Snow (Part 2/2)


Title     : Snow (Twoshoot)

Casts    : Kim So Eun, Yesung (Kim Jong Woon)

Genre  : Romance, Sad

Author : CloudStarMoon

Length : Twoshoot (2/2)

 

 

oke deh chingu. malam ini aku bawain kelanjutan Snownya. sebenernya masih pingin nunggu commentnya lbih byk lg, baru mau post. cuma aku mikir, kalo nunggu commentnya byk kesannya kayak aku ngepost cuma buat nyari comment doang.  aku gk mau kayak gitu. jd aku putuskan untuk post part 2-nya malam ini. beberapa waktu ini moodku rada jelek krn nyatanya lumayan byk yg brkunjung tp cuma dikit yg ninggalin jejak. gk papa. mungkin emang ada halangan pas mau ninggalin jejaknya. entah karena buka lwat hp, internet lelet, gk tau cara ninggalin pesan, gk ada wkt, dsb. gk papa. sy ngerti kok. kalian udah mau baca aja, sy udah seneng banget. yg penting readers seneng baca ceritaku. oh ya soal comment2 yang udah masuk, maaf banget ya aku gk bales comment2nya. bukan berarti aku gk baca. aku baca semua kok. dan itu buat aku senyum2 sendiri, wkwkwkwk.😄 seneng baca comment2 kalian. bikin aku semangat.🙂 o ya di part ini muncul 2 karakter yg gk aku sebutin namanya dr awal. sengaja, kkkkk😄

don’t forget to VOMMENT (vote and comment) yaaa…😀

 

 

 

Yesung mengambil  nafas panjang sekali lagi. Lalu mulai menceritakan apa yang selama ini mungkin menjadi tanda tanya besar bagi So Eun.

“Adikku, Kim Jong Jin.. Beberapa tahun yang lalu meninggal di tempat ini.

Sungguh menceritakan semua ini bagai menorehkan pisau ke hatinya sendiri. Tapi So Eun berhak tahu semua ini, entah karena apa. Tanpa terasa, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Begitu pun halnya dengan So Eun. Ia begitu terkejut dengan penuturan Yesung barusan.

Jadi, inikah yang membuatmu selalu ke tempat ini? Karena kenangan pahit di masa lalumu?

“Dia bunuh diri di tempat ini. Tepat di saat malam pertama turunnya salju tahun itu. Dia memilih untuk mengakhiri hidupnya di sini. Dan itu semua karena diriku.” Yesung mulai menitikkan air matanya di sana. Sementara So Eun hanya diam. Tak tahu harus melakukan apa.

“Kalau saja waktu itu aku tahu apa yang tengah dialaminya. Kalau saja aku peka dengan penderitaan yang dirasakannya saat itu. Ini semua tak akan pernah terjadi.” Hening. Yesung berhenti sejenak, lalu kembali meneruskan ceritanya.

“Sejak kecil, dia memang sudah menderita kelainan jantung. Jantungnya lemah. Dia tidak bisa melakukan pekerjaan berat. Bahkan untuk berolahraga pun dia tidak mampu. Sekali saja dia nekat melakukan itu. Dan hasilnya, dia harus diopname selama seminggu di rumah sakit. Karena itulah, sejak taman kanak-kanak hingga SMA, dia tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga. Aku dan kedua orang tuaku juga tidak mengizinkannya. Kami sudah memberitahu guru-gurunya mengenai hal ini. Tapi ternyata, dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Dia tidak ingin dikasihani oleh teman-temannya.” Air matanya kian membanjiri wajah tampannya itu.

“Sampai suatu hari, aku mendapat kabar dari rumah sakit bahwa kedua orang tuaku mengalami kecelakaan. Mobil mereka tergelincir ke jurang  karena jalanan yang licin  dan bersalju. Keduanya tak dapat diselamatkan karena luka yang serius di kepala mereka. Sejak itulah, aku merawat Jong Jin seorang diri. Berusaha memberikan kasih sayang kepadanya seperti yang kedua orang tuaku berikan. Menuruti segala keinginannya. Melewati hari-hari bersamanya. Waktu kami bersama menjadi lebih banyak setelah orang tua kami meninggal. Bermain game, membaca manga, menonton film, semuanya kami lakukan bersama. Itu membuat rasa sayangku padanya semakin besar. Dia juga tidak pernah menampakkan kesedihan di depanku. Dia selalu ceria, selalu tersenyum. Aku tak pernah melihatnya menangis, kecuali saat ayah dan ibu meninggal.”

Yesung masih ingat dengan jelas setiap hal yang mereka lakukan dulu. Tak ada yang luput dari ingatannya tentang kebersamaan dirinya dengan adik tercintanya itu. semua itu terbungkus dalam kotak memori yang akan selalu tersimpan rapi dalam ingatannya.

“Tapi ternyata aku salah besar. Senyum cerianya itu hanyalah kebohongan semata. Dia hanya tak mau membuatku khawatir dan sedih. Dia menutupi semua penderitaannya dariku melalui senyumnya. Dan bodohnya, aku sama sekali tidak pernah menyadari itu. Sampai akhirnya, aku mendapati tubuhnya sudah terbujur kaku di ruangan rumah sakit. Saat itulah, aku mengutuk kebodohanku sendiri. Aku merasa telah gagal menjadi seorang kakak. Aku tidak bisa melindunginya dari semua penderitaan yang dia rasakan. Aku benar-benar telah gagal..” Yesung kali ini benar-benar terisak. Sungguh menyakitkan sekali rasanya.

Tanpa babibu, So Eun langsung memeluk Yesung dengan erat. Wajahnya juga sudah basah oleh air mata. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya inilah yang terpikir olehnya. Memeluk Yesung dengan erat, menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menenangkan laki-laki itu dari isaknya.

“Sudah, sudah. Tak perlu dilanjutkan lagi.” So Eun benar-benar tak tahan mendengar tangisan laki-laki itu. Seolah rasa sakit laki-laki itu juga bisa dirasakannya.

Tapi Yesung tidak ingin berhenti. Tidak, sampai semua itu selesai diceritakannya pada So Eun.

“Dia menjadi bahan bullying di sekolahnya. Dan bodohnya lagi, aku tak tahu kalau dia sudah merasakan itu semua sejak taman kanak-kanak. Kondisi fisiknya yang lemah dan ketidakikutsertaannya dalam kegiatan olahraga di sekolah membuat teman-temannya terus menghinanya. Itu terus berlanjut hingga dia menginjak bangku SMA. Mungkin saat SMA itulah yang terparah. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya. Semua teman menghinanya karena tidak pernah mengikuti kegiatan sekolah. Saat teman-teman sekelasnya membersihkan ruang kelas mereka, dia justru pulang lebih dulu. Itu membuatnya dibenci oleh teman-temannya. Tapi dia tidak pernah berusaha untuk menjelaskan alasan dibalik semua itu kepada mereka. Dia hanya diam. Membiarkan semua caci-maki itu menjadi beban berat di hatinya. Menggerogoti hidupnya secara perlahan. Sampai akhirnya dia tak tahan dengan semua itu, dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di tempat ini. Dan bodohnya lagi, aku baru tahu semua itu dari surat terakhir yang ditinggalkannya sebelum ke tempat ini..”

So Eun mempererat pelukannya pada Yesung. Berusaha membagi kekuatannya pada pemuda itu. Yesung pun memeluknya dengan erat. Menyandarkan kepalanya di bahu So Eun. Mereka berpelukan di tempat itu. Saling berbagi kehangatan melalui pelukan, di tengah-tengah cuaca yang dingin ini. Air mata terus mengalir di pipi keduanya. Menumpahkan segala kesedihan yang menumpuk di hati mereka masing-masing.

***

 

 

Tak terasa, musim dingin akan segera berakhir. Salju yang menumpuk di setiap sudut kota, sudah mulai menipis. So Eun merasa musim dingin kali ini berjalan terlalu cepat. Mungkin karena banyak hal yang terjadi selama musim dingin ini, sehingga ia tidak menyadari kalau musim dingin akan segera berlalu.

So Eun tentu tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tinggal beberapa hari lagi ini. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu di penghujung musim dingin ini bersama Yesung. Dia merasa senang berada di sampingnya. Mengenalnya lebih dalam, mengetahui kehidupan laki-laki itu, sungguh sesuatu yang membuatnya bahagia.

Seperti hari ini, Yesung mengajak So Eun untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah Korea yang ada di kota ini. Yesung ingin menunjukkan pada So Eun bahwa dirinya memang benar seorang fotografer. Ya ampun.. tanpa dia melakukan semua ini pun, So Eun sudah percaya padanya. So Eun terkikik geli karena hal itu.

Yesung dan So Eun membuat janji di tempat biasa, tepi Sungai Han. Mereka menyepakati untuk bertemu jam sepuluh pagi ini. Tapi karena terlalu antusias,  So Eun sudah siap untuk berangkat satu jam sebelumnya. Sebelum keluar, tak lupa dia melihat kembali bayangan dirinya di cermin. Melihat kembali apakah semuanya sudah tepat. Dan ketika merasa begitu, dia lantas tersenyum lebar. Lalu berjalan menuju pintu depan. Ketika So Eun membuka pintu rumahnya, hal pertama yang dilakukannya adalah terdiam mematung di sana. Dia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seseorang yang tak pernah dibayangkannya akan hadir lagi di depannya, justru tengah berdiri saat ini tepat di depannya. Spontan So Eun memanggil seseorang itu.

“Oppa…”

So Eun berpikir ini semua hanya halusinasinya saja. Tapi ternyata tidak, karena saat ini So Eun merasakan seseorang itu memeluknya begitu erat. Orang yang So Eun kira sudah tak mau lagi bertemu dengannya. Tapi ternyata dia kembali. So Eun merasa sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi.

Namun tanpa disadari So Eun, seseorang tengah memperhatikan apa yang mereka lakukan di depan pintu rumahnya. Seseorang dengan mata kucingnya memperhatikan apa yang dilihatnya saat ini dengan tatapan tajam dan penuh emosi. Benarkah yang dilihatnya saat ini? So Eun berpelukan dengan laki-laki lain? Oh Tuhan, kenapa dadaku rasanya sakit sekali melihat semua ini. Yesung berkata dalam hatinya sembari memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak.  Tadinya dia berniat mengajak So Eun ke tempat yang dulu sering dia datangi bersama Jong Jin untuk berburu foto. Berkat So Eun, dia sudah mulai bisa menghapus rasa sakit akibat kenangan pahit itu. Tapi sepertinya So Eun sudah lupa dengan janji mereka.

Saat Yesung hendak berbalik dan pergi, barulah So Eun menyadari keberadaan laki-laki itu. Yesung yang mengetahui hal itu juga mengurungkan niatnya untuk berbalik. Sejenak mereka bertatapan satu sama lain. Tapi hal itu justru membuat emosi Yesung kembali naik. Pasalnya So Eun masih saja terus berpelukan dengan laki-laki itu. Tak berniat melepasnya meski tahu bahwa Yesung melihat semua itu.

Tak tahan melihatnya, Yesung pun memutuskan untuk meniggalkan tempat itu. semakin lama dirinya berada di sana, semakin sakit hatinya. Ia sadar, ia sudah mencintai gadis itu.  Dia tidak rela melihatnya bersama laki-laki lain. Walau Yesung tahu dia tidak memiliki hak apapun untuk melarang So Eun berhubungan dengan siapapun. Toh di antara mereka tidak ada apa-apa. Tanpa sadar, Yesung memelankan langkahnya, berharap So Eun akan mengejarnya dan menjelaskan padanya bahwa semua yang dilihatnya hanya salah paham. Tapi saat Yesung menolehkan pandangannya ke belakang, tak ada bayangan gadis itu di sana. So Eun tak mengejarnya. Bukankah itu sudah jelas? So Eun tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. So Eun tidak mencintainya. Dia tidak membalas cintanya. Cinta Yesung hanya bertepuk sebelah tangan. Menyadari hal ini, membuat dadanya terasa sesak.

***

 

So Eun tak bisa berbuat apa-apa ketika lelaki yang dipanggilnya oppa tadi langsung memeluknya dengan erat, sangat erat sampai So Eun merasa sulit bernafas karenanya. So Eun berusaha melepas pelukan laki-laki itu menyadari di mana saat ini mereka berada dan mata orang-orang yang sedang berjalan tertuju ke arah mereka.

“Donghae oppa..” So Eun menyebut nama laki-laki itu, berharap dia akan sadar dan melepaskan pelukannya. Tapi laki-laki itu tetap tak mau melepaskannya. Akhirnya So Eun pun pasrah dengan perlakuan laki-laki itu. Membiarkannya melepaskan rindu yang mungkin sudah lama dipendamnya. Sebenarnya So Eun pun begitu. Dia sangat merindukan sosok laki-laki ini, sosok kakak yang sudah lama menghilang dari kehidupannya.

 

So Eun merasa risih dengan pandangan orang-orang yang tertuju kepada mereka. Ia terus memerhatikan sekelilingnya sampai matanya berhenti di satu titik di sudut sana. jantungnya seolah berhenti berdetak melihat sosok itu tengah berdiri menatapnya dengan tatapan tajam. Tapi kali ini berbeda. So Eun juga melihat ada emosi di matanya. Kenapa? Kenapa Yesung marah? Apakah dia marah karena melihatnya berpelukan dengan laki-laki lain? Oh.. tidak. Dia salah paham. Ini tidak seperti yang dipikirkannya. So Eun tahu ke mana arah pikiran Yesung saat ini.

So Eun berniat mengejar Yesung saat melihat laki-laki itu telah beranjak dari tempatnya. Tidak. Yesung salah paham. So Eun harus segera menjelaskannya pada Yesung. Namun saat dia hendak mengejar Yesung, ia sadar kalau Donghae masih memeluknya dengan erat.

“Oppa.. aku harus..”

“Maaf, maafkan aku So Eun-ah. Maaf telah meninggalkanmu. Maaf telah membuatmu harus hidup seorang diri. Maaf telah berlaku egois terhadapmu. Maaf karena saat itu aku terlalu tidak terima dengan keputusanmu. Maaf maaf…” Donghae berkata dengan begitu menyedihkan. Ada rasa penyesalan dalam nada suaranya.

So Eun merasakan punggungnya basah oleh air mata Donghae. Mendengarnya, ia pun mulai mengeluarkan air mata. Mengingat kembali yang telah lalu itu selalu saja membuatnya tak tahan untuk meneteskan air matanya. Sejenak, ia lupa akan janjinya bersama Yesung.

“Gwencanha oppa. Kau tak perlu meminta maaf. Ini semua bukan murni salahmu. Aku juga salah. Aku tidak bisa membalas perasaanmu padaku. Aku tahu, kau pasti sangat kecewa saat itu. Maafkan aku..”

Setelah mendengar kata-kata So Eun tadi, barulah Donghae melepaskan pelukannya pada So Eun. Dia memandang So Eun dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak, So Eun-ah. Akulah yang salah. Kalau saja aku mau menerima keputusanmu saat itu untuk menolakku, ini semua tidak akan terjadi. Kita tidak akan terpisah selama ini. Aku merasa kehilangan sosok adik yang sangat kusayangi. Membiarkanmu hidup sendiri. Aku benar-benar menyesali semua itu. Aku merindukanmu So Eun-ah, benar-benar merindukanmu.” Donghae menundukkan wajahnya yang kembali basah oleh air mata. So Eun sungguh tak tega melihatnya seperti itu. Dia terlihat tersiksa dengan rasa bersalahnya. Padahal So Eun tak pernah menyalahkan Donghae atas tindakannya dulu. Dia memakluminya. Dia menerimanya. Tapi tak disangkanya kalau kakaknya itu akan merasakan rasa bersalah sebegitu dalam.

So Eun mengangkat dagu Donghae agar wajahnya kembali menghadap dirinya.

“Aku tidak pernah menyalahkan Oppa atas semua yang sudah Oppa lakukan padaku. Aku tidak pernah membenci Oppa. Dan yang paling penting, aku selalu menyayangi Oppa sebagai kakakku satu-satunya. Kau tetap seorang kakak yang paling baik di hatiku. Meskipun kau sudah tak sudi lagi menganggapku sebagai adikmu, kau tetaplah Oppaku..”

Ucapan itu tulus dari hati So Eun. Dia memang tak pernah membenci Donghae. Baginya Donghae adalah kakak yang sangat baik. So Eun sangat menyayangi kakaknya itu. Dia menganggap Donghae sebagai kakak kandungnya. Mereka sama-sama dibesarkan di panti asuhan yang sama. Bermain bersama, berangkat sekolah bersama, belajar bersama. melewati hari-hari bersama hingga usia mereka menginjak dewasa.

Usia Donghae dan So Eun terpaut tiga tahun. Saat Donghae hendak melanjutkan kuliahnya di Seoul, So Eun yang paling tidak terima dengan keputusan itu. Sebenarnya Donghae pun tak ingin meninggalkan So Eun. Tapi dia juga ingin melanjutkan sekolahnya. Dia tidak ingin terus membebani panti. Dia ingin mengejar cita-citanya. Ingin menjadi seorang arsitek terkenal. Itulah impiannya sejak kecil. Dan dia ingin membahagiakan So Eun dengan jerih payahnya itu. memberikan So Eun apapun yang diinginkan gadis itu. membuatnya bahagia di sampingnya.

 

Akhirnya atas inisiatif Donghae, ia membawa serta So Eun ke Seoul. menyekolahkan So Eun di salah satu SMA di sana. Donghae sendiri yang membiayai sekolah So Eun dengan bekerja di salah satu toko elektronik di kota itu. Donghae memang memiliki otak yang cemerlang. Dia pintar di segala bidang. Berbeda dengan So Eun yang memiliki otak pas-pasan. Biaya kuliah Donghae pun ditanggung sepenuhnya oleh donatur.  Jadi dia hanya perlu membiayai uang sekolah So Eun saja.

Mereka hidup dengan bahagia selama tiga tahun hidup bersama. tapi peristiwa di malam itu membuat semuanya berubah. Pengakuan Donghae mengenai  perasaannya pada So Eun sangat mengejutkan So Eun waktu itu. ternyata selama ini, Donghae memupuk cintanya pada gadis itu. namun So Eun hanya menganggap Donghae sebagai kakak, tak lebih dari itu. So Eun mengatakan yang sejujurnya pada Donghae bahwa dirinya tak bisa membalas perasaannya. Sehingga Donghae merasa kecewa.

Sikap Donghae berubah drastis setelah itu. dia menjadi sering marah pada So Eun. Sampai akhirnya dia mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan pada So Eun. Donghae mengusir  So Eun dari rumahnya. Meminta So Eun untuk menghilang dari kehidupannya. Dan So Eun pun pergi meninggalkan Donghae. Namun, karena tak mungkin untuk kembali lagi ke panti, ia memilih untuk terus melanjutkan hidupnya di Seoul seorang diri.

Sejak saat itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan Donghae. Tapi kini sosok itu kembali lagi. Wajah tampannya tidak berubah, masih sama seperti yang dulu.

“Saat itu pikiranku masih labil. Aku belum bisa mengontrol emosiku. Sehingga aku bertindak bodoh. Aku benar-benar menyesali perbuatanku saat itu. Setelah kau pergi, aku merasa begitu kesepian. Tidak ada lagi yang menemaniku di rumah. Tidak ada lagi gadis manja yang selalu merengek padaku bila ingin meminta sesuatu. Aku sungguh merindukan semua itu, So Eun-ah..”

“Aku sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Cinta datang mengalir apa adanya dalam hati tanpa bisa dicegah maupun dipaksakan. Karena itulah, sekarang aku datang kemari untuk memohon maafmu. Aku mohon, maafkanlah aku, dan.. jadilah adikku seperti dulu lagi.” Donghae berkata kepada So Eun. Sementara So Eun hanya diam mendengar perkataan Donghae. Dia masih belum bisa percaya bahwa Donghae benar-benar telah kembali padanya.

“Akan kupikirkan dulu.” Hanya itu yang bisa So Eun berikan sebagai jawabannya. Dia memang masih cukup kaget dengan semua yang terjadi pagi ini. Benar-benar tak pernah terbayangkan kalau hal ini akan terjadi.

So Eun seketika teringat janjinya dengan Yesung. Meski dia ragu untuk meninggalkan Donghae sendiri di sini. Mereka baru saja bertemu. Rasanya tak enak meninggalkan oppanya sendiri, terlebih lagi mereka baru saja kembali bertemu. Tapi dia harus tetap pergi menemui Yesung. Walau dia juga tidak tahu apakah Yesung masih mau pergi bersamanya, mengingat sinar emosi di matanya. Kalaupun nanti dia tidak menemukan laki-laki itu, dia akan terus menunggunya di sana sampai laki-laki itu datang.

“Oppa, aku harus pergi sekarang. Aku ada janji dengan seseorang.” kata So Eun pada Donghae.

“Ya, pergilah. Aku akan menunggumu di sini sampai kau kembali.” Balas Donghae.

“Jangan, Oppa.. Maksudku, aku tidak tahu kapan aku pulang. Kalau Oppa menungguku di sini, Oppa akan kedinginan. Begini saja—“ So Eun menghentikan kata-katanya, lalu kemudian merogoh saku jaketnya. Setelah mendapatkan kunci rumah yang dicarinya, dia meraih tangan Donghae dan menyerahkan kunci tersebut. Donghae hanya memandang kunci rumah itu dengan heran. Lalu mengalihkan lagi pandangannya ke arah So Eun, menunggu penjelasan darinya.

“Oppa tunggulah di dalam. Di dalam akan lebih nyaman, daripada Oppa tetap di luar begini.”

So Eun menyuruh dirinya menunggu di dalam? Di rumahnya? Apakah itu artinya So Eun sudah mau memaafkan dirinya? Ada setitik harapan dalam hati Donghae.

“Baiklah, Oppa. Aku pergi dulu. Oppa segeralah masuk. Annyeong..” So Eun membungkuk sedikit padanya, lalu melangkah pergi meninggalkan Donghae di sana.

***

Benar dugaan So Eun. Yesung tidak datang. Ia menunggunya hampir dua jam di sana, namun Yesung tak kunjung datang. Laki-laki itu, apakah dia benar-benar marah padanya?

Karena Yesung tak kunjung datang, So Eun akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke rumah. Yesung tidak akan datang. Dia marah pada So Eun. Hufft. Seharusnya tadi dia langsung mengejar Yesung, menjelaskan padanya bahwa apa yang dilihatnya tak seperti yang dipikirkannya. Namun So Eun berpikir kembali. Bukankah dia dan Yesung tidak ada hubungan apa-apa? Di antara mereka tidak pernah ada kata pacaran, dan sebagainya. Mereka menjalani hubungan mereka selama ini biasa saja. Tapi So Eun tahu, bahwa selama itu, dia telah menumbuhkan benih cintanya pada Yesung. Namun So Eun tidak tahu bagaimana perasaan Yesung padanya. Dia tidak tahu apakah Yesung memiliki perasaan yang sama atau tidak kepadanya. Karena itulah, tadi dia ragu untuk mengejar Yesung. Ditambah lagi pelukan Donghae yang sangat erat padanya. Jujur, So Eun tak tahu harus berbuat apa.

 

***

 

 

Sudah beberapa hari ini Yesung tak mendatangi Sungai Han. So Eun sampai lelah menunggunya di sana. Namun Yesung tak pernah muncul. Puluhan kali So Eun mencoba menghubungi laki-laki itu, tapi telponnya selalu direject. Smsnya tak satupun di balas oleh Yesung. So Eun sedih. Dia takut kalau Yesung tak mau lagi bertemu dengannya. Apakah itu artinya hubungan mereka selama ini akan terhenti sampai di sini? Apakah pertemuan singkat mereka ini hanya akan menjadi kenangan yang tak berarti? Tidak. So Eun tidak mau seperti itu. Dia sudah terlanjur mencintai laki-laki itu. Dia tidak mungkin melupakan laki-laki itu begitu saja. Sejenak timbul pikiran negatif dalam dirinya. Apakah Yesung memang tidak mencintainya? Mungkin, inilah yang diinginkan Yesung, menjauh dari So Eun. Mungkinkah  Yesung hanya menganggap dirinya sebagai seseorang yang tak berarti, hanya sekadar numpang lewat dalam kehidupannya? Memikirkan semua itu membuat So Eun merasa sedih dan frustasi. Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Ia menghembuskan nafas frustasi.

Baiklah, ini yang terakhir kalinya So Eun akan mengirim pesan pada laki-laki itu.

“Aku akan menunggumu di tempat biasa besok pagi jam 9. Aku  akan terus di sana sampai kau datang. Aku akan terus menunggumu. Aku tidak perduli akan mati kedinginan sekalipun. Aku akan tetap menunggumu di sana.”

So Eun lalu menekan tombol kirim setelah itu. Dia berharap Yesung membaca pesannya. Dan semoga kali ini Yesung mau menemuinya dan mendengarkan penjelasannya.

***

Sudah berjam-jam So Eun berada di tepi Sungai Han. Namun tak ada tanda-tanda kalau Yesung akan segera datang. Hari sudah semakin sore. Sebentar lagi malam akan datang.

Apakah Yesung begitu marah padanya, sampai-sampai ia tak mau menemuinya walau hanya sebentar? So Eun berusaha menahan air matanya agar tak keluar sembari menahan rasa dingin yang menderanya di tepi Sungai Han. Sambil menggigit bibir bawahnya, So Eun terus berharap kalau sebentar lagi Yesung akan muncul di hadapannya. Yesung pasti datang. Dia berusaha meyakinkan dirinya dalam hati.

 

Sementara itu di lain tempat, Yesung yang baru saja keluar dari sebuah cafe, dengan terburu-buru meninggalkan tempat itu. Berlari secepat mungkin ke tempat ia biasa bertemu dengan So Eun. Ini sudah hampir gelap, So Eun sudah menunggunya di sana sangat lama. Ia merasa sangat bersalah pada gadis itu. Semoga saja So Eun tak apa-apa di sana. Semoga So Eun masih menunggunya di tempat itu.

Dia sangat menyesal telah berlaku tak baik pada So Eun beberapa hari ini. Dia sadar bahwa perlakuannya terhadap So Eun sangat kekanakan. Terlebih lagi, ini semua hanya salah paham. Dia telah salah paham pada So Eun. Dan bodohnya dia tidak mau mempercayai penjelasan So Eun melalui sms dan pesan suara yang ditinggalkannya. Barulah setelah laki-laki yang bernama Lee Donghae itu menjelaskan secara langsung padanya mengenai hubungan mereka berdua di cafe tadi, Yesung mempercayai semuanya.

Tadi, saat Yesung hendak keluar dari rumahnya, tiba-tiba laki-laki itu menghampirinya. Yesung seketika memasang wajah dingin. Ia hendak pergi meninggalkan laki-laki itu, tapi laki-laki itu menarik lengannya, mencegahnya pergi. Lalu dia meminta waktu Yesung untuk berbicara sebentar. Awalnya Yesung ragu, namun hati kecilnya menyuruh dirinya untuk menerima tawaran laki-laki itu. Selain itu, dia juga penasaran dengan apa yang hendak dibicarakan laki-laki itu padanya. Akhirnya Yesung menerima tawarannya dan mereka pun pergi mencari cafe terdekat untuk bisa membicarakan hal itu dengan lebih santai.

 

Akhirnya Yesung sampai di Sungai Han. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis yang telah merubah harinya itu. Gadis yang telah membuat jantungnya berdebar keras setiap kali Yesung bersamanya. Gadis dengan mata yang indah serta senyum cerah yang selalu diperlihatkannya pada Yesung. Gadis itu juga yang telah menyadarkan dirinya bahwa terpuruk dalam kesedihan masa lalu bukanlah sebuah penyelesaian, melainkan sebuah bentuk penyiksaan diri sendiri. Kesedihan tak akan pernah membuat apa yang sudah berlalu bisa terulang kembali. Itu yang gadis itu katakan padanya. Gadis manis yang telah membuatnya jatuh cinta.

Itu dia. Gadis itu di sana. So Eun ada di sana. Duduk di sebuah kursi panjang yang memang disediakan bagi para pengunjung yang ingin sekadar duduk-duduk di tepi Sungai Han. Yesung segera berlari menuju gadis itu. Setelah jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi dari So Eun, ia menghentikan langkahnya. Dan saat itu juga, So Eun mengangkat kepalanya yang terus menunduk sejak tadi. Wajah So Eun sudah basah oleh air mata. Mata indah itu berkaca-kaca, tanda bahwa So Eun sedang menangis. Hal itu membuat hati Yesung mencelos. Seperti ada sesuatu yang menghantamnya. Merasakan hatinya sakit melihat keadaan So Eun saat ini. Yesung lalu mendekat ke arah So Eun. Matanya tak lepas dari mata gadis itu. So Eun pun bangkit dari duduknya. Terkejut sekaligus bahagia. Akhirnya laki-laki itu datang juga. Penantiannya tidak sia-sia. So Eun lalu tersenyum kepada Yesung. Dia sangat bahagia melihat laki-laki itu di depannya saat ini.

Setelah So Eun berada dalam jangkauannya, Yesung segera menarik So Eun ke dalam pelukannya. Ia tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar. Dia merasa sangat bersalah pada So Eun. So Eun pun membalas pelukan Yesung. Ia kembali menangis. Namun kali ini bukan tangis kesedihan lagi, melainkan tangis bahagia karena orang yang ia tunggu-tunggu sudah ada bersamanya sekarang. So Eun sungguh bahagia.

“Maaf. Maafkan aku..  Seharusnya aku mempercayaimu. Seharusnya aku tidak tidak bersikap seperti ini padamu. Maafkan aku..” Yesung terus mengucapkan kata maaf pada So Eun.

Mendengar semua itu, So Eun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak, kau tak perlu minta maaf. Tidak ada yang harus dimaafkan. Aku tahu kau hanya salah paham. Maka dari itu, aku menunggumu di sini karena ingin menjelaskan padamu. Aku dan Donghae Oppa tak ada hubungan apapun, kami—“

Ucapan So Eun seketika terhenti saat Yesung memotong perkataannya.

“Aku tahu, aku sudah tahu semuanya. Dia sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku percaya kalau kau dan laki-laki itu hanya sebatas hubungan kakak dengan adiknya.”

So Eun terdiam dengan penjelasan Yesung tadi. Benarkah dia sudah tidak marah lagi padanya? Dia sudah tidak salah paham lagi padanya? Ya Tuhan, terima kasih.. Donghae Oppa, terima kasih..  So Eun tersenyum mendapati semua masalah itu akhirnya bisa terselesaikan juga. Ah, tidak. Belum semua terselesaikan. Ada satu hal lagi yang harus dikatakannya pada Yesung.

“Tapi.. Ada satu hal lagi yang harus kukatakan padamu.” Ujar So Eun.

Yesung lantas melepaskan pelukannya pada So Eun, namun sama sekali tak beranjak menjauh dari gadis itu. Yesung mengerutkan dahinya. Penasaran dengan apa yang ingin dikatakan So Eun.

“Apa?”

“Aku.. Aku.. Sebenarnya aku..” So Eun gelisah, ia tidak tahu harus bagaimana mengatakan kepada Yesung tentang perasaannya itu. Tapi dia benar-benar harus mengatakannya.

“Mencintaimu. Aku mencintaimu..”

So Eun kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Yesung bilang apa padanya? Dia bilang.. Cinta? Bukankah itu yang ingin So Eun katakan pada Yesung? Tapi kenapa justru laki-laki itu yang mengatakannya? Apa Yesung bisa membaca pikirannya? Atau.. Mungkinkah cintanya memang tidak bertepuk sebelah tangan? Mungkinkah kalau Yesung juga memiliki perasaan yang sama padanya? Ya Tuhan..

“Bisa kau ulang kata-katamu tadi?” Tanya So Eun. Takut salah mendengar perkataan Yesung barusan.

“Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, Kim So Eun. Maukah kau menjadi kekasihku?” Yesung mengatakan semua itu dengan jelas.  Wajahnya sedikit menegang menunggu jawaban So Eun

Ini sudah sangat jelas untuk So Eun. Ucapan laki-laki itu benar-benar membuatnya tercengang. Ini bukan mimpi kan? So Eun lalu mencubit lengannya dan dia merasakan sakit. Jadi.. Ini bukan mimpi. Ini semua nyata. Yesung telah menyatakan cintanya pada So Eun. ia tersenyum dan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyatakan kesanggupannya untuk menjadi kekasih laki-laki itu. Laki-laki dengan mata kucingnya itu. Sungguh, ini adalah sesuatu yang sangat membahagiakan dalam hidupnya.

“Aku juga mencintaimu, Yesung-ssi.”

Mereka berdua sama-sama tersenyum. Ketegangan di wajah Yesung memudar seketika setelah mendengar penerimaan So Eun. Mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Jantung keduanya terus berpacu dengan tak normal. Yesung lalu memupus jarak di antara mereka. Semakin mendekatkan wajahnya pada wajah So Eun. Lantas menyapu bibir mungil itu dengan bibirnya. So Eun pun menutup matanya. Menerima ciuman lembut itu pada bibirnya. Yesung terus memperdalam ciuman mereka. Merasakan bibir So Eun yang terasa dingin karena terlalu lama di tempat itu. So Eun pun membalas ciuman Yesung. Tangannya sudah melingkar di leher laki-laki itu. Sementara tangan Yesung memeluk pinggang So Eun. Mereka berciuman begitu lama. Membiarkan semua rasa itu melebur menjadi satu. Di tempat itu , di tepi Sungai Han, dan di musim dingin yang membekukan. Salju mulai turun satu-persatu. Melapisi kota Seoul dengan butiran-butiran halusnya.

Itu semua menjadi saksi kisah cinta mereka. Kisah cinta yang akan selalu abadi di hati keduanya. Dan tak akan pernah hilang meski maut memisahkan.

Flashback end

 

 

 

THE END

19 pemikiran pada “Snow (Part 2/2)

  1. Kyaa….keren…..keren….😀
    Ternyata masa lalunya yeppa begitu menyedihkan😦
    Hm, akhirnya yesso bersatu juga😉
    Pokoknya ff-nya daebakklah…
    Di tunggu ff + lanjutan ff lainnya author, fighting..!!!!

  2. Pernyataan cinta soeun keduluan sm bang yeye ckckkc (y)
    Kisah hidup bang yesung sunguh bikin mewek…tp semuanya jg happy lg gr2 sang angel (soeun)

    Eoh Untunglah hae bs nerima soeun kembali jd adeknya ..klo engga bs panjang urusannya xiixixi😄

    Mantab saeng (y) (y)
    Suka liat kissue nya yeSso adorable euy (y) ni couple fav eon slain kyuSso❤
    Lanjutin yg loving U yo……..!!! :*
    Ditunggu jg karya ff mu yg laen (y)
    Especially couples nya eon hhhhhe :*

    Cmungudth :*

  3. Waaaa kereeenn. Akhirnya YeSso bersatuuuu.
    Donghae Oppaaaa, sini sama aku aja. Biarin Sso nya sm bg yeye *TarikHae*

    Keren, suka ff nya, feel nya kena banget chingu😀
    Dtggu ff Sso lainnya😀 hwaiting °\(^▿^)/°

  4. Wuuaa leganya bs happy end,,donghae ma yesung bnrn pd egois n kekanak2an nie bkin greget aja,,untg sso-ny sabar,pemaaf n lemah lembut shgga kebahagiaan yg mrka hrpkn trwujud,,dtggu krya slnjtny gomawo🙂

  5. bgs happy ending ni kpn2 bkn kyusso ya
    ditgg ff seljtnyao_O

  6. Eonnie ff nya daebak ^^ wah yesso brstu n happh ending kasian jg msa lalu nya yesung oppa sngt tragis, n buat bang donghae ckup jdi oppa nya sso za ya kali ni bang yesung yg memenang kn hati nya sso, ntar ff dgn pairing haesso psti bang donghae yg akn memenang kn hti nya sso hehe d tgu eon next ff nya fighting

  7. (●̮̮__●̮̮) Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃…… (⌣́_⌣̀”).
    Baca line pertama di buwt mewek….
    Kasian banget jongjin oppa…. U.U
    Yeppa juga mpe terpuruk gtu…. (-̩̩̩⌣́_⌣̀-̩̩̩)

    Tapi untunglah Sso ϐïśª membuatnya_kembali bangkit dari keterpurukan ηγά̲̣̥….🙂

    Huh…. Kyaaa ªԃª haeppa….
    Tapi cinta ηγά̲̣̥ bertepuk sebelh tangan yah…. U.U
    Tpi mank di sini Sso kan hanya untuk awan…. Hae ma ∂ķΰ aza sini… Ekekekke #plakk#LoL

    Huaa…. Untung kesalahfhmn itu ϐïśª terselesaikan η YeSso bersatu….
    Berkat bang ikan juga nih…. *hug haeppa*😀

    Ckckkckc…. Sso mau nembak_ehh… Di tembak duluan….🙂

    Ending yanggg manistttt bangetttt….
    Sukaa bangettt_feelnya dapet bangettt pokoknya…… (y)

    Okeyyyy karya Ϋά̲̣̥ηġ keren….
    Di tunggu lanjutan FF Ϋά̲̣̥ηġ lain η project Ϋά̲̣̥ηġ lain juga yeah…. *semngattt berkarya*🙂

  8. Yeay… Akhir.y part 2 nyaa muncul… Ternyata yg membuat yesung sedih tuh krna adik.y yg bunuh diri trus orang tua.y yg kecelakaan… Huahh sedih banget pas baca.y … T,T
    Tpii untung.y ada sso yg nenangin yesung..🙂

    Tpii aku rada gak relaa cerita yesso lngsung selesaii… Heheh pengen ada kelanjutan.y … Atau nggak bkin ff baru lg tntang yesso.. Soal.y aku suka banget ma yesso trus mereka jga couple ksayangan Q…😀
    tetap semangat yah buat ff.y ,. D.tunggu karya yg lain .. ;D

  9. Akhirnya happy ending jg
    Sedih bca bgian soeun nunggu yesung lma bnget ckck
    Dtnggu eon ff doeun lainnya

  10. Masa lalu yesung sngat menyedihkan T_T

    FF nya bnr2 keren eon (y)

    apalagi waktu yeSso berciuman
    So sweet # mau donk (abaikan)
    heheheheheh
    ditunggu FF berikut nya

  11. Huft….-,-
    Yeeaa…!!! ^,^
    Happy ending….!! ^¤^
    Ikut bahagia juga jadinya…^^
    Sempet khawatir tadi pas bagian Ye Sung ngerasa So Eun gak peduli sama dia…😦
    Tapi untung,kesalahpahaman itu udah diselesaikan dengan baik…🙂😀
    Keren banget ceritanya author…!!
    Daebak…!! ^-^
    Semangat terus,ya author…!!😉🙂
    Pai Pai~

  12. keren endingnya yesso bersatu yeey..
    ditunggu karya selanjutnya🙂

  13. Huaaaaa…akhirnya happy ending…..mereka sama2 punya masa lalu yg menyedihkann….
    Yeeppa paling sedihhh…
    Ga bisa komen papa lagi chingu…daebakkkkk…
    Biar haeppa untuk q saja #plakkk ngarepp#…..
    Q tunggu ff sso eonni laiya chingu yeppo….fightinggggg

  14. mian ru coment d ff nie,, sbnrx aq dh bca ff yg loving u x,, v ru bsa coment skrng,, gk pha2 kan,,
    crta krn,, good job deh buat chingu,, hemm,, d tnggu yg lnjtn loving u x y,,🙂

  15. Keren2 ,, ditunggu karya2.a ff YeSso yg lain thor

  16. .BAGUS_BANGEEETTTT___suka_endingnya_manis_banget__dtunggu_karya2_selanjutnya_oh_ya_aku_request_ff_pairing_hyuksso_boleh????__kalo_gak_boleh_juga_gak_apa2_hehehe……okelah_semangat_terus_bikin_ff2_lainnya……

  17. Halo2 chingu,, q reader baru d blog ni… Sbelumnya q mau mnta maaf krn cm ngoment d part 1… Soalny q penasaran bgt sm kelanjutannya,, jd td lgsg aja lanjut k part ni…hehe

    So, comment nya djadiin satu aja ya…😀

    Trnyata alasan yesung slalu datang k tepi sungai han tu, buat mengenang sang adik trcinta..
    Crtanya mngharukan n sedih bgt,, tp q suka endingny…

    Ah pokokny q sk bgt sm ff ni,, apalagi dengan cast nya yesso couple… I love this couple pokoknya…🙂

    Nice story chingu… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s