adalah salah satu anggota sindikat perdagangan manusia, yang menjual banyak orang ke luar negeri untuk menjadi budak bahkan pekerja seks komersial. Oh tidak. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding. Aku tidak ingin percaya begitu saja pada laki-laki ini. Apalagi tadi aku sempat termakan kata-kata maafnya.

“Cih, kau pikir kau bisa membodohiku? Dengar ya, Cho Kyuhyun. Aku memang sangat membutuhkan pekerjaan, tapi bukan berarti aku mau sembarangan menerima pekerjaan apalagi menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Aku tidak akan pernah mau bekerja di perusahaanmu itu. Arasseo?!”

Aku berdiri setelah membentaknya. Berjalan dengan sedikit pincang meninggalkan laki-laki itu yang ternganga di tempatnya. Hah, dia pasti heran bagaimana aku bisa tahu akal bulusnya itu. Aku memang seorang anak desa, tapi jangan berpikir kalau aku akan mudah dibodohi seperti itu. Dia pikir aku tidak pernah mengikuti perkembangan berita di Korea apa? Sekarang ini sedang marak sekali perdagangan manusia. Banyak gadis belia yang dijadikan pekerja seks, pemuas laki-laki hidung belang. Padahal usia mereka masih di bawah umur. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku kalau bekerja seperti itu.

Sebaiknya aku meneruskan mencari pekerjaan besok saja. Kakiku masih terasa sakit. Aku ingin segera pulang setelah seharian ini mencoba ke berbagai tempat. Walaupun belum ada hasil, aku tak boleh putus asa. Aku harus terus mencari sampai dapat. So Eun-ah.. Fightiiiinggg!!

***

 

Cho Kyuhyun POV

 

Aku menghempaskan tubuhku pada kursi kerja di ruanganku. Benar-benar hari yang menyebalkan. Kau benar-benar telah mengacaukan hariku, Kim So Eun. Pertama, dia terus saja mengusik pikiranku dengan wajahnya itu. Kedua, dia malah membentakku saat kutolong, bukannya malah berterima kasih. Dan yang ketiga, dia menuduhku yang tidak-tidak. Oh Tuhan.. Otaknya benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa dia berpikir kalau aku ingin menjualnya pada laki-laki hidung belang? Dia pikir aku punya sindikat perdagangan manusia apa? Hei, aku ini Cho Kyuhyun. Putra dari seorang konglomerat di negeri ini. Aku seorang direktur Star Group, bukan bos mafia! Enak saja dia menuduhku begitu. Otak gadis itu benar-benar sudah rusak.

Aku melonggarkan ikatan dasi di leherku yang terasa mencekik. Mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan sedikit keras. Huuufftt. Aku kemudian memejamkan mataku.  Bersandar di sandaran kursi. Berusaha menenangkan emosi yang sedang membuncah. Kim So Eun, kau sudah membuatku gila dengan tingkah konyolmu itu.

 

***

Kim So Eun POV

Aku sampai di rumah setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan. Aku  segera duduk di sofa dan menyelonjorkan kaki. Hari ini benar-benar melelahkan dan sial tentunya. Sial karena tidak mendapatkan pekerjaan. Sial karena harus kembali dibentak oleh seorang pria botak. Dan lebih sial lagi karena harus bertemu dengan laki-laki bernama Cho Kyuhyun. Mengingat kejadian tadi membuat kepalaku kembali berdenyut nyeri.

Baru saja aku hendak memejamkan mataku, tiba-tiba kudengar telepon rumah berdering. Mengagetkan saja. Aku lantas berdiri dan berjalan menuju telepon yang terus berdering itu. Mengangkatnya dan menyapa seseorang yang ada di seberang sana.

“Yeoboseyo..” Sapaku ramah.

“YAA. Kenapa kau baru mengangkat teleponku sekarang? Kau tahu, aku sudah menelponmu sejak tadi! Kau dari mana saja sih??” Aku langsung saja menjauhkan gagang telepon itu dari telingaku. Mendengar teriakan Ji Hye dari jarak jauh saja sudah membuat telingaku sakit, apalagi dari telepon seperti ini. Benar-benar memekakkan telinga. Ck, apa dia tidak takut pita suaranya akan putus? Kalau dipikir-pikir, Ji Hye mirip sekali dengan laki-laki itu. Sama-sama suka berteriak padaku. Aissshh.. Menyebalkan.

“Bisakah kau tidak berteriak padaku? Kupingku sakit mendengar teriakanmu itu.” Balasku.

“Itu salahmu sendiri, tidak segera mengangkat telepon dariku. Kau kemana saja memang?” Tanyanya kali ini dengan suara yang sudah normal kembali.

“Aku baru saja pulang dari mencari pekerjaan. Dua hari ini aku berkeliling ke banyak tempat, tapi tak ada satupun yang mau menerimaku..” Jawabku dengan sedih.

“Syukurlah kalau begitu” bBalasnya enteng.

“Mwo? Apa kau bilang? Ya, Ji Hye-ya. Kau tega sekali berkata seperti itu padaku. Teman macam apa kau ini. Bukannya membantu malah mengejekku.” Ucapku sebal. Kenapa Ji Hye malah mengejekku sih?

“Justru karena aku mau membantumu So Eun-ah, makanya aku berkata seperti itu.”

Aku sama sekali tak mengerti dengan yang Ji Hye katakan.

“Apa maksudnya sih?” Tanyaku bingung.

“Begini. Jadi tadi aku sudah menanyakan pada bosku itu apakah dia bisa memberikan lowongan pekerjaan padamu atau tidak. Jujur saja, aku sedikit khawatir saat menanyakan hal ini tadi padanya. Tapi untunglah dia tidak marah, dan mau mempertimbangkanmu terlebih dahulu. Dia memang sangat selektif dalam memilih karyawannya, meski posisi mereka hanya sebagai office girl atau pun cleaning service. Jadi kau siap-siap saja besok pagi datang ke sini. Arasseo?”

Oh Tuhan… Apa aku tak salah dengar tadi? Ji Hye bilang kalau bosnya mau mempertimbangkanku untuk bekerja di perusahaannya? Waaahhh..

“Ya, So Eun-ah. Kau mendengarku? So Eun? Kim So Eun….”

“Gomawo, Ji Hye-ya. Jincha Gomawo. Aku benar-benar senang mendengarnya, Ji Hye-ya. Kau benar-benar sahabat baikku..” Kataku dengan penuh rasa haru. Ji Hye memang benar-benar sahabat terbaikku. Aku tersenyum lebar mendengar perkataan Ji Hye. Sungguh ini seperti obat bagi rasa lelahku selama dua hari ini.

“Kkkk.. Gwenchana, So Eun-ah. Kau sahabatku, jadi mana mungkin aku tak membantumu. Kalau begitu jangan lupa untuk datang besok pagi ke sini dengan rapi tentunya. Jangan pakai baju jelekmu itu. Kalau kau memang tak memiliki baju bagus, kau bisa meminjamnya padaku.”

“Heiizzz. Kau pikir aku semiskin apa sampai baju layak pakai pun tak punya? Kau tenang saja, aku punya beberapa baju  bagus yang biasanya hanya kupakai kalau ada acara besar saja. Jadi kau tak perlu meminjamiku baju.” Kataku padanya.

“Baguslah kalau begitu. Besok kau harus datang tepat waktu, tak boleh terlambat. Ini kesempatanmu untuk mendapat pekerjaan, So Eun-ah. Aku tutup dulu teleponnya ya. Aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu. Jangan lupa datang tepat waktu.”

“Ne…” Jawabku.

Baru saja aku ingin mengucapkan terima kasih lagi padanya, dia sudah mematikan sambungannya. Hah, dasar. Tapi aku senang. Berkat dia aku bisa punya kesempatan bekerja di perusahaannya. Aku tak masalah kalau hanya menjadi tukang bersih-bersih di perusahaan itu. Yang penting aku punya pekerjaan dan bisa meringankan beban ibu. Aku terus menyunggingkan senyum di bibirku. Tak sabar menanti hari esok. Semoga semua berjalan dengan lancar dan bosnya Ji Hye mau menerimaku di sana.

 

***

Kulangkahkan kakiku menuju gedung besar yang ada di depanku saat ini. Semakin mendekat ke arah pintu utama dari perusahaan tempat aku akan bekerja sebentar lagi. Hahaha. Percaya diri sekali aku. Tak apalah. Suasana hatiku sedang baik saat ini.

Tapi entah kenapa, saat aku menginjakkan kakiku lagi di pintu masuk itu, rasa takut tiba-tiba menyerangku. Bagaimana kalau petugas security itu akan mengusirku lagi seperti tempo hari. Bagaimana kalau tiba-tiba aku bertemu dengan Kyuhyun lagi di sini dan dia akan meyuruh security untuk mengusirku lagi seperti waktu itu. Dan yang paling aku takutkan adalah, bagaimana kalau bosnya Ji Hye ternyata tidak mau menerimaku bekerja di sini. Oh tidak.. Jantungku berdegup sangat kencang saat ini. Aku gugup sekaligus takut. Takut akan semua kemungkinan yang akan terjadi.

 

 

Ternyata tak seperti dugaanku. Dua security yang dulu mengusirku justru menyuruhku untuk langsung menuju ruangan direktur mereka. Mereka bilang kalau Ji Hye berpesan agar langsung menyuruhku ke atas begitu aku datang. Syukurlah. Sepertinya Ji Hye sudah mengantisipasi agar kejadian beberapa hari yang lalu tak terulang kembali.

Aku kemudian segera naik ke lantai sembilan gedung ini. Tempat di mana ruangan direktur berada. Selama di dalam lift, aku terus mengatur nafas agar mengurangi rasa gugupku. Dan ternyata itu cukup berhasil. Rasa gugup dan takutku sedikit berkurang. Baiklah, Kim So Eun. Semangaaaattt… Kau pasti bisa! Hatiku seperti memberi semangat dari dalam.

Setelah sampai di lantai sembilan, aku sedikit menoleh kesana-kemari. Mencari ruangan yang ditunjukkan oleh dua security tadi, dan akhirnya aku menemukannya. Itu dia, di sana. Aku dapat melihat Ji Hye di sana sedang duduk di depan mejanya sambil mengerjakan sesuatu. Aku sedikit berlari ke arahnya, dan segera menyapanya begitu aku sudah berada di depannya.

“Ji Hye-ya..” Sapaku padanya. Dia mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang dibacanya lalu tersenyum mengetahui aku sudah datang.

“So Eun-ah. Akhirnya kau datang juga. Kupikir kau akan terlambat tadi.” Katanya masih dengan tersenyum.

“Kau pikir aku orang yang suka terlambat begitu?” Tanyaku bergurau.

“Hahaha.. Aniya, So Eun-ah. Baiklah kalau begitu, ayo kita ke ruangan direktur.” Ji Hye berkata sembari berdiri dari duduknya. Dia lalu membawaku menuju sebuah ruangan yang ada di tempat itu. Ji Hye membuka pintunya dan menyuruhku masuk ke dalam. Hatiku sudah berdebar-debar sejak tadi. Kupikir setelah masuk ke dalam ruangan itu, aku akan segera berhadapan dengan direktur perusahaan ini yang Ji Hye bilang sangat tampan itu. Tapi aku tak melihatnya sama sekali. Di mana orangnya?

“Cho sajangnim sedang keluar sebentar. Sebentar lagi dia akan segera kembali. Kau tunggu saja di sofa itu. ingat, kau tak boleh menyentuh barang apapun. Dia sangat tidak suka barang-barangnya disentuh oleh orang lain. Mengerti?” kata Ji Hye tegas.

“Arasseo… kau tak perlu khawatir. Aku tak akan menyentuh apapun. Kalau perlu aku hanya akan duduk di sana saja. Tidak akan beralih sejengkal pun.” Kataku meyakinkannya.

“Bagus. Kau tunggu saja di sini. Aku harus kembali bekerja karena dokumen yang harus kukerjakan hari ini banyak sekali.”

“Ne.. sana, pergilah. Selesaikan pekerjaanmu.” Ujarku.

 

Setelah Ji Hye berlalu dari hadapanku, aku menutup pintu itu dan segera berjalan ke arah sofa yang ditunjuk Ji Hye tadi.

Ruangan ini benar-benar luas. Kuedarkan pandanganku ke semua penjuru. Semuanya tertata dengan sangat rapi. Cat tembok ruangan ini didominasi oleh warna coklat. Hanya bagian flafon serta keramik saja yang berwarna putih. Sofa yang kududuki ini sendiri berwarna hitam dengan sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang. Di sisi kiri ruangan ini dihiasi dengan berbagai hiasan cantik, seperti dua guci yang berwarna emas serta miniatur-miniatur dengan berbagai bentuk. Sementara di sisi kanan ruangan terdapat sebuah rak buku besar  yang juga berwarna coklat, berisi puluhan bahkan ratusan buku yang tersusun rapi di sana.  Di belakang meja direktur juga dipajang dua buah lukisan di dindingnya, serta jam dinding bulat dengan warnah putih di bagian tepi dan coklat di bagian dalamnya. Sungguh perpaduan warna yang sangat harmonis. Direktur itu sepertinya sangat memperhatikan keindahan ruangannya. Benar-benar sempurna.

‘Klek’

Aku spontan menolehkan wajahku ke arah pintu ketika mendengar suara pintu terbuka dan seketika aku membulatkan mataku melihat siapa yang baru saja masuk ke ruangan ini. Dia…

“Kau..”

“Kau..”

 

TBC

 

 

 

28 pemikiran pada “Loving You (Part 3/?)

  1. Daebak . .
    Next part yah

  2. Nah Lho !!

    O.o

    Next~

  3. Yeaaaahhhh,akhirnya ff yg ku tunggu2 comeback jg (y) dow TBC nya bikin greget ..kauu…kauu…..apakah yg akan terjadi selanjutnyaa…..
    Udeh g sabar pengen liat hr2 soeun d perusahan kyu…ckckk bakalan akur or nambah jd berantemnya ckkck (y)
    Aaaaaa ……..sukaaaaaa….perfect (y)

    Orng berkepala botak bikin gelii… KyuSso udh tersengat listrik semenjak kejadian icecream ntuh❤
    Apa jdnya tuh klo seorang direktur pacran sm office girl or cleaning service ….ckkckk cetaaaarr (y) xixixi
    Lanjuuuuuuut ~
    Jgn lama2 saeng :*

  4. Huaaaa….chingu sayyy kerennnn daebakkkk… Sumpah ni q samapi ngakak tengah malam gara2 ff ini…pa lagi krtika kyu bilang lagi tren kepala botakkkk
    aigoo sso lucu skali pikirannya benar2 sempit..selalu menuduh kyuppa yg tidak2…..
    Makinnn seru …ga sabarrrr next partnya….semangat trs chinguu….fightingggg

  5. Huaa…..klo yg pas bagian ngomongin orang botak jadi ngakak sendiri kkkkk XD….
    Lucu deh liat kekonyolan yg kyusso lakuin hihihihihi…..
    Nah loh sso eonni, ketemu lagi sama bang epil😀
    di tunggu next partnya…..
    Fighting!!!!

  6. Wahhhh,,,makin seru cerita y,,,🙂
    Cieee,,, yg lagi pada jatuh cinta tp kgk mau menyatakan perasaan y satu sm yg laen y #nunjuk kyusso🙂
    Suka wkt kyu menyeret sso yg kena omel sm slh st menejer coffe shop,tp ujung” y slalu berantem -.-”
    Jjiiaahhh,,,akhir y sso krj juga diperusahan kyu,tp bkl diterima kgk y sm kyu atawa sso bkl pergi krn yg jd bos y orang yg srng ribut sm dia🙂
    Penasaran akan next part y!!!

  7. makin seru nich critanya.
    Lanjut trs thor. .

  8. hhwwaaa hhaha lanjut onn pengliat apa ada debat lagi gc jngan lama2 🙂

  9. Ckckkck……part Ĭηĭ bener2 di buat tertawa aza dari line pertama mpe akhir….😀

    Ciiieee…. KyuSso_udah ªԃª getaran2 nihM… Ahahhahhah

    “Cih, kau pikir kau bisa membodohiku? Dengar ya, Cho Kyuhyun. Aku memang sangat membutuhkan pekerjaan, tapi bukan berarti aku mau sembarangan menerima pekerjaan apalagi menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang. Aku tidak akan pernah mau bekerja di perusahaanmu itu. Arasseo?!”
    Ckckkckkc…. Sumpah itu Sso LoL bangettt dehh…. Pastiii muka kyu udah zoom-in_zoom-out tuh…. Kkkkkkkk

    Nahlhoooooo….. Itu TBC ηγά̲̣̥ bikinnn gregetannnn dehh…..
    Penasaran ηγά̲̣̥ Ъќ nyantaiii nih….🙂

    Nextttt parttttnya berharap gk lama…. Ekekkekek ^_^

  10. knp pas ketm ko mlh selesai crtnya
    kurang pjg tp keren kok
    yg cpt ya unt part seljtnyao_O

  11. tambah seru ceritanya, kasian sso dicaci maki sama bapak kepala botak ._.
    penasaran banget sama kelanjutannya, next ya😉

  12. Wuhh, saya belum baca chap 1 & 2 nya, hehe
    Cepet updet ya dan panjangin next chap🙂

  13. bener2 perfec keren bgt , sumpah nih cerita pas skali di otakku ,dan q sampai deq2an pas bacanya ,q bayangkn bila ini cerita drama korea pasti keren bgt .pokoknya makin cinta sm kyusso ,pesona kyusso emg tak terkalahkn . dan author yg buat nih cerita 2 jempol utk kamu ….thor please jangn lama2 ya next partnya ,biar q tdk kereing krn penasarn .
    good joob

  14. ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
    1 2 3………
    Huwaa…!!! ®author kaget
    Kereeen…..
    Seruuu….
    Lucuuu….
    Sukaaa banget….
    Jiahaha…!!
    Ada yang kesetrum,tuh..! *kkkk~untung gak pingsan di tempat😉
    Aigoo…!
    Pria botak merajalela di Seoul…?!
    Wahaha…!!!
    Mana sangar-sangar lagi…*-,-hiiy takut…
    Eng Ing Eng…!!! ®muncul suara aneh
    Cinderella yang lagi dimarahi Buto Ijo ditolongin Pangeran Diponegoro…! *Yeay..!! #plak! tokohnya gak ada yang nyambung!
    Bwahaha…!!!
    So Eun eonni hebat banget bisa mikir sampe sana..! *wkwkwk!
    Abang evil jadi bengong langsung….*kkkk~
    Hayo…!!
    Gimana tuh,dua-duanya ketemu…??
    Waduh!
    Bakalan runyam urusannya…!
    Semangat terus,ya author…!!
    Pai Pai~
    ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

  15. Kocak bnr nie psngan,,sso jgn negativ mlulu donk ma kyu,,psti dikerjain n kena bully nie ma kyu thu sso msuk keprusahaan-ny hahaha,,ga kebayang interaksi kyusso slnjt-ny,,dtggu sgra lnjt-ny gomawo🙂

  16. Yeaay akhir.y part 3.y d.lanjut…..
    Inii ff favoritQ….
    Suka banget sma jalan cerita.y ….

    Ngakak terus wak2 liat kyuppa dan sso bertengkar mulu,, apalg wak2 tdi kyu ngungkapin tntang orang brkepala botak yg sudah dua kali d.temui .. Hahahah,,
    d.tmbah lg wak2 dy ngehina karyawan.y yg kurus krmpeng… Sumpah lucuh banget.. ;D
    Aku suka bnget Kyusso d.snii,, apalg kyu dan sso kyak.y udah sling suka tuhh…
    Pnasaran apa reaksi sso lw tau kyuhyun itu adalah seorang bos?pasti dy sock,atau mgkin dy gak akan percaya lw kyuppa pemilik prusahaan…
    Huaah aku sangat pnasaran sma kelanjtan.y… Jangn lama2 yah ngepost.x.. Heheh… Tetap semangat…😀

  17. . next next next next !!!! penasaran >.< . dtunggu part selanjutnya oke😉 . FIGHTINGG😀

  18. Lucu waktu kyuSso bertengkar dgn pria botak # snyum gaje

    bingung knapa Ibu Sso bersikap dingin pd nya ???

    Penasaran bagaimana reaksi mereka ber2 eon

    ditunggu part 4

  19. yeay akhirnya di lanjut juga, makin seru n penasaran, apalagi mereka ketemu lagi, hahahaha lucu klo merekas udah ketemu..
    Lanjutannya jangan lama2 yah

  20. Waaah nmbah seruuu ceritanya
    Lucu bgian soeun kena mrah pria botak terus ckck
    Dtnggu thor next partnya

  21. yahhhhh,,lagi seru malah TBC
    next donk next part

    ahaha..kyusso kalo ketemu mesti ada aja masalah yg dihadapi,,hee

    nggak sabar nunggu reaksi mereka berdua
    next yahh

  22. Hua ,, saking lamanya di post hampir lupa ma jalan ceriitana😀

    Ni ff daebak thor, please postnya jgn lama2 #maksa

    Fighting thor !!!!

  23. Waaah eonnid crta nya mkn sru za cieee cieee bang kyu udh jth cintrong ya ma sso,, ap yg akn trjdi d part slnjtnya ? Penasaraaaaan bgt eon d tgu next partnya jgn lama” ya eon fighting😀

  24. Aish kyu udh mulai suka tuh sma so emm so polos bgd sih …hahhahah
    Ahhh lg seruuuuuu ehh tbc dtunggu next part`y ^^

  25. Aq bru bc ff x n sygx aq mulai bc part3 in, tpi hub. Kyusso sprtix mulai intes d part in ok dhe aq mw jg bc part 1 n 2.

  26. Wahh ,, trnyata smakin ksni makin sertu ajah crta’x🙂
    Hihhi~ KyuSso ,, KyuSso !! Tiada prtmuan tnpa prtngkaran tampak’x ..
    bt sbnr’x sempet ikut deg”an pas adegan Kyu bersihin sisa es krim di sekitar bibir’x Sso ..
    Ahh ,, KyuSso sama” suka saling memikirkan satu sama lain rupa’x .. Hha~
    Kalo gtuh lanjut ke part 3 ne .. Hwaiting !! ^^

  27. daebak.. bgus bnget chingu..
    penasaran bngetttt
    hwaiting

  28. pingin liat wajah terkejutnya kyu,lucu nggak ya?cerita seru kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s