Snow (Part 1/2)


 

Title     : Snow (Twoshoot)

Casts    : Kim So Eun, Yesung (Kim Jong Woon)

Genre  : Romance, Sad

Author : CloudStarMoon

Length : Twoshoot (1/2)

 

Annyeong.. aku balik lagi nih sama FF terbaruku. sebenernya udah dari kemarin-kemarin pingin ngepost ni tulisan, cuma idenya kesendat mulu. dan akhirnya bisa aku selesein malam ini. awalnya FF ini cuma oneshoot aja. tapi karena kepanjangan, akhirnya aku bikin twoshoot deh🙂 tenang aja, ini FF udah aku tamatin kok, yaaa tapi itu, karena kepanjangan jadi gk langsung aku post semua. takutnya, kalau aku langsung post sampe akhir, nanti pada bosen bacanya, apalagi FF dari author abal-abal kayak saya. hahaha.

ya udah deh gk mau terlalu banyak omong, langsung aja dibaca chingu. dan selalu, sangat sangat diharapkan buat VOMMENT-nya ya. biar tambah semangat. kkkk :D  o ya mian kalo entar nemu typo, soalnya udah aku koreksi beberapa kali ini FF. jadi kalo mau koreksi lagi semuanya dari awal udah rada males.. hehehe😀

 

 

 

 

Tepi Sungai Han, Seoul 2018

Salju pertama  adalah sesuatu yang paling laki-laki ini nantikan setiap memasuki musim dingin. Dia sangat menyukai salju. Meski harus berjibaku dengan rendahnya suhu di musim dingin, ia tak akan segan untuk menunggu salju pertama turun di tepi sungai yang terkenal dengan keindahannya itu. Apalagi kalau bukan Sungai Han.

Sambil menggigil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tebalnya, dia akan terus menunggu di sana. Tentu saja tidak sendiri, karena seseorang juga sedang duduk di sana bersamanya. Melakukan hal yang tak jauh berbeda dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Sekilas, laki-laki itu menoleh, menatap sosok wanita yang duduk bersamanya itu. Lalu tersenyum melihat wanita itu mengembungkan pipinya lucu. Membuatnya tak tahan untuk tidak mencubit pipi menggemaskan itu.

Tentu ada alasan dibalik itu semua. Dan semuanya  bermula dari sebuah kata..  Salju.

Laki-laki itu tak habis pikir. Satu kata itu ternyata mampu merubah hidupnya seperti ini. Ia tersenyum mengingat kejadian di masa lampau. Mengenang masa-masa itu seperti memutar ulang sebuah tayangan dari perjalanan hidupnya yang tersimpan utuh dalam memorinya hingga kini. Pikirannya mulai membawa laki-laki itu kembali kepada kenangan itu..

 

 

Flash back

Musim dingin. Seoul, 2012

Cuaca di musim dingin tahun ini sangat buruk. Suhu di kota itu turun hingga -80C. Tak ada yang betah berlama-lama berada di luar. Orang-orang akan lebih memilih berada di dalam rumah ketimbang harus berjibaku dengan dinginnya Kota Seoul ketika itu. Tapi semua itu tidak menjadi penghalang bagi seorang pemuda di penghujung usia dua puluhan yang tengah berdiri di tepi Sungai Han. Dia Kim Jong Woon.  Tetapi teman-teman kantornya serta kebanyakan orang mengenalnya dengan nama Yesung. Sudah dua jam lebih dia berdiri di tempat itu. Tak berpindah sejengkal pun dari tempatnya pertama kali. Seakan tak perduli dengan dinginnya malam yang menusuk ke dalam kulitnya, dia terus saja mematung di sana. Jaket tipis yang membungkus tubuhnya tentu tidak akan bisa melindungi pemuda itu dari dinginnya malam. Dia bisa saja terkena hipotermia di cuaca sedingin ini. Tapi dia tak memerdulikan itu semua. Bahkan mungkin inilah yang diinginkannya. Menyiksa diri sebagai bentuk penyesalan atas kebodohannya di masa lampau. Kebodohan yang telah membuatnya menjadi sebatangkara di dunia ini. Kebodohan yang telah membuat dirinya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya. Sebutir air mata turun melalui pipinya yang sudah memerah. Kemudian diikuti dengan air mata berikutnya dan begitu seterusnya. Dia menangis dalam diam. Menatap ke bawah aliran Sungai Han yang sudah membeku. Melihat itu semua membuat hati Yesung semakin sesak. Sangat sakit sampai ia tak tahu lagi bagaimana harus bernapas di udara yang membekukan seperti ini. Air mata hangat yang jatuh dari kedua mata ‘kucing’nya terasa kontras dengan dinginnya malam saat itu. Selalu seperti ini. Penyesalan selalu datang setelah semuanya berlalu dari hadapan kita. Andai saja waktu bisa diputar kembali, dia ingin dialah yang menanggung semua penderitaan itu. Bukan seseorang yang sangat disayanginya itu. Andai semua bisa diulang kembali, andai saja…

Yesung merasakan sesuatu yang sedikit berat di punggungnya, membuatnya merasa lebih hangat dari sebelumnya. Ia menolehkan pandangannya ke bahu, lalu menyadari sebuah jaket hitam yang cukup tebal telah tersampir di sana. Ia kembali mengangkat pandangannya dan terkejut melihat seseorang sudah berdiri di sampingnya. Memandang dirinya dengan senyum yang terlihat dipaksakan di tengah cuaca ekstrim ini. Kerutan terbentuk di dahi Yesung. Sisa-sisa air mata di wajahnya masih terlihat jelas. Matanya yang membengkak semakin memperjelas kenyataan kalau dia baru saja menangis. Namun itu semua tidak dipusingkan olehnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah siapa gadis yang berdiri di depannya saat ini? Dan apa maksudnya dengan memberikan jaket hitamnya itu kepada dirinya? Apa gadis ini tidak membutuhkan jaket di tubuhnya itu? Padahal jelas sekali terlihat bahwa gadis ini sedang berusaha untuk melawan hawa dingin yang begitu menusuk hingga ke tulang seperti ini.

“Apa yang kau lakukan?” Akhirnya Yesung menyuarakan apa yang menjadi pertanyaan dibenaknya sejak tadi. Dia memperhatikan penampilan gadis itu dari atas hingga bawah. Gadis itu memakai celana jeans hitam panjang. Dengan atasan dress hitam motif bunga-bunga putih serta renda-renda yang menghiasi bagian dada dan bagian tepi bawah dress itu. Tak lupa jaket tebal berlapis-lapis dengan warna senada ia kenakan untuk menghalau dinginnya udara malam ini. Rambut lurus panjangnya dicat dengan warna coklat. Tak lupa sebuah topi wol tebal dengan warna hitam menutupi rambut indahnya itu serta sepasang sepatu boot yang juga  berwarna hitam yang melindungi kaki-kakinya. Telinga dan wajahnya sudah memerah akibat kedinginan. Dan mata gadis itu.. Matanya sangat indah. Belum pernah rasanya Yesung melihat seseorang memiliki mata seindah itu. Pipi gadis itu yang sedikit berisi, hidung bangirnya, serta bibir tipis dengan olesan lip gloss merah muda semakin menambah kecantikan yang terpatri dalam wajah gadis muda itu. Matanya menatap lurus ke wajah Yesung. Ikut menilai pemuda itu dalam hati.

Laki-laki yang tampan, pikirnya. Matanya yang sipit seperti mata kucing, hidung mancungnya, bibir tipisnya, semua terlihat begitu indah. Kecuali.. Sinar mata yang dipancarkan oleh sepasang mata kucing itu. Kosong dan tak bernyawa.

Sejenak mereka berdua melupakan kondisi  di sekeliling mereka, di mana malam yang semakin gelap. Beberapa orang yang tadi berlalu-lalang sudah tak terlihat lagi batang hidungnya. Hanya tinggal mereka berdua di tempat itu. Berjibaku dengan dinginnya malam yang kian menyiksa.

“Justru itu yang ingin kutanyakan. Sedang apa kau di sini dalam kondisi cuaca seperti ini? Apa kau tidak berpikir kalau kau bisa mati membeku di tempat ini jika terus berdiri di sini?” Gadis itu berbicara pada  Yesung seakan-akan telah lama saling mengenal.

Uap dingin keluar dari mulut keduanya saat mereka berbicara satu sama lain. Kedua pasang mata itu saling menatap dalam diam. Mencoba menyelami pikiran masing-masing lewat tatapan mata. Namun kegiatan mereka terhenti sejenak ketika merasakan butiran-butiran salju mulai berjatuhan kembali mengenai tubuh mereka. Keduanya menengadah menatap langit gelap di atas sana. Kemudian tanpa berpikir panjang, tiba-tiba saja gadis cantik itu menarik tangan Yesung. Mengajaknya berlari di tengah salju yang semaikn turun tiada henti. Gadis itu menggenggam tangan Yesung begitu erat. Merasakan tangan Yesung yang begitu dingin karena tak memakai sarung tangan. Gadis itu tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang yang mau berdiam diri di luar dalam cuaca sedingin ini dengan hanya mengenakan jaket tipis. Tanpa mengenakan sarung tangan dan penutup kepala pula. Mata laki-laki itu juga terlihat sedikit bengkak. Lucu sekali pikirnya. Di luar sana masih banyak yang berusaha melakukan apa saja untuk bisa bertahan hidup di dunia ini, tapi laki-laki ini malah dengan sengaja ingin mati konyol di sini. Hah. Manusia memang luar biasa.

Si gadis terus mempercepat langkahnya agar segera sampai ke tempat tujuan. Terus menarik Yesung untuk mengikutinya. Yesung sendiri hanya pasrah dengan perlakuan gadis itu. Dia memang sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar menarik tangannya dari tangan mungil itu. Yesung mulai merasa kedinginan yang luar biasa setelah gadis ini menyadarkan dirinya dari lamunan panjang tentang masa lalunya di tepi Sungai Han tadi. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk-nusuk kulitnya. Ia pun sudah mulai merasa tak kuat lagi untuk melangkah. Sepertinya dia akan tumbang sebentar lagi.

Kim Jong Woon merasakan genggaman gadis itu menguat kembali. Lalu ia mendengar gadis itu bersuara. Mengeluarkan kata-kata yang sudah tak dapat dicerna dengan baik lagi oleh indera pendengarnya. Tapi Yesung tau, gadis itu sedang berusaha membuatnya tetap terjaga. Berusaha agar dirinya tidak jatuh pingsan di jalanan ini. Baiklah, Yesung akan berusaha untuk bertahan. Meski rasanya seperti dia akan mati sebentar lagi. Dia akan mencoba untuk bertahan. Entah demi apa.

***

 

Akhirnya sampai juga. So Eun, gadis itu membatin. Setelah beberapa menit mereka berlari, akhrinya mereka sampai di rumahnya. Rumah So Eun memang terbilang dekat dengan lokasi Sungai Han. Hanya dengan berjalan sekitar 5 menit, dia sudah bisa menikmati pemandangan di Sungai Han yang terkenal  indah itu. Tapi kondisinya saat ini berbeda. Cuaca sedang mengganas. Dan bukan perkara yang mudah baginya untuk berjalan di malam sedingin ini. Tapi laki-laki ini memaksanya untuk melakukan itu. Laki-laki yang namanya pun tak ia ketahui. Laki-laki tampan yang baru ditemuinya di malam bersalju ini.

Setelah sampai di depan pintu, Kim So Eun segera merogoh saku jaketnya dengan tangan kirinya yang bebas. Mencari kunci rumahnya yang selalu dia letakkan di saku jaketnya jika bepergian ke luar rumah. Sementara tangan kanannya masih terus menggenggam tangan dingin laki-laki itu. Berusaha memberikan kehangatan padanya. So Eun tau, pemuda itu sudah tidak kuat dengan dinginnya suhu malam ini. Setelah menemukan kunci yang dicarinya, segera saja So Eun membuka pintu rumahnya yang kecil itu. Menarik pemuda itu menuju kamarnya. Membaringkannya diranjang kecil miliknya, lalu mengambil beberapa lembar selimut yang bisa dia gunakan untuk menyelimuti tubuh pemuda itu yang sedingin es. So Eun segera menghidupkan pemanas ruangan di rumahnya. Lalu melepaskan jaket-jaket tebal yang sedari tadi melindungi tubuhnya. Kemudian kembali lagi menuju pemuda yang sudah menutup matanya itu. Mengecek suhu di tubuhnya, lalu membuka selimut laki-laki itu. Baju yang dikenakan laki-laki itu sudah basah. So Eun kemudian bergerak untuk membukakan baju laki-laki itu. Kalau pemuda ini terus mengenakan baju basahnya, kondisinya akan semakin parah. Lirih So Eun dalam hati. Namun gerakan tangan So Eun seketika terhenti ketika ia berniat membuka kancing kemeja laki-laki itu. Pemuda itu menggenggam tangan So Eun. Menatap dengan mata berat yang dipaksakan terbuka. Nafasnya tersengal tidak beraturan. Pemuda itu berbicara dengan susah payah.

“Apa.. Yang kau.. Lakukan?” Laki-laki itu berusaha menarik tangan So Eun dari tubuhnya. Namun kondisinya yang sangat lemah tidak memungkinkannya. Dia justru masih terus menggenggam tangan so eun di sana. Sejenak, ada desiran halus yang meramabat dalam hati so eun. Tapi ia segera tersadar dan menyingkirkan tangan pemuda itu agar dia bisa membuka seluruh bajunya. Laki-laki itu kini hanya pasrah dengan seluruh perlakuan gadis ini. Ia tak tau apa yang hendak dilakukan oleh gadis di depannya itu sekarang. Yang ia tau bahwa saat ini dia sangat merasakan kesakitan pada tubuhnya. Rohnya seakan terlepas. Kesadarannya semakin lama semakin menipis. Hingga ia tak kuat lagi dan memilih untuk memejamkan matanya. Pasrah dengan hidupnya yang seperti akan berakhir di malam yang dingin ini. Seperti adiknya, seperti kedua orang tuanya. Menghilang dari dunia ini di malam bersalju yang penuh duka.

***

Kim Jong Woon, pemuda itu terbangun di sore hari yang mulai beranjak malam. Matanya mulai terbuka secara perlahan. Ketika sudah terbuka sepenuhnya, ia sadar ini bukan kamarnya. Ini bukan rumahnya. Lalu di mana dia sekarang? Sejenak dia berpikir, dan ia mulai mengingat kejadian yang menimpanya semalam. Gadis itu.. Di mana dia? Bukankah dia yang membawanya ke tempat ini?

Yesung berusaha untuk bangun dari baringnya. Namun yang ada usahanya itu justru membuat kepalanya terasa sakit. Ia merasakan tubuhnya yang sangat lemah. Juga perutnya yang terasa perih karena belum di isi sejak kemarin pagi. Yesung berusaha untuk bangkit kembali. Kali ini dia sedikit memaksakan tubuhnya untuk duduk. Berusaha menahan rasa sakit yang dialaminya. Pada saat itulah gadis cantik bermata indah itu datang dengan membawa nampan berisi bubur dan air serta beberapa jenis obat. So Eun sedikit menoleh ke arah Yesung saat memasuki ruangan kecil itu.

“Kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu sekarang? Sudah merasa lebih baik atau masih sakit?” So Eun bertanya dengan nada yang terdengar ceria. Sepertinya gadis itu memiliki hidup yang indah sehingga nada bicaranya pun bisa seringan itu. Andai hidupnya bisa seperti gadis ini, Yesung pasti tak akan pernah menyia-nyiakan hidupnya.

“Kenapa kau membawaku kemari, Nona?” Yesung tak memerdulikan pertanyaan gadis itu. Dia lebih tertarik untuk mengetahui alasan gadis itu menolongnya dan membawanya ke sini. Yesung juga tidak perduli kalau nada suaranya terkesan dingin. Dia menatap tajam ke arah gadis itu. Tapi anehnya, so eun justru malah membalasnya dengan tersenyum. Senyum yang mengejek, batin yesung.

“Lalu kau berharap aku membawamu ke mana? Hotel bintang lima? Hah, yang benar saja. Maaf saja, tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menyewakanmu sebuah suite room di hotel orang-orang kaya yang kau maksud.” Gadis itu berkata dengan nada sarkastis.

Apa dia bilang? Astaga.. Yesung rasanya ingin tertawa mendengar perkataan gadis ini barusan. Apa dia pikir Yesung mata duitan?  Gadis itu sudah berpikiran terlalu jauh sepertinya.

“Aku hanya bertanya kenapa kau membawaku kemari, Nona. Aku tidak pernah menyebutkan tentang hotel dan sebagainya.” Kali ini suara Yesung sedikit melunak.

“O, jadi kau tidak bermaksud begitu? Kupikir…” Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya. Sepertinya dia bingung harus mengatakan apa. Sementara Yesung terus menunggu kelanjutan kata-katanya.

“Kau pikir apa?” Yesung kembali bertanya.

“Tidak ada. Lupakan. Aku hanya tidak ingin kita mati konyol di udara sedingin itu, makanya aku membawamu kemari, ke rumahku.” Jawab So Eun santai.

“Untuk apa kau menolongku? Kalau kau memang tak ingin mati di tempat itu, kenapa tidak kau saja yang pergi? Kau tak perlu menolongku waktu itu. Kau bisa meninggalkanku di sana sendiri..”

“Dan membiarkan diriku menyesal seumur hidup karena melihat berita di koran yang memberitakan ‘Seorang Pemuda Ditemukan Tewas di Tepi Sungai Han karena Terlalu Lama Menangis disana’? Hah, kau lucu sekali,          Tuan. Bagaimana mungkin kau dengan begitu mudahnya ingin mengakhiri hidupmu seperti itu sedangkan di luar sana, banyak orang yang rela melakukan apapun untuk tetap bertahan hidup. Kau pikir hidup itu permainan? Yang kalau kau sudah merasa bosan, dengan seenaknya kau tinggalkan begitu saja?!” So Eun mengakhir perkataan panjangnya dengan kesal.  Sementara Yesung hanya terpaku dengan jawaban gadis itu. Ia tidak menyangka akan diberi jawaban seperti itu. Kenapa gadis ini begitu berbaik hati mau menolongnya? Bukankah mereka belum pernah saling mengenal satu sama lain sebelumnya? Lalu kenapa? Entahlah. Haruskah Yesung marah ataukah berterima kasih atas pertolongan gadis itu?

“Lebih baik kau  segera memakan bubur itu. Perutmu belum diisi sejak semalam. Kau pasti lapar sekali. Jangan lupa juga untuk meminum obatnya supaya kau bisa cepat pulih.”

Setelah berkata begitu, So Eun lalu berjalan mendekati Yesung. Menempelkan telapak tangannya di kening Yesung. Berniat memeriksa  suhu badannya. Yesung tertegun dengan perlakuan So Eun. Posisi mereka yang begitu dekat seperti ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat, tak seperti biasanya. Lalu dirasakannya tangan gadis itu mulai terangkat dari keningnya.

“Sepertinya demammu sudah mulai reda. Tinggal istirahat sedikit lagi, kau pasti akan pulih kembali.. Oh ya namaku Kim So Eun. Kau?” Seperti telah melupakan perdebatan antara mereka tadi, So Eun memperkenalkan dirinya di depan pemuda itu sembari mengulurkan tangannya menanti laki-laki itu meraihnya. Namun sekian lama So Eun menunggu, pemuda itu tak kunjung membalas uluran tangannya. So Eun pun menarik kembali uluran tangannya.

“Yesung.. Orang-orang biasa memanggilku Yesung.” Pemuda itu akhirnya menjawab.

Yesung.. Nama yang indah, pikir So Eun.

“Baiklah, Yesung-ssi. Aku pergi dulu. Kalau kau butuh sesuatu, kau tinggal mencariku di dapur. Aku sedang menyiapkan makanan untuk makan malam. Kau tak perlu khawatir. Di rumah ini aku hanya tinggal sendiri, jadi kau tak perlu merasa sungkan. Anggap saja ini rumahmu sendiri.” Setelah mengatakan itu, So Eun berlalu meniggalkan Yesung di kamarnya. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

***

“Minumlah. Ini dapat  menghangatkan badanmu.”

So Eun menyodorkan segelas kopi yang dibelinya kepada Yesung. Yesung melirik ke arah kopi itu, lalu meraihnya dari tangan So Eun. Mencium aroma kopinya sebentar, baru kemudian disesapnya pelan-pelan.

Saat ini mereka sedang berdiri di tepi Sungai Han. Sudah seminggu lamanya sejak kejadian malam itu. Selama itu pula So Eun terus menemani Yesung setiap sore harinya di tempat ini. Menghabiskan waktu sore hingga malam menjelang dengan berdiam diri di sini. Lalu mereka akan pulang ke rumah masing-masing.

Tak ada percakapan yang berarti di antara mereka. Yesung lebih cenderung diam dan So Eun lah yang lebih banyak berbicara. Bercerita mengenai dirinya yang sejak kecil sudah di rawat di panti asuhan. Hingga tentang kehidupan yang ia jalani saat ini di seoul dengan mengandalkan pekerjaannya sebagai pelayan restoran.  Tentang teman-teman kerjanya yang memusuhi dirinya karena sering mendapat tip dari pengunjung restoran. Dan masih banyak lagi. Namun Yesung hanya menjadi pendengar saja. Tak ada tanggapan yang berarti yang ditunjukkannya selain anggukan ataupun gelengan. Meski demikian, Yesung  selalu menyimak dengan baik setiap kata yang diucapkan oleh So Eun.

Awalnya Yesung berpikir bahwa gadis itu memiliki hidup yang biasa-biasa saja. Namun dia salah. Ternyata So Eun tak jauh berbeda darinya. Hidup di dunia ini sebatangkara. Memikul beban berat di punggungnya. Namun So Eun sangat pintar menyembunyikan kesedihannya di balik senyum ceria tanpa beban yang selalu ditampilkannya di hadapan semua orang. Satu hal yang tak dapat dilakukan oleh Yesung.

“Apa kau tak bosan terus menemaniku di tempat ini?”

Yesung memecahkan kesunyian di antara mereka.

“Kau sendiri? Apa kau tak merasa bosan terus berdiri di tempat ini setiap hari?” So Eun membalikkan pertanyaan itu pada Yesung. Sejenak Yesung menghirup napas berat.

“Tidak. Aku tak akan pernah bosan untuk berdiri di sini.”

“Kalau begitu, aku juga tidak akan bosan untuk menemanimu di tempat ini.” So Eun menjawab dengan mantap. Ya, So Eun telah memantapkan hatinya. Bahwa dia akan terus berada di samping laki-laki itu. Menemaninya, memberinya semangat agar tak terpuruk dalam hidupnya yang menyedihkan. Entah apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Seperti ada sesuatu dalam diri Yesung yang membuatnya ingin terus menemani laki-laki itu. Laki-laki rapuh yang tak pernah tersenyum. Dan So Eun ingin sekali melihat senyumnya. Bagaimana Yesung akan terlihat jika ia tersenyum? So Eun ingin tahu.

“Kenapa kau terus memandangku seperti itu?” Yesung bertanya pada So Eun. Namun wajahnya tak mengarah pada gadis manis itu. Ia hanya menatap lurus ke kejauhan.

“Siapa yang memandangmu? Kau percaya diri sekali Yesung-ssi.” Kilah So Eun.

So Eun memanyunkan bibirnya. Sebal karena Yesung memergoki apa yang dilakukannya barusan.

“Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita berjalan-jalan. Di sekitar sini banyak sekali hal menarik yang bisa kita lihat selain berdiam diri di tempat ini.” So Eun menarik tangan Yesung agar mengikutinya. Yesung hanya diam saja dengan perlakuan So Eun. Menyamakan langkahnya dengan So Eun. Kini mereka berjalan berdampingan dengan tangan mereka yang saling bertautan. So Eun menoleh ke arah Yesung dan tersenyum. Senyum ceria dan menenangkan. Membuat Yesung akhirnya menyerah dan sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. Membentuk senyuman kecil yang sulit terlihat. Namun posisi mereka yang begitu dekat membuat So Eun dapat melihat itu dengan jelas. Senyum So Eun semakin merekah karena melihatnya. Melihatnya tersenyum kecil seperti ini saja sudah membuat hatinya begitu senang. Perlu usaha beberapa hari untuk melihat senyum kecil itu. Dan So Eun yakin, suatu saat dia pasti bisa membuat laki-laki di sampingnya itu tersenyum kembali dengan senyum yang lebar untuknya. So Eun berjanji.

***

Kim So Eun menghentikan langkahnya setelah melihat pemandangan di depannya. Yesung yang menyadari itu ikut menghentikan langkahnya. Memandang So Eun dengan heran dan penuh tanda tanya. Namun yang dilihat justru tak membalas tatapannya. Gadis itu justru melihat lurus-lurus ke depan. Lalu Yesung mengikuti arah pandang So Eun. Dia terenyak dengan apa yang sedang dilihatnya di depan sana. Mungkin begitu juga dengan So Eun.

Seorang anak laki-laki kecil dengan pakaian compang-camping tengah berdiri di sana. Mengenakan mantel yang sudah sobek di mana-mana. Mengenakan sepatu hitam kumal. Di depannya tergeletak sebuah topi putih yang telah berubah warna dengan posisi terbalik. Di sana hanya ada uang satu koin dan satu kertas seribu won. Pandangan Yesung kemudian kembali ke wajah anak kecil itu. Matanya yang sayu, pipinya yang memerah menahan dingin, bibirnya yang kering dan terkelupas, dan pandangan Yesung kemudian terhenti di tangan anak laki-laki kecil itu. Anak itu.. Hanya memiliki satu tangan. Sambil menahan dingin, anak itu terus saja menyenandungkan sebuah lagu yang sama sekali tidak enak didengar. Suara anak laki-laki itu sangat jauh dari kata bagus. Orang-orang yang berlalu-lalang di depannya seolah tak melihat keberadaannya di tempat itu. Jangankan melemparkan uang ke topi di depannya, menolehkan pandangan mereka pun tidak. Tapi anak kecil itu tak lelah dan putus asa. Dia terus saja bernyanyi sampai-sampai suaranya terdengar hampir habis saking seraknya.

Yesung merasakan pegangan So Eun di tangannya melonggar. Lalu dilihatnya So Eun mulai berjalan mendekati anak laki-laki itu. Setelah sampai di samping anak kecil itu, tanpa diminta,  So Eun tiba-tiba saja bernyanyi menyanyikan lagu yang sama yang dibawakan oleh anak kecil itu. Tapi apa mau dikata. Suara So Eun tak jauh berbeda dari anak itu. Bahkan terkesan cempreng dan tak enak didengar. Membuat Yesung menghela nafas. Lalu ia berjalan mendekati keduanya. Dan ketika Yesung ikut melantunkan lagu yang sama, keduanya justru terdiam.

So Eun terpaku mendengar suara yang sangat indah itu. Kepalanya  perlahan bergerak memutar ke samping. Memandang seseorang yang tengah bernyanyi dengan merdunya di sana. So Eun tak menyangka. Dibalik sosok dingin dan tertutup itu, tersimpan mutiara yang sangat indah. Suara yang membuatnya merinding dan bergetar. Suara yang begitu syahdu dan dalam. So Eun memerhatikan itu. Mimik yesung saat bernyanyi. Terkesan hanyut dan menghayati setiap bait yang dinyanyikannya.

Siapa dirimu sebenarnya? Kenapa kau seakan terlalu larut dalam kesedihan di masa lalumu itu? Apa yang menjadi beban berat di punggungmu? Bolehkah aku meringankan sedikit bebanmu itu? Bolehkah aku terus berada di sampingmu? Saling menyelami lebih dalam satu sama lain. Mengisi kekosongan yang ada. Berbagi suka maupun duka. Bolehkah aku berharap padamu.. Yesung-ssi?

So Eun lalu menolehkan kepalanya ke sekitar mereka. Orang-orang yang tadinya enggan untuk menoleh, justru sudah berkumpul mengelilingi mereka saat ini. Lalu tanpa diminta, koin-koin dan kertas-kertas uang itu bertebaran di depan mereka. Melayang di udara, lalu sampai di tanah dengan bunyi khas koin jatuh. Tercecer di sekitar mereka dengan jumlah yang banyak. Sungguh luar biasa, pikir So Eun.

Senyum bahagia tak henti-hentinya terpatri di wajah anak kecil itu. Matanya tak lepas dari banyaknya uang yang ada di depannya saat ini. Sangat sangat banyak. Baru pertama kali ini dia mendapatkan uang sebanyak itu. Dia merasakan kebahagiaan yang amat sangat. So Eun dan Yesung yang melihatnya ikut tersenyum. Kali ini senyum Yesung lebih lebar dari senyum laki-laki itu sebelumnya. So Eun yang menyadari itu kembali merasakan kebahagiaan di hatinya. Sungguh hari ini adalah hari yang membahagiakan, mendapat dua hadiah senyum dari laki-laki itu. Yesung yang sadar ditatap oleh So Eun mengangkat wajahnya dan membalas tatapan So Eun. Mata keduanya bertemu. Senyum Yesung di wajahnya semakin melebar. Mata kucingnya semakin sipit ketika dia tersenyum.

Begini rupanya saat kau tersenyum.. Sangat tampan dan mempesona. Pantas saja kau tak pernah tersenyum. Karena kalau kau tersenyum, semua wanita akan langsung meleleh hanya dengan melihat senyummu itu.

***

Kim So Eun terus berlari di antara orang-orang yang berjalan di trotoar itu. Sejak keluar dari pintu restoran tadi, dia langsung menuju halte terdekat. Tapi sialnya, bus yang biasa membawanya menuju Sungai Han mengalami kecelakaan sore itu, hingga ia dan penumpang lainnya diharuskan menunggu cukup lama untuk mendapatkan bus pengganti. Tapi So Eun tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Hari sudah semakin sore, dan sebentar lagi akan gelap. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berlari saja dari halte itu menuju Sungai Han. Ia tidak bisa bersabar saat ini, laki-laki itu pasti sudah menunggunya lama di sana. Yesung akan heran dan khawatir kalau So Eun tidak segera tiba di sana. Dan So Eun tidak mau Yesung menghawatirkannya. So Eun tidak ingin menambah beban pikiran Yesung.

Akhirnya So Eun tiba di tempat biasa. Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk berlari, So Eun akhirnya sampai di tepi Sungai Han, tepat di dekat laki-laki itu. Nafasnya putus-putus karena berlari cukup jauh. Ia merunduk, menahan kedua tangan pada kedua lututnya. Yesung yang sejak tadi menunggu kedatangan So Eun dengan perasaan khawatiir karena gadis itu tak kunjung datang, kini menolehkan wajahnya ke arah So Eun. Dan betapa terkejutnya dia melihat kondisi So Eun saat ini. Dia segera mendekat kepada gadis itu, lalu ikut merunduk untuk melihat kondisi So Eun.

“Kau tak apa-apa?” Yesung menyentuh bahu So Eun. Bertanya dengan nada khawatir. Tapi So Eun hanya menggelengkan kepalanya. Lalu ia menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah Yesung. Seketika itu juga Yesung dapat melihat wajah So Eun yang sedikit pucat dan berkeringat. Apa gadis ini baru saja berlari? Tanya Yesung dalam hati.

“Kau baik-baik saja?” Yesung kembali bertanya.

“Um. Kau bisa lihat kan. Maaf aku terlambat.” So Eun berusaha meyakinkan Yesung kalau ia baik-baik saja.

“Tunggu sebentar, jangan kemana-mana.” Kata Yesung, lalu berlalu dari hadapan So Eun.

So Eun sendiri hanya diam saja. Menunggu Yesung dengan patuh. Tak lama, Yesung kembali dengan membawa sebotol air putih di tangannya. Ia menyodorkan air itu kepada So Eun, yang langsung diterima So Eun dengan senang hati.

“Gomawo” ucapnya, lalu segera membuka botol air itu dan meminumnya. Setelah menenggak hampir setengah isi air di dalam botol itu, So Eun menghentikan kegiatan minumnya dan kembali menatap Ysung dengan senyum indah di bibir tipisnya. Senyum indah yang selalu membuat hati Yesung berdesir dan jantungnya bekerja di luar batas normal. Membuat Yesung secara tak sadar ikut mengembangkan senyumnya.

“Kalau kau memang sedang sibuk dengan pekerjaanmu, kau tak perlu memaksakan diri untuk datang ke sini.” Yesung memulai percakapan di antara mereka berdua setelah sekian detik saling menatap dalam diam.

“Aku sama sekali tak pernah merasa terpaksa untuk datang ke tempat ini. Ini adalah kemauanku. Soal keterlambatanku, maaf. Ini di luar dugaanku.” So Eun menjawab pertanyaan Yesung dengan tenang.

“Tadi, saat aku berniat keluar restoran, bosku tiba-tiba memanggilku kembali. Dia menyuruhku untuk melebihkan jam kerjaku hari ini. Katanya ada karyawan yang telat datang, dan aku diminta mengisi kekosongan itu untuk sementara. Barulah setelah karyawan itu datang, aku bisa pergi. Dan lagi, tadi bus yang biasa kutumpangi untuk sampai ke sini mendadak mengalami kecelakaan. Butuh waktu sekitar dua jam untuk menunggu bus pengganti. Aku tidak mau membuatmu merasa khawatir dan menunggu terlalu lama. Karena itulah aku berlari sampai ke sini. Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk ongkos taxi.” So eun mengakhiri penjelasan panjang lebarnya dengan sebuah senyuman.

Yesung terus memandang wajah So Eun dengan tatapan tajam namun lembut. Ada semburat rasa bahagia yang terbit di hatinya, mengetahui So Eun melakukan itu semua karena dirinya. Tapi di sisi lain, dia juga merasa bersalah karena So Eun merasa kelelahan  saat ini karena dirinya.

“Apa teman-temanmu di tempat kerja masih memusuhimu?” Tiba-tiba saja Yesung mengalihkan pembicaraannya.

“Tidak. Mereka sudah mulai bisa menerimaku lagi, setelah aku selalu menolak setiap tip yang diberikan oleh pelanggan kepadaku. Aku juga tidak tahu, kenapa mereka senang memberiku tip, padahal kerjaku sama saja dengan yang lain.” So Eun mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di pikirannya. Kenapa dia sering mendapat tip dari pelanggan yang dilayaninya? Jawaban Yesung selanjutnya membuat rona merah di pipinya yang berisi.

“Karena kau sangat cantik.”

Benarkah? Benarkah yang dikatakannya tadi? Aku tidak sedang bermimpi kan?

“Heizzz.. Kau sudah berani menggodaku sekarang?” So Eun berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ah, tidak. Jantung So Eun memang selalu berdetak lebih cepat dari biasanya ketika dia berada di dekat Yesung. Tapi kali ini, mendengar pujian Yesung untuk dirinya tadi, membuat detakan jantungnya berkali-kali lebih cepat.

“Aku tidak sedang menggodamu. Itu memang kenyataannya.” Dia berkata sangat tenang. Tak ada raut kebohongan di wajahnya. So Eun semakin tersipu dibuatnya. Tapi cepat-cepat So Eun berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ngomong-ngomong Yesung-ssi, aku tak pernah melihatmu membawa kamera. Bukankah kau pernah bilang bahwa kau seorang fotografer? Tapi aku sama sekali tak pernah melihatmu menenteng kamera.” Hal ini sudah lama ingin ditanyakan So Eun. Tapi dia selalu mengurungkan niatnya itu karena takut menyinggung perasaan Yesung. Baru kali inilah dia berani menanyakan hal itu kepadanya.

“Aku memang tak pernah membawa kameraku kecuali saat aku bekerja.”

“Kenapa? Maksudku, bukankah bagi seorang fotografer, setiap objek yang dilihatnya yang dianggap menarik harus segera diabadikan dalam kamera? Menganggap bahwa berburu objek-objek tertentu untuk dipotret sudah seperti surganya dunia? Aku pernah membacanya di sebuah majalah.” Tanya So Eun heran.

“Benarkah? Aku malah baru mengetahui hal ini darimu. Mungkin aku sedikit berbeda dari fotografer pada umumnya.”  Jawab Yesung seadanya.

“O.. Kenapa kau tak menjadi penyanyi saja Yesung-ssi?”

Pertanyaan So Eun kali ini membuat Yesung yang sejak tadi memandang ke arah Sungai Han menolehkan pandangannya ke arah gadis itu.

“Kau memiliki suara yang sangat indah. Kenapa kau tak bernyanyi saja? Itu terlihat lebih cocok untukmu. Menjadi seorang penyanyi.” So Eun melanjutkan kembali kata-katanya.

Yesung menelan ludahnya. Kata-kata So Eun mengingatkannya pada seseorang. Kata-kata itu sama persis dengan yang dikatakan orang itu padanya. Yesung berusaha meredam rasa sakit yang kembali menggerogoti hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan berat. Mungkin ini waktunya ia menceritakan semua itu pada so Eun. Mungkin ini waktunya So Eun mengetahui masa lalunya.

TBC

18 pemikiran pada “Snow (Part 1/2)

  1. Waaaa kereeennn . Suka banget sm ceritanya . YeSso ♥
    Sso adalah semangat yeye disaat ia sedang rapuh.
    Dan sepertinya cinta hadir diantara mereka . Uwaaaa
    Suka bangeeettttt . Lanjut lanjut , part end nya cepetan yaaa😀

  2. Wah Sso brhasil membwt yesung trsnyum # daebaakkk

    penasaran dgn masa lalu yesung yg membwt dia ingin mengakhiri hidupnya

    ditunggu kelanjutan nya eon

  3. Woaa ,I can’t say anything (y)
    Sweeet ngedd ….next jgn lma2 yo…:*

    Cmangatdh :*

  4. Yeayy Yesso Couple….
    Aku suka banget crita.y … Suka sma sifat.y yesung,,trus ktemu sma soeun yg ceria…😀
    Penasaran,apa yg sbnar.y trjadi sma yesung yah….
    Aduh sso udah mulai cinta tuh ma yesung..
    Part 2.y cepat d.publish yah… Hehehey .. ;D

  5. Waaaa…keren suka banget sama critanya.
    Yeahh….akhirnya sso eonni bisa buat yeppa tersenyum lagi😀
    Pnasaran nh sama masa lalunya yeppa!!
    Di tunggu part 2nya🙂

  6. Waaah ff yesso couple fvorit sya ff nya krn bgt ska ma karakter bang yeye yg misterius n krakter sso yg ceria hehe d tgu next part nya chingu pnsrn ma crta msalalu nya bang yeye ^^

  7. keren bgt chingu ceritanya ska karakter sso yg polos dan ceria , cocok dg yesung yg pendiam ..dan sso so sweet bgt bantuin yeppa ganti baju dan merawatnya tp kasian jg yeppa di tarik 2 kyk org mau antri sembako hehehe .
    ini mah keren bgt chingu dan di tnggu next part nya ..
    figthing

  8. Lanjutkan segera chingu ! 🙂
    Ya ampun jdi beneran pengen denger suara yesung scara langsung dia nyanyi di depan aku, *bisa ga yaa (?)

    Ada apa di masa lalu yesung penasaran !!

  9. Iniii kerennnnn…… (y)
    Yesung Ϋά̲̣̥ηġ. Terlarut dalam kerterpurukan masa lalunya_perlahan ϐïśª di cairkan dengan kehadiran Sso Ϋά̲̣̥ηġ notabne mempunyai kepribadian Ϋά̲̣̥ηġ ceria dan hangat meskipun kehidupan ηγά̲̣̥. Juga miris….🙂

    “Begini rupanya saat kau tersenyum.. Sangat tampan dan mempesona. Pantas saja kau tak pernah tersenyum. Karena kalau kau tersenyum, semua wanita akan langsung meleleh hanya dengan melihat senyummu itu.”
    Ahhhh…. Setujuuuuu bangetttt senyummm bang Awan memang mengagumkan…. Ekekkek🙂

    Suka bangettttt ma kata2 Ϋά̲̣̥ηġ di gunakan untuk menggambarkan Jaln cerita ηγά̲̣̥… H:)

    Penasarannn bangettt_ma kisah masalalu yesung….
    Serta kisah cinta YeSso….
    Nextttt partnya sangat amat di tunggu yea…. ^_^

  10. lanjut onn penaaasaran ma knapa yeppa

  11. Waah adaa ff baru seru ceritanyaa sedih ya spertinya
    Pnsran knp yesung jdi kyk gtu dtnggu part end nya jgn lma2 ya thor hehehe

  12. Wuuaaa keren alur cerita-ny,,jd pnsrn ma klnjt-ny aplgi kisah ms llu yesung yg mmbt-ny sgt trpuruk&klnjutan hbgn-ny dgn soeun,,i hope this story will be happy ending gomawo🙂

  13. keren bnget FF nya, kata-kata dalam FF ini bnar-bnar bikin aq dapet feelnya chingu.. ayoo dilanjut next partnya🙂

  14. bagus thor..
    suka ma karakter sso disini..ceria banget deh…
    feel nya semua nya dapet…

  15. Sebenarrrnya apa yg terjadi dgn yeppa sebenarnya dimasa lalu?
    Ckckckkc yeppa hebat banget ya….jarang tersenyummm hheehe
    penasarannn kelanjutannya chingu sayyy….cpt dilanjutin ya say

  16. Yeee….!!!
    Ceritanya bener-bener seru dan keren…!!! >-<
    Aduh,ngomong apa lagi,ya…? ®garuk kepala
    Suka! Suka! Sukaaa…!!
    Pake banget…!!! ^.^
    Author emang hebat…!! *beribu jempol buat author…! ®pinjem jempol orang sekampung😄
    Aigoo..!
    Gak sabar mau lanjut baca part 2nya..!!!
    Semangat terus,ya Author…!!😉😀🙂
    Pai Pai~

  17. .like_like_like_dtunggu_next_partnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s