Loving You (Part 1/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (1/?)

Agak bingung mau nentuin judulnya. Tapi yang kepikiran cuma ini, selain itu emang suka banget sama lagunya KRY yg satu itu. Sebenernya genrenya ada sadnya juga sih, tapi ada lucu2nya juga nyempil dikit, tapi itupun kalo bisa dibilang lucu sama reader sekalian, mungkin malah garing kali, hahaha.. ya udah deh, gk mau banyak cuap. Monggo dibaca part satunya ya. O ya berhubung baru nulis sampe segini doang, jadi butuh sabar buat nungguin part selanjutnya, itupun kalo ada yg nunggu, kekekeke.. dan makasi banget buat yang udah mau baca ff acakadulku ini.. gomawo.

 

Sahabat

Kim So Eun POV

Selama ini aku hanya memiliki seorang sahabat dan dia adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Namanya Park Ji Hye. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dan sangat merindukannya. Setelah dia memutuskan untuk pergi ke Seoul empat tahun yang lalu, kami hanya berhubungan lewat telepon. Itu pun tak bisa setiap hari. Ibu selalu marah ketika aku menggunakan telepon rumah terlalu lama karena tagihannya akan sangat mahal. Ji Hye juga tidak bisa terus menghubungiku karena dia juga disibukkan dengan kuliahnya di sana.

Ketika dia memberitahukan mengenai kepindahannya kepadaku, aku sempat marah besar padanya. Aku pikir, dia sudah tidak sayang lagi padaku. Bagaimana mungkin dia tega meninggalkanku di sini? Hanya dia temanku satu-satunya, karena memang tak ada yang mau berteman denganku selain dia. Aku masih ingat ketika teman-teman di sekolah menghinaku, dia datang dengan kedua tangan dipingganya. Mata sipitnya melotot ke arah anak-anak yang menghinaku itu. dengan lantang dia berkata “Yaa anak ingusan. Kalian pikir diri kalian hebat dengan menghinanya seperti ini? Kalian pikir kalian lebih baik darinya? Dengar, sekali lagi aku melihat kalian mengganggunya, aku tidak akan segan untuk mematahkan tulang kalian! Mengerti?” aku dan anak-anak yang lain terdiam mendengarnya. Dia benar-benar hebat, pikirku. Semua anak yang tadi menghinaku terlihat ketakutan. Mereka kemudian lari terbirit-birit setelah menjawab dengan anggukan kepala mereka. Sejak itulah kami berteman dekat. Kami bersahabat hingga saat ini. Saling berbagi kisah dan pengalaman bersama.

Sejak bersahabat dengan Ji Hye, tak ada lagi yang berani mengganggu dan menghinaku. Meski tak ada yang mau berteman denganku, tapi setidaknya tak ada lagi yang menghinaku dan itu semua berkat Ji Hye. Itulah mengapa aku sangat menyayanginya. Bagiku, Ji Hye adalah pahlawan, sahabat, sekaligus saudaraku. Aku marah padanya berhari-hari karena kepindahannya itu. Ketika dia datang mencariku ke rumah, aku berpura-pura tidur. Ketika kami bertemu di tempat kerja paruh waktu, aku tidak menegur ataupun membalas sapaannya sama sekali. Hingga akhirnya, aku sendiri lelah dengan tingkahku. Aku sadar tidak bisa marah padanya terlalu lama. Tahu bahwa aku tak punya hak untuk melarangnya. Hidup di Seoul adalah cita-citanya sejak kecil. Kuliah dan bekerja di sana. Itulah mimpinya, aku tidak mungkin menghalanginya untuk meraih mimpinya itu.

Aku sendiri tak tahu mimpiku apa. Selama ini aku menjalani hidup apa adanya. Mungkin satu-satunya mimpi yang aku punya adalah menjalani hidup dengan tenang tanpa beban.  Merasakan hidup normal seperti orang lain, tanpa ada beban berat yang terasa menindih hatiku.

Beberapa hari kemudian, Ji Hye bersama kedua orang tuanya berangkat menggunakan kereta. Kami berpelukan erat sambil terus menangis. Mataku bengkak karena terlalu lama menangis. Dia melepaskan pelukannya “Yaa, berhentilah menangis. Mata indahmu jadi terlihat jelek sekarang.” Dia berusaha menghentikan tangisanku yang semakin menjadi-jadi sementara dia sendiri juga tidak bisa berhenti menangis. “Kau harus baik-baik di sana. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kau sakit. Dan… jangan pernah melupakanku.” Kataku dengan sesenggukan. “Arasseo… Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Wajah cengengmu itu pasti akan selalu kuingat.” Dia mencoba membuatku tertawa, dan kuakui itu berhasil. Kami kemudian tertawa bersama. Lalu berpelukan lagi dan saling mengucapkan selamat tinggal. Dia melambaikan tangannya kepadaku sebelum naik ke dalam kereta. Dengan tersenyum aku membalas lambaiannya. Dia lalu berteriak kepadaku “Aku menunggumu di Seoul…. segeralah menyusulkuuuu…” Belum sempat aku membalas perkataannya, dia sudah langsung masuk ke dalam kereta. Saat itulah aku merasakan kesepian itu lagi. Ketika sahabatku satu-satunya pergi meinggalkanku di sini, sendiri meratapi nasibku yang begitu menyedihkan.

***

Saat itu bulan terlihat sangat indah dan bersinar dengan terang. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kukayuh sepedaku dengan lambat, mengingat kembali kenanganku bersama Ji Hye. Membuat kimchi bersama, membeli teokbokki di depan sekolah dengan uang pas-pasan, bersepeda bersama di sore hari. Aku rindu sekali padanya. Sudah berapa lama ini? Sudah empat tahun. Aku menghela napas. Tak terasa, sudah empat tahun Ji Hye meninggalkanku. Sudah empat tahun pula aku merasa hidup sendirian. Meski hidup bersama ibuku, aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku tahu, dia pasti membenciku, amat sangat membenciku. Aku tahu itu, karena akulah sumber penderitaannya selama ini. Aku yang menyebabkan ibu menderita. Aku memang anak pembawa sial. Mengingat hal itu membuat mataku perih. Rasanya sakit sekali.

Tanpa terasa aku sudah sampai di rumah. Rumah sederhana dengan pagar yang terbuat dari batu-bata yang telah berubah warna menjadi kecoklatan dengan pintu yang terbuat dari kayu yang juga sudah lapuk termakan usia. Di samping kiri pintu masuk, ada pohon bunga Mugunghwa yang akan mekar dari bulan Juli sampai akhir Oktober. Aku sangat menyukai saat-saat dimana bunga itu mekar. Bunga Mugunghwa tidak memiliki tampilan meriah ataupun berbau wangi yang kuat, sehingga tampak biasa saja. Namun bagi orang korea, Mugunghwa melambangkan ketekunan, kelembutan, dan keteguhan. Mugunghwa adalah bunga nasional Republik Korea. Selain bunga Mugunghwa, di depan rumah juga ada beberapa tanaman hias yang berjejer rapi di sana.

Aku meletakkan sepedaku di dekat pohon bunga Mugunghwa. Lalu berjalan memasuki rumah setelah melepas sepatuku terlebih dahulu. Ibu ada di sana, menyaksikan tayangan drama sageuk kesukaannya. Namun pandangan ibu terlihat berbeda saat itu. Ibu seperti melamun. Matanya memang melihat televisi, tapi pikirannya tak ada di sana. Ada apa dengannya? Biasanya dia selalu antusias menyaksikan drama kesukaannya itu, bahkan sering kali tak sadar ketika aku telah kembali ke rumah.

Ketika aku ingin masuk ke kamarku, ibu tiba-tiba memanggilku.

“So Eun-a, duduklah sebentar. Ibu ingin bicara.” Aku berbalik menghadap ibu. Berjalan mendekatinya, dan duduk di samping ibu.

“Ada apa, Bu?” Aku melihat kesedihan serta kelelahan di mata itu. Ibu memandang datar ke arahku. Ia memang tak pernah tersenyum padaku, dan mata sendu itulah yang selalu kulihat setiap kali aku memandangnya. Begitu besarkah kebenciannya kepadaku? Tidak adakah rasa sayangnya sedikitpun padaku?

“Sepertinya kita harus pindah dari sini.” Ibu berkata lirih. Aku terkejut mendengarnya.

“Pindah? Ke mana?” tanyaku.

“Entahlah, mungkin ke Seoul. Di sana Ibu akan mencari pekerjaan yang lebih layak lagi.”

Seoul? apakah itu  berarti aku bisa bertemu lagi dengan Ji Hye? Aku bisa berkumpul lagi dengannya? Oh Tuhan.. aku tidak tahu harus bahagia atau sedih saat ini. Suara ibu kembali menyadarkanku.

“Kita akan berangkat minggu depan. Ibu akan mengurus semuanya terlebih dahulu. Kau juga bersiap-siaplah.”

Ibu mematikan televisi dengan menggunakan remote ditangannya, lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

“Kenapa Ibu tiba-tiba ingin pindah?” Aku tidak dapat menahan diri untuk menanyakan hal ini. Meski dalam hati aku merasa sangat senang dengan berita ini, tapi tetap saja aku ingin tahu alasan dibalik kepindahan kami. Ibu terdiam cukup lama. Namun jawaban ibu selanjutnya membuat hatiku remuk-redam.

“Apa aku harus memberi alasan kepadamu? Kalau kau memang tidak ingin pindah, kau bisa tetap tinggal di sini dan aku sendiri yang akan pergi. Terserah kau mau ikut atau tidak.” Ibu lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku mematung. Rasanya sakit sekali. Bagaimana bisa ibu bicara setega itu padaku. Rasa bencinya sebegitu kuatkah? Apa ibu benar-benar tak menginginkanku? Lalu kenapa ibu mau melahirkanku ke dunia ini? Kenapa dia tidak bunuh aku saja ketika masih janin dulu? Kenapa dia tega menyiksa batinku seperti ini? Aku terus menangis tanpa suara. Merasakan angin malam dari jendela yang masih terbuka  menusuk kulit dibalik baju tipis yang kukenakan sekarang. Aku memeluk kedua lututku, membenamkan wajahku di sana. terus menangisi hidupku ini.

***

Pagi harinya, dengan mata bengkak karena semalaman menangis, aku berniat menelpon Ji Hye untuk mengabarkannya mengenai kepindahanku ke Seoul. Tapi saat nada sambung sudah terdengar di telingaku, aku buru-buru meletakkannya. Aku berubah pikiran. Aku akan memberi kejutan untuknya. Ya, kurasa itu ide yang bagus. Aku akan langsung mendatanginya ke tempat dia bekerja.

Setiap kali menelponku, dia selalu bercerita tentang perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Betapa besarnya perusahaan itu, orang-orang kantor yang baik dan ramah, ruangan yang harum dan nyaman, sampai bosnya yang dia bilang sangat tampan. Hahaha.. Dia tidak pernah ketinggalan bercerita padaku mengenai hal yang terakhir itu. Dia juga pernah memberikan alamat perusahaan tempat bekerjanya itu padaku. Jadi aku putuskan untuk langsung menemuinya di sana. Aku yakin dia pasti akan terkejut sekali nantinya. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan  hal itu.

=============================================

Pertemuan yang ‘Menyenangkan’

Cho Kyuhyun POV

Aku berjalan menuju dapur sambil terus mendengarkan ocehan ibu. Aku melirik jam sekilas, sudah jam sebelas malam, dan ibuku masih saja terus meneceramahiku di seberang sana. Bayangkan, dia menelponku sejak satu jam yang lalu. Awalnya aku tidak berniat untuk mengangkat telepon darinya, tapi aku tidak setega itu pada ibuku sendiri. Aku terus mendengarkannya sambil menuangkan kopi ke dalam mug.

“Bu, apa tidak ada bahan pembicaraan yang lain? Aku bosan mendengar Ibu bertanya tentang hal itu terus.” Keluhku padanya. Setiap kali kami bicara, pasti selalu membahas mengenai pernikahan.

“Aku baru 25 tahun, Bu. Bukan 35. Aku pasti akan memperkenalkan calon pasanganku kepada Ibu, tapi tidak sekarang. Saat ini aku masih ingin menikmati kesendirianku, Bu. Tolong mengerti.” Aku menghela napas panjang.

“Ibu tahu, tapi Ibu sudah tak sabar ingin memiliki cucu. Jadi cepatlah menikah dan berikan cucu untuk Ibumu ini. Apa kau tahu, semua teman-teman Ibu sudah memiliki cucu yang cantik-cantik dan tampan-tampan. Hanya Ibu yang belum.. Kyuhyun-a, segeralah berikan Ibu cucu.” Ibu merayu dengan nada manja seperti anak kecil yang merayu agar dibelikan permen oleh ayahnya. Hei, di sini yang jadi anaknya, aku atau ibu sih?

“Aku usahakan.” Kataku akhirnya. Aku sudah sangat lelah saat ini karena pekerjaan kantor yang sangat banyak, ditambah lagi dengan ocehan ibu yang tidak kunjung berhenti. Mungkin dengan jawabanku tadi bisa menghentikan ocehannya untuk malam ini, aku benar-benar ingin istirahat. Dan sepertinya itu berhasil.

“Benarkah?? Ibu senang mendengarnya. Kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya. Jangan bohongi Ibu, Kyuhyun. Ibu pegang kata-katamu itu. Segera cari istri dan berikan cucu untuk Ibu, Arasseo?”

“Ye..” Aku menjawab singkat.

“Baiklah Ibu tutup teleponnya. Beristirahatlah, kau pasti lelah seharian ini. Jaga kesehatanmu. Mimpi indah, anakku..”

Sambungan terputus. Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Meskipun cerewet, tapi aku sangat menyayangi ibuku. Dia selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum.  Aku lalu berjalan menuju sofa putih yang ada di ruang tengah. Menyalakan televisi. Menonton entah acara apa namanya, ditemani secangkir kopi panas ditanganku. Aku kembali teringat permintaan ibu tadi. Bisakah aku mendapatkan istri dalam waktu dekat ini? Istri yang bagaimana yang ibu inginkan? Apakah dia bisa membuatku bahagia nantinya? Apa dia bisa memberikan kehangatan untukku? Apa dia bisa setia kepadaku? Perasaan sakit karena diduakan sungguh sangat menyakitkan. Dan aku tidak ingin merasakannya untuk kedua kalinya.

***

Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kamar membangunkanku dari tidur nyenyakku pagi ini. Aku merenggangkan otot-ototku. Kemudian menggapai-gapai jam kecil di atas meja samping tempat tidurku. Aku membelalakkan mata ketika melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam. Sudah jam sembilan pagi. “Ohh, shit!!” Aku mengumpat pelan. Bagaimana bisa aku terlambat bangun seperti ini?

Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi. Sekitar sepuluh menit aku keluar dan langsung menyambar pakaian kantorku dari dalam lemari. Aku harus secepatnya sampai di kantor. Sebentar lagi ada rapat penting dengan para pemegang saham Star Group, perusahaan yang aku pimpin saat ini. Star Group adalah anak perusahaan dari StarMoon Group. Perusahaan multinasional yang dikelola oleh keluarga besarku. Ayahku sendiri memegang jabatan paling penting yakni sebagai pemimpin StarMoon Group. Itu karena beliau adalah anak sulung di keluarganya. Beliau bekerja keras untuk terus mengembangkan perusahaan itu hingga akhirnya dapat berkembang pesat seperti sekarang. StarMoon Group memproduksi berbagai jenis barang dalam segala bidang. Cakupan pemasarannya tentu saja tak hanya sebatas dalam negeri, namanya saja multinasional. Produk-produk StarMoon Group telah menyebar ke berbagai pelosok dunia dengan cabang-cabang yang didirikan di berbagai negara.

Aku sendiri mengambil alih Star Group ini. Star Group bergerak di bidang  elektronik. Memproduksi segala macam barang elektronik untuk semua kalangan, baik kalangan atas maupun menengah ke bawah. Aku selalu mengedepankan kualitas dalam setiap produksi barang di Star Group. Cukup tegas kepada karyawan-karyawanku dan tidak akan segan untuk membentak mereka jika melakukan kesalahan. Aku tidak suka mereka bekerja asal-asalan dan tidak profesional. Aku tidak akan segan memecat karyawanku yang bekerja dengan tidak teliti. Aku juga  menyeleksi secara ketat setiap orang yang melamar pekerjaan di perusahaan ini. Tidak akan kubiarkan perusahaan ini hancur karena kualitas pekerjanya yang tidak baik.

Tiga puluh menit kemudian, aku telah sampai di kantor. Aku segera memasuki kantor dengan sedikit terburu-buru. Sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Baru saja aku memasuki pintu utama, ponselku  berbunyi. Aku segera merogoh saku  celanaku. Karena sambil menjinjing tas kerjaku, aku sedikit kesulitan untuk mengambil ponselku. Setelah mendapatkannya, aku melihat layar smartphoneku. Satu panggilan masuk dari Park Ji Hye. Sekretarisku itu pasti sedang bingung sambil mondar-mandir di depan ruanganku saat ini. Dia memang selalu begitu setiap kali gelisah karena hal apapun. Meskipun aku tidak suka dengan kebiasaan buruknya yang satu itu, tapi aku sangat mempercayainya. Dia adalah partner terbaikku di perusahaan ini. Hasil kerjanya selalu memuaskan. Kami juga sangat akrab di luar masalah kerja. Aku selalu merasa nyaman setiap kali bercerita kepadanya. Aku juga sering meminta pendapatnya mengenai masalah-masalah yang aku hadapi, termasuk mengenai permintaan ibuku yang menyuruhku mencari pendamping hidup. Dia selalu memberikan solusi untuk setiap masalah yang kuceritakan kepadanya. Dia juga menyuruhku untuk mulai membuka hati bagi wanita lain dan melupakan kenangan pahit yang pernah kualami dulu. Andai saja Ji Hye belum memiliki kekasih, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu mungkin juga tidak akan terjadi, karena hubunganku dengan Ji Hye memang sepantasnya hanya sebatas hubungan pertemanan saja. Dia adalah teman bicara yang sangat menyenangkan.

Berbeda denganku, Ji Hye justru lebih banyak berbicara mengenai kehidupannya di desa dulu. Ia selalu antusias bercerita mengenai sahabatnya. Dia menceritakan segala hal tentang sahabatnya itu. Bagaimana malangnya kehidupan  gadis itu. Dihina dan dijauhi oleh teman-temannya. Kegiatan apa saja yang sering mereka lakukan bersama. Bagaimana gadis itu selalu menangis karena perlakuan ibunya. Cerita Ji Hye seakan-akan membuatku merasa telah mengenal lama gadis itu, yang pada kenyataannya tak pernah kulihat sama sekali.

Ketika aku berniat mengangkat telepon dari Ji Hye, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang cukup berat menghantam tubuhku. Secara refleks aku menahan tubuh seorang wanita yang ternyata mengenai tubuhku tadi. Aku menatap mata wanita itu. Mata yang sangat indah, pikirku. Mata indah itu juga balas menatapku. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seakan terbius, kami berpandangan cukup lama, hingga akhirnya suara  batuk yang dibuat-buat oleh seseorang di depan kami menyadarkanku. Aku buru-buru melepaskan peganganku pada pundak wanita itu. Dia juga terlihat salah tingkah di depanku.  Aku berusaha menetralkan detak jantungku yang tidak beraturan ini. Menarik nafas lalu membuangnya, aku kemudian angkat bicara.

“Ada apa ini?” Aku bertanya dengan nada tegas kepada dua security yang ada di depanku.

“Begini, Cho sajang-nim. Nona ini memaksa ingin masuk ke dalam. Dia mengaku sebagai teman dari Park biseo-nim. Tapi Park biseo-nim tidak pernah berpesan kepada kami bahwa beliau akan kedatangan tamu. Jadi kami melarangnya masuk ke dalam.” Jelas salah seorang  security itu.

“Yaa.. Ajeossi. Aku tidak berbohong. Ji Hye adalah temanku dan sekarang aku ingin bertemu dengannya. Kalau kalian tak percaya, tanyakan langsung saja padanya!” Gadis tadi tiba-tiba berteriak marah kepada kedua security itu. Aku memperhatikan wanita di sampingku ini dari atas sampai bawah. Sekilas memang tak ada yang menarik dari wanita ini selain wajahnya yang sangat cantik meski tanpa make-up sekalipun. Dia memakai baju terusan warna putih selutut yang terlihat sudah lusuh. Rambut hitam lurus yang melewati bahunya. Serta bandana berwarna putih yang menghiasi kepalanya. Dia menggunakan flat shoes yang juga terlihat lusuh dan dekil. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Gadis itu juga memiliki bentuk tubuh yang ideal. Kalau saja dia menggunakan pakaian yang sedikit lebih baik, aku yakin banyak laki-laki yang akan tergila-gila dengan wanita ini. Mataku kembali naik ke wajahnya, dan seketika aku melihat matanya menatap tajam ke arahku. Sepertinya dia sadar bahwa aku baru saja  memperhatikannya.

“Aku akan menanyakan langsung kepada Park biseo-nim.” Ujarku akhirnya. Lalu mengalihkan perhatianku pada ponsel yang kupegang sejak tadi. Mencari nomor Ji Hye dan menekan tombol call. Aku lalu menempelkan ponselku di telinga. Tidak butuh waktu lama, karena Ji Hye langsung mengangkat teleponku.

“Park Ji Hye-ssi, apakah kau memiliki seorang teman wanita bertumbuh pendek, gendut, dan memakai pakaian lusuh?” Aku sengaja membesarkan volume suaraku. Ketika aku melirik ke arah gadis itu, dia sudah berkacak pinggang sambil melotot ke arahku. Hahahaha.. Dalam hati aku tertawa puas. Aku yakin, gadis ini pasti sangat marah padaku saat ini. “Dia mengaku sebagai temanmu.” Aku berkata setelah mendengar perkataan Ji Hye. “Aaahh.. tidak, kau tidak perlu datang ke sini. Aku akan segera membereskannya dan segera ke ruang rapat. Baiklah, aku tututp teleponnya.”  Aku memasukkan ponselku ke dalam saku celana. Gadis itu masih terus menatapku sangar.

“Apa maksud perkataanmu tadi, Tuan?” Dia bertanya kepadaku. Terdengar dengan jelas nada marah pada kalimatnya barusan. Mukanya merah padam karena emosi, terlihat sangat lucu dimataku. Tapi aku tidak takut sama sekali dan malah membalas pertanyaannya dengan santai.

“Aku hanya berkata apa adanya. Kenapa? Apa ada yang salah?”

“Tentu saja salah. Dengar ya, Tuan. Pertama, aku sama sekali tidak pendek dan aku juga tidak gendut. Yang kedua, bajuku ini tidak lusuh sama sekali. Dan yang ketiga, bagaimana bisa Anda menanyakan pada Ji Hye tanpa memberitahu namaku padanya?” Ckck..Wanita ini masih saja melotot ke arahku. Tapi justru malah membuatnya terlihat semakin lucu saja di mataku. Aku maju selangkah mendekati gadis itu.

“Dengar, Nona. Apa yang aku katakan tadi adalah kenyataan, tidak ada yang salah dari ucapanku tadi. Kalau aku tidak menyebutkan namamu tadi, itu salahmu sendiri tidak berinisiatif memberitahukan namamu padaku. Dan satu lagi, Ji Hye sama sekali tidak memiliki teman sepertimu. Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Jadi lebih baik segera keluar dari kantor ini… Hei kalian, apa yang kalian lakukan? Cepat bawa wanita ini keluar dari sini!” Aku balas menatap wajah gadis itu dengan sangar. Meski dalam hati aku tertawa puas melihat kemarahannya yang memuncak. Sebenarnya aku ingin sedikit mengulur waktu lebih lama lagi, bermain-main dengan gadis lucu ini cukup menyenangkan. Tapi aku harus segera menuju ruang rapat sekarang juga. Kulihat gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan.

“Lepas-kan.. Hei, Tuan. Dengar. Aku pasti akan mengadukan perbuatanmu ini kepada Ji Hye. Apa kau tidak tahu? Ji Hye sangat dekat dengan pemilik perusahaan ini. Aku jamin, setelah Ji Hye mengetahui ini, dia akan segera melaporkanmu kepada bos kalian dan kau.. akan segera dipecat!” Gadis itu berkata dalam satu tarikan napas. Hah, apa dia bilang? Memecatku? Yang benar saja. Dasar gadis aneh. Apa tadi dia tidak mendengar security itu memanggilku dengan sebutan sajangnim?!

***

Kim So Eun POV

Sial, dia pikir dia siapa berani-beraninya mengataiku seperti tadi. Aku terus saja menggerutu tidak jelas sambil keluar dari perusahaan menyebalkan ini. Orang-orang yang tadi melihat pertengkaranku dengan laki-laki itu terus saja memandangku dengan tatapan kasihan sekaligus merendahkan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin Ji Hye tahan bekerja di tempat ini? Semua yang dia katakan tentang perusahaan ini tidak ada yang benar dimataku saat ini, kecuali bangunan perusahaan yang memang amat sangat besar.

Aku segera mencari telepon umum terdekat untuk menelpon Ji Hye. Aku memang tidak memiliki ponsel karena ibu  tidak pernah berniat membelikan ponsel untukku. Awalnya aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena kupikir aku memang tidak membutuhkannya. Tapi melihat situasiku sekarang, kurasa ponsel adalah barang yang sangat kubutuhkan saat ini. Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya aku menemukan telepon umum juga. Itu dia, berada di pinggir jalan di taman yang tidak terlalu ramai pengunjung ini. Mungkin karena saat ini adalah jam kerja. Aku pun segera berjalan menuju  telepon umum itu. Kemudian masuk ke dalamnya. Telepon umum ini dibingkai oleh dinding yang terbuat dari bahan yang dicat merah dan kaca transparan. Membuat orang-orang di luar sana dapat melihatku di dalam sini. Aku lalu memasukkan beberapa koin dan memencet nomor telepon Ji Hye yang sudah kuhapal di luar kepala. Menunggu jawaban darinya, tapi berkali-kali kucoba tetap tak ada jawaban sama sekali. Kenapa Ji Hye tidak mengangkat teleponku? Aku sedikit sedih dan kecewa mendapati hal ini. Tapi aku tidak ingin berburuk sangka pada sahabatku itu. mungkin dia saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lebih baik aku temui dia di rumahnya saja nanti. Tak apa, yang penting aku bisa bertemu dengannya walaupun aku sudah tak sabar ingin segera berjumpa dengannya.  Lebih baik sekarang aku kembali ke rumah baruku dengan ibu. Mengingat itu, membuatku merasa bersalah karena telah meninggalkan ibu begitu saja. Tadi sesampainya di rumah baru kami, aku segera pamit kepada ibu untuk menemui Ji Hye. Padahal ibu sangat membutuhkan bantuanku untuk memindahkan barang-barang bawaan kami. Sekarang aku merasa sedikit menyesal dengan perbuatanku ini.

“Aku pulang..”

Tak ada sahutan sama sekali. Mungkin ibu sedang tidak ada di rumah. Berniat membuka pintu, aku kemudian merogoh tas kecilku untuk mengambil kunci cadangan yang ibu berikan tadi pagi kepadaku. Tapi ternyata pintu itu tak terkunci sama sekali. Hmm.. Ibu pasti lupa lagi mengunci pintu. Kebiasaan buruk ibu yang satu itu tidak pernah hilang. Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk? Entahlah, sepertinya ibu tidak terlalu mencemaskan hal itu. memangnya apa yang mau dicuri di rumah kecil begini?

Aku masuk ke dalam rumah. Kulihat barang-barang bawaan kami dari desa masih berserakan di mana-mana. Kardus-kardus yang berisi barang-barangku dan ibu masih berserakan di lantai. Tas besar yang berisi pakaian-pakaianku dan ibu pun masih ada di ruang tengah. Rumah ini tidak terlalu besar, sama seperti rumah kami di desa. Hanya terdiri dari dua kamar yang sempit, sebuah kamar mandi, dapur dengan peralatan masak yang seadanya dan sebuah meja meja dengan empat buah kursi, serta ruang tengah sebagai ruang tamu dengan sofa lusuh yang kami bawa dari desa. Di depan rumah sudah ada tanaman-tanaman hias, sepertinya itu sengaja ditinggalkan oleh pemilik rumah yang dulu. Aku lalu berjalan ke kamar untuk mencari ibu, tapi tidak menemukannya di mana pun. Sepertinya ibu memang sedang keluar. Karena merasa tidak ada pekerjaan lain, aku akhirnya mulai membereskan barang-barang yang masih ada di lantai. Meletakkan di tempat yang sesuai,  memasukkan pakaianku dan ibu ke dalam lemari, lalu membersihkan lantai yang terlihat kotor. Kamarku sendiri berada tepat di samping kamar mandi. Sementara ibuku memilih kamar yang satunya lagi. Setelah semua selesai, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa lusuh ini. Di temani  segelas air putih dingin yang baru saja aku ambil dari lemari es. Tidak ada bahan makanan apapun di sana selain air putih ini. Sepertinya ibu keluar untuk membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas yang kosong itu. membersihkan rumah ternyata membuat badanku lelah. Sambil bersandar di sandaran sofa, aku mulai merasakan kantuk menyerangku. Mataku terasa berat, dan akupun tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.

Aku terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur. Mungkin ibu baru saja pulang membeli bahan makanan dan langsung memasukkannya ke dalam kulkas sebagai persediaan untuk kami selama beberapa hari ke depan. Jam berapa ini? Aku melirik jam yang tergantung pada dinding di depanku. Sudah sore rupanya. Aku lalu beranjak dari sofa menuju kamarku. Mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Berniat  membersihkan diri setelah seharian melakukan kegiatan yang melelahkan. Kulitku juga terasa sedikit lengket karena keringat. Tidak lebih dari 15 menit, aku pun keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarku. Lalu bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ji Hye dan keluarganya. Aku ingin segera menemuinya. Ji Hye bilang, kalau tidak ada lembur, dia biasa pulang sekitar jam 6 sore. Aku memilih baju seadanya. Celana jeans dan baju kaos warna abu rokok. Aku tidak memakai make-up sama sekali. Itu lebih terasa nyaman untukku. Rambutku aku biarkan tergerai lurus melewati bahu. Aku memang lebih suka tampil sederhana seperti ini. Selain tidak memiliki uang yang cukup untuk berdandan lebih cantik, aku memang lebih nyaman dengan ini. Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ibu untuk ke rumah Ji Hye. Ibu mengingatkanku untuk tidak pulang larut malam dan menitipkan salam kepada kedua orang tua Ji Hye bahwa ia tidak bisa datang untuk saat ini menemui mereka. Lagi-lagi wajah datar itu yang kulihat dari ibuku. Tidak bisakah dia memberikan senyumnya sedikit saja kepadaku? Berbekal sebuah alamat yang ada di genggamanku saat ini, aku berjalan menuju halte bus di dekat rumah. Tak sabar ingin memeluk Ji Hye secepatnya karena sudah terlalu rindu padanya.

Setelah beberapa menit di dalam bus, akhirnya aku sampai di sini. Aku melirik jam di tanganku. Sudah pukul lima lebih tiga puluh menit. Aku lalu mempercepat langkahku. Ingin secepatnya sampai di rumah Ji Hye sebelum dia pulang. Aku ingin memberi kejutan untuknya.

Aku mencocokkan alamat rumah di depanku ini dengan yang tertera di selembar kertas yang aku pegang saat ini. Benar, ini alamatnya. Setelah yakin, aku kemudian memberanikan diri memencet bel rumah itu.

***

“Kim So Eun, kaukah ini? Aigoo..  Bibi tak menyangka bahwa kau akan datang ke sini. Bagaimana kabarmu dan ibumu, sehat-sehat saja, bukan?” Bibi Park yang tak lain adalah ibunya Ji Hye terlihat terkejut dengan kedatanganku.

“Iya, Bi. Ini aku. Kami baik-baik saja, Bi. Bibi dan keluarga bagaimana?”

“Kami juga baik-baik saja, So Eun.”

“Apakah Ji Hye sudah pulang bekerja?”  tanyaku langsung.

“Kau ini, ada aku di sini tapi kenapa kau malah mencari anak itu?” Bibi bertanya dengan nada bercanda.

“Hahaha.. maaf, Bi. Itu karena aku sangat merindukannya.” Aku tak dapat menahan tawaku mendengar gurauan Bibi Park tadi.

“Arasseo, kau pasti sangat merindukannya. Tunggu saja, sebentar lagi dia juga pulang. Kau mau menunggunya di sini apa di dalam?”

“Aku tunggu di sini saja, Bi. Aku ingin memberikan kejutan untuknya.” Jawabku dengan tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu Bibi masuk dulu. Akan kubuatkan minuman untukmu.”

“Terima kasih, Bi.” Bibi Park lalu meninggalkanku sendiri di teras depan rumahnya. Andai saja ibu bisa tersenyum seperti Bibi Park tersenyum padaku. Aku menghela napas berat. Aku selalu merasa iri dengan anak-anak lainnya yang sebaya denganku. Mereka selalu mendapatkan kasih sayang dan pelukan dari ibunya. Bercanda bersama, bercerita mengenai teman yang disukai di sekolah, membuat kue bersama, memilih baju bersama. Aku ingin sekali merasakan itu semua. Kurasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Mengapa mengingat ini selalu saja membuatku ingin menangis?

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara klakson mobil di luar gerbang. Buru-buru kuhapus air mataku. Sepertinya itu Ji Hye. Aku segera berlari ke arah pintu gerbang, berniat mengejutkannya saat dia masuk nanti.

Dari celah-celah pagar, aku melihat Ji Hye berbicara dengan seseorang yang ada di dalam mobil. Ji Hye sendiri sudah ada di luar, membelakangiku. Aku mencoba untuk melihat lebih jelas seseorang yang ada di dalam mobil itu. sepertinya seorang laki-laki. Siapa laki-laki itu? kekasih Ji Hye kah? Tapi.. tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu. Di mana ya? Ah…. bukankah itu laki-laki yang tadi, yang bertengkar denganku di perusahaan itu. Kenapa Ji Hye bisa bersama laki-laki itu? Jangan-jangan laki-laki itu sengaja mendekati Ji Hye karena takut akan ancamanku tadi pagi. Dia pasti sengaja mendekati Ji Hye, merayunya supaya Ji Hye tidak melaporkannya kepada bos mereka. Laki-laki itu pasti percaya bahwa aku adalah teman baik Ji Hye, tapi dia sengaja tidak mengakuinya karena dia tidak suka akan keberadaanku di sana, terlebih lagi aku telah menabraknya waktu itu. Ya, aku yakin pasti begitu. Hah, dasar laki-laki tidak tahu diri.

Setelah bicara-entah apa- beberapa menit lamanya, mobil itu kemudian mulai bergerak meninggalkan Ji Hye sendiri di sana. Aku pun segera bersiap-siap untuk memberinya kejutan. Ketika Ji Hye membuka pintu masuk kecil di samping gerbang besar itu, aku langsung berhadapan dengan wajah sahabatku itu. Aku tersenyum sangat tulus kepadanya. Awalnya dia terlihat sangat terkejut melihat aku yang ada di depannya, tapi kemudian dia langsung menghambur memelukku dengan sangat erat. sampai rasa sesak menyergapku karena pelukannya yang terlalu kencang.

“So Eun-a… ini benar-benat kau? Benarkah? Astaga..” Dia melepaskan pelukan kencangnya itu. hanya sebentar, karena setelah itu, dia kembali memelukku dengan sangat erat.

Setelah berhasil mengambil napas, aku akhirnya berkata.

“Iya….. ini aku Kim So Eun. Bagaimana? Apakah kau merindukanku?” Tanyaku padanya.

“Bodoh. Tentu saja aku sangat merindukanmu. Kenapa kau malah bertanya seperti itu?” Ji Hye melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut kepadaku. Aku tertawa melihatnya.

“Yaa, kapan kau datang?”

“Baru saja. Ji Hye-ya, aku punya kabar bagus untukmu. Mulai sekarang aku juga akan tinggal di Seoul. Ibuku dan aku memutuskan untuk pindah ke sini. Ibu bilang ingin mencari pekerjaan yang lebih layak di sini.” Aku menjelaskan kepada Ji Hye mengenai kepindahanku ini. Dia tampak terkejut, tapi ada kebahagiaan yang terlihat di wajahnya. Seketika dia tersenyum kepadaku.

“Benarkah? Kau akan tinggal di kota ini? Kau tidak berbohong kan?” Dia masih menatapku tak percaya.

“Heizz.. tentu saja. Untuk apa aku membohongimu?!”

“Aaaahhh… So Eun. Akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu.” Dia berkata sambil langsung memelukku lagi. Kami berpelukan di sana. merasakan kebahagiaan berkumpul kembali dengan sahabatku ini, sungguh sesuatu yang sangat aku nantikan. Kami terus berpelukan sambil  loncat-loncat dengan penuh bahagia. Akhirnya, aku memiliki teman lagi sekarang.

30 pemikiran pada “Loving You (Part 1/?)

  1. . hohoho next … next … next …. ditunggu , DAEBAK nih , KYUSSO m0ment belum muncul hehe😀 . cinta segitiga kah ? ji hye – kyusso ? hmmm penasaran , next part dtunggu jgn lama2 ne😉 HWAITING😀

  2. huaa suka bnget sma alur cerita nya !!

    feel nya dpet bnget !!

    lucu wktu kyusso bertemu !!

    cepat di post lanjutan nya yah

  3. hahahaaha lucu thor, pokoknya kalo pairing kyusso seru klo karakter kyuhyun yg jail, tapi romantissssssss…..
    di tunggu lanjutannya jangan lama okehhhh
    hahahay, seru
    semangat author semoga idenya lancar terussss

  4. Waahh kyknya Kyu tertarik sm Sso tu. Tp msh blm trllu jelas sih ceritanya.

    Oke deh part2 nya cepetan ya Chingu , banyak moment KyuSso nya *Kyusso Shipper Kumat*
    Hwaiting °\(^▿^)/°

  5. Hoh ceritanya seru..
    Kasian banget sso sering di bully sama temen2nya untung ada ji hye xD
    Wah kyuhyun baru ketemu sso udh terpesona gitu xD. Ditunggu kalanjutannya🙂

  6. annyeong,,aaiiiihhh dsr kyu evil kcian sso dicandain jd-ny bad impression kan pdhl br prtmuan prtm,,,brhrp bkn cnt sgitiga diantara mrka brhubung ji hye jg udh pny kekasih,,lbh bgus cwo phk ketiga-nya kyk-ny lbh seru konflikny..dtggu part slnjtny gomawo🙂

  7. hyaaa ada kyusso.. suka sukaa..
    ceritanya jg rame thor. hihi. kyu nya jail sm sso. penasaran klo mereka ketemu lagi apa yg akan terjadi yaa..? ga sabar nih pgn baca kelanjutannya. ditunggu ya thor😀

  8. pershbatan yg indah..knp ibunya soeun bgt..sedih lht soeun digituin…pertemuan kyusso lucu..kyuhyun jth cnt pndangan prtma…dtunggu next partnya

  9. Aigooo…
    Sbnr’y slh so eun eonni p sih????

    First sight in love deh kyk’y….
    Wkwkw

  10. Cerita.y bagus… ;D
    Ada persahabatan,percintaan,dan keluarga….😀
    itu ibu.y sso knapa bnci sma sso yahh ??kasihan sso padahal dy syg bnget ma ibu.y …
    Aigoo…soeun qw memarahi pemilik perusahaan,, ckckck,,bgaimana yah reaksi sso lau tau kyuhyun bos d.tmpat ji hye bkrja… Apa kyuhyun akan brpura pura menjadi pegawai biasa d.hadapan soeun ??penasaran…
    Harus ada lanjutan.y yah… ;D

  11. seperti’a bakal menguras air mata nih hoho
    aku masih bingung asa apa sa sso sehingga ibu’a bebci sso nd org” ngejek sso ??

    kyu ga suka ma ji hye kan nd ji hye ga suka ma kyu kan ??
    kyu cuma buat sso ;)#shipper kumat haha😀

    lanjut cepetaaannnn !!
    semangat🙂

  12. Hahaha kyuhyun iseng bgt

  13. huaaaa ngakak lucu tenan kyuppa jahil bgt, lanjuuuuut yuk
    kyusso nya cuma secuil prit prit😀
    banyakin ye, oya ibu so og g2 ma sso apa ibu tiri kah?

  14. Yeeaaa…. Ϋά̲̣̥ηġ baru_pairing KyuSso…🙂

    ˚◦°•hмм…(―˛―“)..=-?•°◦˚… Kasian juga nasib Sso eunni….
    Sebenernya kenpa_ibunya sangat dingin ma Sso???

    “Park Ji Hye-ssi, apakah kau memiliki seorang teman wanita bertumbuh pendek, gendut, dan memakai pakaian lusuh?”
    Mwooo….. Kyaaaa….. Bener2 nih ephiL satu Ĭηĭ JaiLnya Ъќ ketulungan ….ekekkek

    Ecieee…. Kayaknya_bang ephiL udah tertarik ma Sso nih… Ehemm…ehemmmm
    ĦΔĦΔ:D ĦΔĦΔ=D ĦΔĦΔΔ=))

    Kyaaa…. Sukaa….sukaaa…..
    Ceritanya juga seruuu…. Feelnya dapet bangettt kug….
    Next partnya di tunggu yea…..🙂

  15. cerita yg mengharukan , malang bener nasibx sso ,dibenci ibunya,di jauhi temen2 nya pasti sedih bgt ..untung ada ji hye yg mau berteman sm sso .apa sebenernya yg di rahasiakn ibunya sso , knp ibunya sedingin itu , bikin penasarn ? kyusso awal pertemuan yg lucu .di tggu lnjtnnya bikin penasarn…..

  16. Ff ny kren bgt chingu haha poor buat sso d blng bang kyu pendek, gemuk n lusuh haha si sso gak tau sih law bos ny jin hye tu kn bang kyu pnsrn ma klnjtn ny d tgu next part ny chingu ^^ fighting

  17. Crta yg lucu + sdih,,,,,
    kcian sso, npa oemma,a gto y,,,,
    yah kyu npa ska jhilin sso y,,,,
    kyak,a bkal seru ne,,,,
    d tnggu next part chingu

  18. Ff kyusso seruuuu ceritanya
    Pnsran dgn mreka dtnghunnext partnya thor

  19. Wahh akhir`y mereka bertemu…
    Ahh penasaran sma klnjutan kyusso`y…
    Dtunggu next part`y author…
    Dtunggu dtunggu dtunggu …
    Jngan lama” yah..heheheheheh *digetokauthor

  20. dasar evil.. ji hye mana tau teman yang di katakan kyu itu so eun.. heuuhh evil.. evil.. emang terlalu… kkkk~ ditunggu part 2 nya ya…🙂

  21. kekeke sso eonnie bner2 berprsangaka buruk nihh ma kyu oppa,,
    hahahaha
    lucuuuu n pensaran knpa eomma sso sikapx kyak gtu
    next part dtunggu yahh thor
    kyusso moment

  22. Udah 2 kali baca ini .. Next part dong

  23. Annyeoong salam kenal reader baru….
    FFnya keren…suka banget sama ffnya…
    Kkkk…kayanya kyuppa tertarik nh sama sso eonni :p
    Mau baca part 2nya ya..

  24. Perttemuan KyuSso nya begitu menggemaskan …hhh udh maen bertengkar aje (y)
    Mantabb (y)

    Next ~

  25. ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
    Kkkk~
    Seru seru seru….!!!! >-,<
    Kenapa eomma So Eun eonni gitu,ya…??
    Kasian So Eun eonni,hidupmu begitu menderita eonni…😦
    Semoga eomma So Eun eonni sadar atas kesalahannya selama ini dan mereka berdua bisa hidup layaknya ibu dan anak yang bahagia… *Amien…🙂
    Semangat terus,ya author…!!😉
    Pai Pai~
    ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

  26. Mau bilang next, tai udah ada lanjutannya..
    ehmm panjangin aja kali ya..🙂 haha

  27. Aigoo ,, keren nih thor !!🙂
    mian yaa baru komen .
    Soal’x emng baru baca skrg ff’x . Hha~ /gaknanya/plakk

    Ini keren . Karakter Sso emng paling cocok kalo jd gadis sederhana yg gak aneh”😀
    Suka jg gmna kisah prsahabatan Sso-Jihye .
    gak nyangka trnyata Jihye deket jg sama Kyu .
    Ahh~ mau lgsg lanjut ke part 2’x yaa ..

  28. wah ceritanya keren,alurnya juga seru,ditunggu next partnya,jangan lama2!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s