Loving You (Part 7/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), Lee Sungmin dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (7/?)

 

 

Penghuni Baru

 

 

Cho Kyuhyun

Jalanan di luar terlihat cukup ramai. Kendaraan melintas di sepanjang jalan di bawah sana. Ini sudah waktunya jam makan siang. Mereka yang sudah bekerja sejak pagi tentunya tak akan melwatkan jam makan siang yang hanya sebentar ini. Berkumpul dengan teman sekantor, mengeluhkan pekerjaan yang menumpuk dan seakan tak ada habisnya. Saling berbagi cerita satu sama lain. Ataupun bergosip tentang bos mereka di kantor. Hal-hal semacam itulah yang tak ingin mereka lewatkan sehingga tak peduli seberapa singkatnya waktu makan siang yang mereka dapatkan, mereka tak akan menyianyiakannya begitu saja. Terlalu berharga, kata mereka. Aku heran, apa enaknya membicarakan hal-hal yang tak penting seperti itu? Dulu ketika magang di salah satu perusahaan saat aku masi di bangku kuliah, aku sama sekali tak menyangka akan hal itu. pertama kali aku diajak untuk makan siang berasama, aku sangat antusias. Karena kupikir dengan begitu, akan semakin banyak orang yang kukenal di kantor. Tapi setelah itu, aku tak berniat sama sekali ikut makan siang bersama. Namun mengingat posisiku saat itu yang hanya sebagai anak magang, aku tentu tak mungkin dengan sombongnya menolak ajakan mereka. Alhasil, aku harus mendengarkan keluh kesah mereka semua. Rasanya membuat telingaku gatal saja.

Bicara soal makan siang, harusnya saat ini seseorang sudah mengantarkan makan siang untukku. Seperti yang biasa dia lakukan beberapa hari terakhir ini. Tapi sampai saat ini diapun belum datang.

Sebenarnya aku tahu kenapa dia tak datang mengantarkan makan siang untukku. Karena aku sendiri yang menyuruhnya untuk tetap di apartemenku. ah, lebih tepatnya di tempat tidurku. Aku tak mau dia mengerjakan apapun selain beristirahat sampai panasnya turun. Semalam dia benar-benar membuatku khawatir. Wajah sembab dan pucatnya membuatku cemas. Bagaimana mungkin dia menangis di pinggir jalan dengan kondisi seperti itu?

Mengingat kejadian semalam membuat hatiku terasa sakit. Apa yang membuatnya menangis seperti itu? tangisannya benar-benar membuat hatiku sakit.

Saat dia berdiri dari duduknya dan menghadap ke arahku, entah dorongan darimana tiba-tiba aku memeluknya dengan erat. Menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin. Apa yang sudah terjadi? Kenapa dia menangis seperti ini? Apa karena aku selalu menjahilinya? Apa dia merasa tertekan bekerja padaku? Atau mungkin.. karena laki-laki? Semua kemungkinan itu terlintas dalam benakku, dan harus kuakui ada rasa sakit yang kurasakan memikirkan jika alasan yang terakhir tadi memang benar. Sebenarnya kenapa aku harus sakit hati? Toh jika itu memang benar, bukankah aku harusnya merasa lega? Karena dengan begitu aku justru tak harus merasa bersalah melihatnya menangis seperti ini. tapi kenapa hatiku malah mengatakan sebaliknya? Kata-kata So Eun kemudian menyadarkanku dari lamunan.

“Bi-bisakah kau melepaskan pelukanmu? Aku merasa kesulitan untuk bernafas.” Katanya ragu-ragu. Aku buru-buru melepaskannya. Aish, apa yang baru saja kulakukan?

“Ma-maaf, tadi aku hanya refleks.” Kataku dengan canggung. Jantungku seperti akan lepas rasanya. Kecanggungan menyerang di antara kami. Namun itu tak berlangsung lama, karena So Eun langsung membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya santai. Sepertinya dia sudah bisa mengontrol dirinya. Tapi sayangnya tidak begitu denganku. Aish, sial! Kenapa jantung ini tidak bisa diajak berkompromi sih?! Malah semakin memompa darahku dengan lebih cepat.

“Ta-tadi aku kebetulan ada keperluan di sekitar sini, dan melihatmu menangis seperti anak kecil di pinggir jalan.”

Hebat. Kau hebat Kyuhyun! Bahkan dalam kondisinya yang sedang tidak baik seperti ini, kau masih bisa mengejeknya. Dan sekarang aku merasa menyesal dengan kata-kataku tadi, karena raut wajahnya bahkan tidak berubah sama sekali. Raut sedih itu masih menghiasi wajah cantiknya.

“Mau minum kopi?” tanyaku menghilangkan kesunyian yang tercipta di antara kami. Dia menatapku sejenak, lalu menganggukkan kepalanya tanda persetujuan.

***

So Eun memegang mug yang berisi cappuccino kesukaannya dengan kedua tangannya. Sesekali menghirup aroma kopi itu lalu menyesapnya dengan nikmat. Kemudian kembali meletakkan mugnya di atas meja, dan mengeratkan jasku yang sekarang ada di tubuhnya. Mungkin dia masih merasa kedinginan. aku terus memperhatikannya sejak tadi. Sekilas dia melirik ke arahku dengan canggung, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. mungkin dia sadar sejak tadi aku terus memperhatikan dirinya. Karena terlalu fokus memperhatikan wajah cantik itu, aku bahkan baru sadar kalau dia tak menggunakan alas kaki sama sekali. Pantas saja dia masih merasa kedinginan. dengan segera aku bangkit dari dudukku dan menariknya keluar dari coffee shop ini. Perempuan ini kenapa senang sekali membuatku merasa khawatir?

“Kita mau ke mana Kyuhyun-ssi?” tanyanya. Dia terlihat sedikit menyeret langkah karena sejak tadi aku tak melepaskan genggamanku di tangannya. Membuat dia harus mengikuti langkah panjangku. Aku berhenti ketika sudah sampai di depan mobil, lalu menoleh ke arahnya.

“Ayo masuk. Aku akan mengantarmu pulang.” Kataku. Namun So Eun terlihat kebingungan dengan pernyataanku tadi. jangan katakan kalau dia sedang mencari alasan untuk menolak ajakanku.

“ee..”

Terlihat sekali kalau dia sedang bingung. Menggigit bibir bawahnya sambil memainkan kedua tangan. Perempuan ini, apa susahnya sih mengatakan iya?!

Sebelum dia menjawab tawaranku, aku segera menariknya untuk masuk ke dalam mobil. Terlalu lama jika harus menunggunya berpikir dulu. Dia bisa semakin kedinginan. Tanganku terhenti ketika hendak memasang seat belt, dia mulai angkat bicara.

“Sebaiknya aku pulang sendiri saja, Kyuhyun-ssi.” Katanya sedikit ragu. Aku tahu dia akan berkata seperti ini. Tapi aku tidak mungkin membiarkannya pulang sendiri dengan kondisi yang tidak bisa dibilang baik.

“Tidak. Aku akan tetap mengantarmu pulang.” Kataku tegas sambil memasang seat belt-nya.

“Aku benar-benar tidak apa-apa..” apa maksudnya dengan tidak apa-apa? Sudah jelas dia kedinginan begini.

“Maksudku.. aku tak mungkin kembali ke rumah saat ini. Bisakah kau memberiku tumpangan malam ini saja? Aku benar-benar tak bisa kembali ke rumah malam ini.” terlihat kalau dia sedikit ragu untuk mengungkapkan keinginannya itu.

Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Walau sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan kepadanya, tapi kurasa ini bukan waktu yang tepat. Yang terpenting sekarang adalah membawa gadis itu segera pulang sehingga dia tidak akan semakin kedinginan.

***

Kim So Eun POV

Aku terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kamar. setelah membuka mata, aku sedikit terkejut mengetahui dimana aku berada saat ini. Rasanya benda-benda ini tak asing lagi. Pintu kaca di seberang kamar lengkap dengan jendela kaca besar yang menghubungkan kamar ini dengan balkon, koleksi robot mainan yang terpajang rapi di etalase, cermin besar yang ada di dinding sisi kanan. Dan tak lupa beberapa lukisan bergaya eropa tergantung di dinding sisi kiri tempat tidur. semuanya tidak terasa asing lagi untukku. Ya memang, itu karena setiap harinya aku yang membersihkan kamar yang tak lain adalah milik Cho Kyuhyun. Laki-laki satu itu memang selalu membuatku tak bisa berkata-kata. Entah dengan tingkahnya yang menyebalkan atau dengan tindakan heroiknya seperti yang ia lakukan untukku semalam. Mengingat kejadian semalam membuat perasaanku seperti… entahlah. Aku bingung menjabarkannya seperti apa.

Semalam aku mengalami demam. Sebenarnya tidak begitu parah menurutku, tapi entah kenapa Cho Kyuhyun-laki-laki aneh itu- bersikap berlebihan dengan kondisiku. Bayangkan saja, dia melarangku untuk melakukan apapun. Mengompres kepalaku sepanjang malam sampai-sampai tertidur di sisi tempat tidur ini. Bahkan aku tidak boleh bergerak sesentipun dari tempat tidurnya. Ya Tuhan, aku hanya demam biasa tapi kenapa dia memperlakukanku seolah-olah aku sakit parah? Walau kuakui bahwa sejujurnya aku cukup terkesan dengan perlakuannya.

Kulihat sebuah nampan dengan semangkuk bubur dan segelas air sudah tersaji di meja samping tempat tidur. Tak lupa sebotol obat juga disiapkannya untukku. Ada note kecil juga di sana. Kebetulan sekali, pikirku. Sejak tadi perut ini sudah protes minta diisi. Segera saja kuambil nampan itu. sebelum menyantap sarapanku pagi ini, kubaca terlebih dahulu note yang ditinggalkan Kyuhyun. Dia menyuruhku untuk tidak melakukan pekerjaan apapun hari ini. Dia terlalu berlebihan sepertinya. Walau semalam aku demam, tapi aku yakin seratus persen kalau hari ini aku bisa mengerjakan semuanya tanpa perlu khawatir kondisiku akan menurun lagi. Kalau aku hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun, justru akan membuatku terus mengingat kejadian tadi malam lagi. Ah sudahlah. Lebih baik aku segera makan dan mandi, sebelum pikiranku ini melantur kemana-mana.

 

Aku baru saja akan memulai pekerjaanku ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Siapa yang datang? Kyuhyun? Tapi ini kan masih jam kerja. Untuk apa dia pulang secepat ini?

“YAA, apa yang sedang kau lakukan?”

Seketika aku menolehkan kepalaku ke arah suara yang membentakku tadi. Ternyata memang dia. aish, mengagetkanku saja.

“Membersihkan rumahmu. Memangnya kenapa?” jawabku ringan. Seolah tidak pernah membaca note yang dia tinggalkan tadi.

“Bukankah aku sudah bilang untuk tidak mengerjakan apapun hari ini?!” tanyanya dengan nada kesal.

“Aku tahu, tapi aku tidak bisa. Aku ingin membersihkan rumah. Lagipula demamku sudah sembuh. Kalaupun aku mengerjakan semua ini, aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa.” Jawabku membela diri.

“Kau pikir dirimu Tuhan bisa memastikan semua itu? Dengar, sekarang letakkan kembali semua itu dan beristirahatlah.” kata Kyuhyun dengan tegas sambil menunjuk-nunjuk ember dan pel yang akan kugunakan untuk mengepel lantai .

“Tapi..” aku masih ingin membantahnya. Namun sepertinya percuma melihat tatapannya yang seolah mengatakan ‘aku tidak mau dibantah’. Aish, menyebalkan! Aku berbalik hendak meletakkan ember dan pel ke tempat semula, namun kembali berbalik mengahadap Kyuhyun ketika sesuatu terlintas di pikiranku. Jeda sejenak sebelum aku mulai membuka mulut. Kyuhyun hanya menatapku, menunggu aku mengatakan sesuatu.

“Emm… itu.. ee..”

Aku ragu untuk mengatakan hal ini padanya. Aku takut jika dia tidak bersedia menerima permintaanku ini.

“Emm…” Kyuhyun terlihat menunggu apa yang ingin kukatakan. Tapi mulut ini tak kunjung mengeluarkan seuatu yang sejak tadi pagi sudah kupikirkan matang-matang.

“Ada apa? Cepat katakan.” Katanya tak sabar.

Huft. Baiklah. Aku menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara.

“Begini. Aku sebenarnya tidak bermaksud ingin merepotkanmu atau apapun. Kalau bukan karena masalah itu, aku juga tidak ingin membebanimu. Sungguh, aku tidak berniat sama sekali untuk merepotkanmu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Hanya kamu yang bisa kumintai tolong. Tapi kalaupun kamu tidak bisa juga taka pa. Aku……”

“Apa kau sedang latihan berpidato, huh? Kenapa kau bertele-tele seperti itu? cepat katakan apa yang ingin kamu katakan. Kalau tidak, aku benar-benar akan pergi.” katanya semakin jengkel dengan tingkahku. Aish, tidak bisakah dia melihat bahwa aku sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat agar dia mengizinkanku tinggal beberapa hari di sini?

“Mwo??”

“Eh..” apa tadi aku mengatakan apa yang ada dipikiranku? Apa dia mendengar apa yang kukatakan?

“Baiklah. Kau boleh tinggal di sini.”

“Apa?” kataku tak percaya.

“Aku bilang kamu boleh tinggal di sini.”

Jawaban Kyuhyun benar-benar membuatku senang. Benarkah? Dia mengizinkanku tinggal di apartemennya?

“Gomawoyo. Jinja Gomawo..” kataku sambil tersenyum lebar ke arahnya.

“Tak perlu berterima kasih. Dengan kau tinggal di sini, itu berarti aku tidak akan telat mendapat sarapanku bukan? Pekerjaanku juga akan jadi lebih ringan karena aku bisa menyuruhmu kapan saja aku mau.” Katanya santai dengan senyum smirknya yang terlihat jelas di mataku.

Mwo? Jadi dia mengizinkanku tinggal di sini karena alasan ini? aish.. Tadinya aku berpikir kalau dia benar-benar tulus memberikan tumpangan kepadaku. Tapi ternyata.. aish, laki-laki selalu saja menyebalkan!

Aku lalu berbalik memunggunginya. Berjalan meninggalkannya yang sedang tertawa lebar melihat kekesalan di wajahku. Hah, awas saja kau, Kyuhyun. Akan kubalas nanti!

***

“Apa kau sudah benar-benar merasa baikan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar edisi hari ini yang sedang dibacanya. Sepertinya berita di surat kabar itu begitu menarik perhatiannya.

“Tentu saja.” jawabku.

“Baguslah.” balasnya singkat, dan dia kembali hanyut dalam bacaan yang membosankan itu. Yah, tentu saja membosankan bagi orang yang tidak mengerti tentang dunia politik ataupun bisnis sepertiku. Tapi tidak dengan Kyuhyun. Bisnis adalah makanannya sehari-hari. Setiap saat berkutat dengan data-data perusahaan dan segala hal yang terkait dengannya. Berbeda sekali denganku yang hanya tahu bagaimana cara memasak dan hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga lainnya.

Dulu aku berpikir anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena toh nanti mereka akan jadi seorang ibu rumah tangga yang hanya akan mengurusi soal rumah dan anak. Tapi ternyata pikiranku salah. Setelah melihat perbedaan yang begitu nyata antara aku dan Ji Hye, aku sadar betapa pentingnya pendidikan itu. huft.. Andai saja dulu aku bisa serajin Ji Hye, tentu aku…..

“Aduh..” aku mengaduh setelah merasakan pukulan di kepalaku. Kemudian menoleh ke arah Kyuhyun, dan mendapatinya sedang menatap sebal ke arahku. Di tangannya sudah ada satu kantong belanja besar—yang bisa kupastikan dia memukulku dengan benda itu—berwarna kuning kecoklatan.

“Yaa, kenapa kau memukulku?!” tanyaku sambil mengusap-usap kepalaku yang terkena pukulannya tadi.

“Salahmu sendiri kenapa melamun di saat aku sedang bicara padamu!”

“Siapa yang melamun? Aku tidak melamun.” Jawabku tak mau kalah.

“Aish, kau itu. jelas-jelas kau tidak mendengarkan sama sekali apa yang kukatakan tadi.” katanya dengan nada jengkel.

“Memangnya tadi apa yang kamu katakan?” tanyaku penasaran. Mungkin tadi aku terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri, sampai tidak sadar kalau dia sedang bicara padaku.

“Sudahlah. Bukan sesuatu yang penting. Ini—“

Kyuhyun menyerahkan kantong belanja yang sejak tadi dipegangnya itu kepadaku.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Aku lalu membukanya dan melihat apa yang ada di dalam kantong itu. pakaian?

“Kamu tidak mungkin memakai pakaianmu itu terus selama berada di sini. Kau juga tidak mungkin memakai pakaianku terus-menerus. Jadi… aku membelikan itu untukmu. Untuk saat ini itu dulu.” Katanya menjelaskan tanpa kuminta.

Ini bahkan sudah lebih dari cukup. Dia sudah memberiku tumpangan saja, aku sudah sangat berterima kasih. Ya, terlepas dari kegemarannya yang suka menjahiliku. Sebenarnya aku sudah berniat meminjam uang pada Ji Hye untuk membeli beberapa baju di pasar hari ini. tapi tak kusangka, dia justru memberikan ini padaku. Entah kenapa, sikapnya ini membuatku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Seperti ada rasa bahagia di sana. Tapi ini berbeda. Rasanya…. Entahlah. Sulit untuk dijelaskan.

“Kau yang membelikan semua ini?” tanyaku sambil melihat pakaian yang dibelikannya itu.

“Sebenarnya aku menyuruh Ji Hye untuk memilihkannya untukmu. Kurasa ukuran tubuhmu tidak jauh berbeda dengannya.”

Jawabannya membuatku sedikit khawatir.

“Ji Hye? Apa kau memberitahunya kalau aku tinggal di apartemenmu?” tanyaku cemas.

“Tidak. Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun padanya jika bukan kamu yang memintanya. Aku bilang padanya kalau aku ingin memberikan hadiah untuk sepupu dekatku. Jadi dia tidak tahu kalau pakaian itu sebenarnya untukmu. Kau tak perlu khawatir.” Katanya memenangkan.

“Aku juga tidak memaksamu untuk menceritakan masalah yang sedang kamu alami saat ini. Akan kutunggu sampai kau siap menceritakan semuanya padaku.” Katanya menambahkan.

“Maaf…” kataku sambil menundukkan pandangan.

Bukannya aku tidak mau menceritakan ini padamu, Kyuhyun-ah. Tapi aku merasa belum saatnya aku menceritakan hal ini padamu dan Ji Hye. Saat ini aku ingin menata hatiku dulu, sehingga aku bisa sesegera mungkin menyelesaikan masalahku dengan ibu.

Memikirkan ini, membuatku teringat pada ibu. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia mengkhawatirkanku?

“Ayo kita pergi” Kata-kata Kyuhyun menyadarkanku dari lamunan. Seketika aku menoleh ke arahnya.

“Kemana?”

Sebelum dia menjawab pertanyaanku, dia sudah menarik tanganku lebih dulu untuk berdiri. Menggenggam tanganku dengan erat dan melangkah menuju pintu depan.

“Kita akan kemana, Kyuhyun?” tanyaku masih penasaran.

“Jalan-jalan.” Jawabnya sambil tersenyum ke arahku.

“Y-Ye?”

Aku segera menghentikan langkahku mendengar jawabannya.

“Kenapa? Kamu tidak mau?” tanyanya heran.

“Bukan begitu, tapi…” Aku tak yakin akan keluar dengan keadaan seperti ini.

Aku kemudian mengarahkan tatapanku melihat pakaian seperti apa yang kukenakan saat ini. Dia mengikuti arah tatapanku. Dan seketika itu juga, dia tertawa terbahak-bahak melihat celana training dan kaos yang kebesaran miliknya membungkus badan kurus kecilku.

YAA, tertawalah sepuasmu!

TBC

Second Time


Title : Second Time

Cast : Kim So Eun, Lee Donghae

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

 

oke, pertama-tama aku mau jelasin kalo ini bukan FF chaptered. ini juga gk bisa dibilang oneshot atau drabbles atau apalah istiilahnya. dulu emang niat mau bikin ini jadi project ffku yang lain. tapi idenya mentok. mungkin aku juga yg terlalu males mikir hehe. tapi daripada ini dibuang kan sayang. jadi aku post deh😀

 

“Aku hanya ingin mengunjunginya, Donghae. Saat ini dia sedang sakit parah.” Suaranya meninggi setelah sekian lama wanita muda itu menahan kesabarannya atas sikap keras kepala laki-laki di depannya itu. wajahnya mulai menampakkan kekesalan terhadap laki-laki yang ia panggil Donghae tadi. Donghae pun tak jauh berbeda darinya. Menampakkan wajah kesal sekaligus marah. Mereka berdua sebenarnya sama-sama lelah dengan perdebatan tak berujung ini. Tapi mereka terlalu egois untuk menerima pendapat masing-masing. Tak ingin kalah satu sama lain. Karena bagi mereka masing-masing, diri merekalah yang benar. Donghae menghela nafas untuk kesekian kalinya.

“Bagaimana kau yakin akan hal itu? dia pernah membohongiku dengan berpura-pura mengalami kecelakaan, sehingga aku harus meninggalkanmu saat itu. Dan kau tau, aku sangat menyesali perbuatan bodohku itu. Dia juga menjebakmu hingga aku salah paham padamu. Dia selalu berusaha memisahkan kita, So Eun. Tak bisakah kau belajar dari semua itu? dia hanya ingin memisahkan kita, So Eun-ah. Dengan segala macam cara, dan dia tidak akan berhenti sampai tujuannya itu tercapai!” Donghae lelah. Sangat lelah. Berteriak seperti ini membuat kepalanya terasa sakit, berdenyut-denyut dan terasa berat sekali. terlebih dia harus melakukan itu pada wanita yang amat sangat dicintainya. Seseorang yang sangat berharga bagi hidupnya. Yang akan selalu dijaganya sampai kapanpun. Dia tak ingin kehilangan wanita di hadapannya ini untuk kedua kalinya. Cukup satu kali saja. Cukup sekali saja dia bertindak bodoh dan membuat belahan jiwanya pergi meninggalkannya dulu. Setelah So Eun kembali ke dalam pelukannya, tak akan lagi ia biarkan hal itu terulang kembali.

“Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi kita tidak bisa terus-terusan membencinya. Bagaimanapun karena dialah kita bisa bersatu seperti ini. Dia yang mempertemukan kita     “

“Dan dia juga yang membuatku kehilangan kamu, So Eun. Apa kau lupa itu?” Donghae kembali berteriak. Sungguh, ia juga tak ingin berteriak seperti ini pada wanita itu. Tapi rasanya dia tidak memiliki cara lain lagi untuk meyakinkan kekasihnya bahwa wanita jahat itu hanya ingin menipu mereka lagi.

“Tidak. Mana mungkin aku melupakannya? Semua itu tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Tapi kau juga harus ingat, dia sudah banyak membantuku, mempertemukan kita.” So Eun frustasi dengan semua ini. Donghae tak ingin mengalah, ia pun begitu. Bagi So Eun, kesalahan wanita itu di masa lalu memang sangat besar. Namun dia tak ingin terus memendam rasa benci kepada seseorang. karena itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Menyimpan rasa benci kepada orang lain hanya akan membuat hidup tak tenang. Selalu dibayangi oleh perasaan benci dan sakit hati. Bukan hidup seperti itu yang ingin So Eun jalani.

“Bukan dia yang mempertemukan kita, takdirlah yang mempertemukan kau dan aku. Takdir yang menginginkan kita untuk bersama. Kalau pun wanita itu tidak ada, kita tetap akan bertemu, entah dengan cara bagaimana.. Sudahlah, aku lelah, So Eun-ah. Terserah kau saja mau pergi menemui wanita itu atau tidak. Tapi yang jelas, kalau sampai karena hal ini pernikahan kita batal, aku benar-benar tidak akan tinggal diam.” Donghae menatap dalam ke mata So Eun. Mengatakan amarah dan kekecewaannya pada So Eun lewat tatapan matanya. Setelah itu Donghae berdiri dari kursinya. Menatap So Eun sekali lagi yang terlihat terkejut dengan perkataan Donghae barusan, lalu beranjak pergi meninggalkan So Eun sendiri di apartemennya. Meninggalkan So Eun bersama kesunyian.

***

Kim So Eun memandang lemah ke jalan di luar sana. Kepalanya masih terasa sakit dan pusing akibat tidak tidur semalam. Tadi malam dia terus menangis karena pertengkaran yang terjadi sebelumnya antara dia dan Donghae. Sungguh, dia tak habis pikir bagaimana bisa Donghae tega mengatakan hal itu padanya. Bagaimana mungkin dia berpikir pernikahan mereka yang tinggal dua minggu lagi bisa batal hanya karena So Eun mengunjungi wanita itu? So Eun sangat takut, apa yang Donghae katakan akan benar-benar terjadi. Dia tidak mau hal itu terjadi. So Eun sangat mencintai laki-laki satu itu. Sudah sangat mencintainya sampai-sampai tak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup tanpa ada Donghae di sampingnya. Tangan So Eun terangkat untuk memegang sesuatu di dadanya. Sebuah liontin berbentuk hati sekarang ada di genggamannya. Liontin cantik berwarna silver. Di bagian tepi atas dan bawahnya diukir dengan bentuk bunga yang sangat menarik. Sedangkan di bagian tengah terukir inisial mereka berdua D&S. Perlahan, bayang-bayang masa lalu ketika Donghae memberikan kejutan liontin itu padanya terlintas kembali dalam pikirannya.

Flashback

“Yaa, kenapa di cuaca sedingin ini kau tidak menggunakan syal? Apa tubuhmu yang kurus itu tidak merasa kedinginan?” tanya Donghae sambil memerhatikan wajah So Eun yang sudah memerah karena dinginnya suhu di malam itu. So Eun hanya memanyunkan bibirnya dikatai begitu oleh Donghae. Lalu menjawab pertanyaan Donghae dengan nada kesal.

“Tadi kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak berlama-lama. Aku jadi terburu-buru dan lupa memakai syalku. Ini semua karena salahmu!” So Eun terus memanyunkan bibirnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain. melihat orang-orang dengan bahagianya bermain ski bersama orang yang mereka sayangi. Saling berpegangan tangan agar tak terjatuh. Tertawa lepas seperti tanpa beban. Membuat So Eun sedikit iri. Meski kini dia sedang bersama orang yang paling disayanginya, tetap saja rasanya kurang lengkap kalau mereka tidak bermain ski bersama. So Eun sepertinya harus melupakan keinginannya itu karena sampai kapanpun Donghae takkan mau masuk ke arena ski. Tak akan pernah. Lalu untuk apa Donghae mengajak So Eun ke sini? Jawabannya tak lain adalah karena So Eun begitu menyukai permainan yang satu itu. berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Donghae yang memiliki trauma akan permainan ski. So Eun menghembuskan nafas sedih. Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu membuatnya lupa akan kekesalannya pada pria itu. berganti dengan rasa kasihan sekaligus rasa bersalah yang tak bisa disingkirkannya dari dalam hatinya. Meski Donghae berulang kali mengatakan bahwa kejadian itu bukan salahnya sama sekali.

So Eun sedikit terkejut merasakan ada sensasi dingin di sekitar lehernya yang memang sudah dingin. Dan benar saja, sekarang sudah ada sesuatu yang melingkar di sana. Kalung dengan liontin yang sangat indah. So Eun tak bisa menutupi kekaguman akan kalung cantik itu. Ia dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia lalu mengangkat pandangannya untuk melihat Donghae yang tiba-tiba saja sudah ada di depannya saat ini dengan senyum yang terkembang sempurna.

“Ini..” Entah apa yang harus So Eun katakan. Melihat liontin itu ada di lehernya membuatnya begitu bahagia. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya.

“Aku sengaja memesankannya khusus untukmu. Lihat, di sana ada inisial nama kita berdua. Kalung ini harus terus kau pakai. Jangan sampai hilang. Arasso?” tanya Donghae yang hanya dibalas dengan anggukan oleh So Eun sambil tersenyum menatap Donghae. Lalu beralih lagi ke liontin cantik itu. Ia terlalu sibuk memerhatikan kalung barunya hingga tak sadar wajah Donghae sudah sangat dekat dengan wajahnya. Dan ketika So Eun mengangkat wajah, Donghae langsung mencuri ciuman singkatnya. Membuat So Eun terkejut dengan tindakan Donghae yang tiba-tiba itu. Mereka tersenyum satu sama lain. sinar bahagia dari bola mata mereka tak dapat ditutupi lagi. Cinta itu sedang mekar dalam hati dua insan ini. Begitu indah dan tak akan pernah layu sampai kapanpun.

Flashback End

 

 

 

 

 

Loving You (Part 6/?)


lagi-lagi aku cuma bisa bilang sorry karena mempost lanjutan ffnya dalam wkt yang cukup lama dan bisa dibilang pendek banget. aku mohon reader bisa memakluminya. penulis abal-abal kayak author ini enggak bisa nulis lancar tiap hari. idenya belum lancar. analoginya kayak keran mampet. air yg keluar setetes demi setetes. kkkkk gk tau kenapa malam ini gatel pingin ngepost, padahal laporan praktikum harus aku kerjain malam ini. tugas dan responsi menanti. so, harap dimaklumi ya. yg udah pada kuliah pasti ngertilah gimana susahnya jd anak kuliahan. ah iya, buat adik2 yg baru selesai UN, author doain supaya lulus. jgn lupa belajar buat sbmptnnya ya buat jaga2 kalo gk keterima snmptn. tetep semangat belajar dan belajar. jangan baca ff mulu *eh??*. kkkkk baca ff itu secukupnya aja biar enggak cepet bosen wkwkwk.

 

Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (6/?)

 

Masa Lalu

 

Entah pikiran apa yang membuatku menerima ajakan Sungmin-ssi untuk terlibat obrolan—setelah sekian lama kami tidak bertemu—dengannya di kedai kopi pinggir jalan. Satu hal yang membuatku penasaran adalah bagaimana Sungmin-ssi juga bisa berada di kota ini. Memang tidak mengherankan karena dia juga orang Korea sama sepertiku, dan kota besar ini adalah tujuan banyak warga Korea untuk mencari penghidupan yang lebih layak ketimbang di desa yang sumber mata pencaharian utamanya tak lain adalah bertani ataupun berjualan di pasar. Tapi yang menggelitik saraf keingintahuanku adalah bagaimana bisa setelah bertahun-tahun kami—aku, Ji Hye, dan Sungmin—tidak bertemu, sekarang dia justru hadir kembali di depanku. Ini gila. Tak seharusnya aku menerima ajakannya, sekalipun hanya untuk sekedar mengobrol sambil minum kopi dengannya. Jika Ji Hye mengetahui hal ini, dia bisa memarahiku habis-habisan. Tapi apa yang harus kulakukan? Peristiwa bertahun-tahun silam memang masih membekas dalam ingatanku. Bahkan sampai detik ini. Walau aku sudah berusaha menguburnya dalam gudang ingatanku yang terdalam, aku tetap tak bisa mengenyahkan rasa sakit yang sekarang kembali kurasakan saat ini. Entah sejak kapan rasa itu menguasai diriku lagi sekarang. Kukira saat tadi dia mengajakku, aku bisa bersikap biasa saja karena toh perasaanku padanya dulu memang sudah kulupakan dan tak ingin aku ingat lagi. Itu hanya cinta antara dua remaja yang mulai tumbuh dan tak begitu penting untuk diingat. Tapi bagai panah yang ditembakkan dari arah yang tersembunyi, perasaan terluka, sedih, dikhianati, semua datang begitu saja menyerangku. Meski rasanya tak sesakit dulu.

Sungmin sedang berbicara panjang lebar mengenai alasannya datang ke kota ini dan seperti apa kehidupannya di sini. Tapi aku tak terlalu mendengarkan penjelasannya. Aku sibuk menetralkan rasa muakku pada semua hal yang terjadi baik di masa lalu, maupun saat ini.

“Maaf Sungmin-ssi. Bukannya aku tak berniat mendengar ceritamu itu, tapi aku harus segera pulang. Ibuku pasti akan memarahiku jika aku pulang terlambat. Sekali lagi aku minta maaf, dan terima kasih untuk kopinya. Aku pamit.” Tanpa menunggu dia membalas ucapan maafku, aku segera bangkit dan menundukkan kepala ke arahnya. Meninggalkannya yang terpaku karena aku menyudahi perbincangan satu arah ini begitu saja. Dia hanya diam di tempatnya, tak berniat mengejarku sama sekali. Baguslah, dengan begitu aku tak perlu mencari-cari alasan untuk segera pergi dari jangkauan matanya. Aku lelah, dan rasa laparku sejak tadi terus menyiksa perutku. Membuat cacing-cacing diperutku terus demo meminta diberikan jatah makan. Huft. Sepertinya aku harus membeli roti dulu untuk mengganjal perutku ini.

***

Setelah sampai di rumah, hal pertama yang kulakukan adalah mengistirahatkan otot-ototku yang kaku setelah perjalanan pulang dari kantor Kyuhyun tadi. Aku merebahkan tubuhku di sofa lusuh yang busanya sudah mulai memperlihatkan wujudnya dan sudah tak empuk lagi untuk diduduki. kuluruskan kaki dan kupejamkan mata untuk menghilangkan penat yang kurasakan. Membiarkan beban yang ada di pikiranku ikut menguap bersama keringat yang keluar dari kulitku. Heemmm.. rasanya nyaman sekali seperti ini. Membuatku malas untuk sekedar berdiri. Setelah beberapa lama, akhirnya kupaksakan juga mataku terbuka dan melangkah menuju kamarku, mengambil handuk dan bersiap-siap untuk membersihkan badanku yang sudah lengket. Saat mandi, cacing-cacing di perutku menggerutu lagi. Yaa, apa kalian tidak bisa sabar?! Kalian tidak tahu kalau aku sedang mandi?!

Karena mereka terus protes padaku, akhirnya setelah mandi dan memakai baju, aku segera pergi menuju dapur. Melihat apakah ada makanan yang bisa dimakan sekarang. Tapi sialnya, tak ada makanan di sana. Alhasil, aku harus merelakan cacing-cacing itu untuk terus mengoyak-oyak isi perutku sampai aku selesai membuat makan malam untuk kami (aku dan cacing-cacing di perutku). Untuk ibu juga tentunya. Sampai saat ini aku tak tahu harus mengatakan apa pada ibu nanti jika ia menanyakan lagi soal pekerjaan itu.

Saat aku hendak meletakkan masakanku di meja, aku mendengar pintu depan terbuka. Ibukah? Tumben sekali ibu pulang secepat ini. Apa odhengnya sudah habis? Batinku bertanya dan tentu saja aku tak bisa menjawabnya. Tak biasanya odheng ibu terjual habis secepat ini. Bahkan tak jarang ia akan membawa pulang sisa odheng yang tidak habis terjual.

###

Hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang beradu di ruangan kecil segi empat ini. Aku memang tak berniat untuk memulai percakapan mengingat peristiwa kemarin. Ibu juga sepertinya begitu. Tapi kurasa tebakanku meleset. Tiba-tiba saja ibu meletakkan makanannya dan menanyaiku pertanyaan yang sejak tadi ingin aku hindari.

“Apakah kau sudah keluar dari pekerjaanmu itu?” tanya ibu. Aku hanya bisa diam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku tidak bisa berbohong padanya. Cukup lama aku terdiam hingga akhirnya ibu kembali angkat suara.

“Jawab pertanyaan ibu, So Eun.”

“belum.” Jawabku singkat. Meski tidak kuinginkan, aku tahu pertengkaran kemarin akan terulang lagi kali ini jika aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi. Tapi aku terlalu lelah untuk terus diam dan mengalah dengan semua permintaan ibu yang tak masuk akal padaku. Tak masuk akal karena setiap permintaannya tak pernah dilandasi dengan alasan yang jelas dan bisa kuterima. Meski mungkin itu demi kebaikanku.

“Bukankah ibu sudah katakan—“

“Aku tidak bisa, Bu.” Aku memang menyayangi ibu dan aku tidak mau mengecewakannya. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku merasa nyaman dengan pekerjaan ini. Meskipun Kyuhyun selalu mengerjaiku setiap hari, membuatku kesal dan marah padanya, aku tidak bisa pungkiri kalau berada di dekatnya membuatku lupa dengan masalah yang kuhadapi. Kejahilannya itu justru membuatku lupa dengan masalahku. Bahkan bisa membuatku tertawa mengingat betapa bodohnya aku di depannya.

“Kenapa kamu tidak bisa keluar dari pekerjaan itu?”—

“Kenapa ibu tidak membiarkan saja aku bekerja padanya?”

Pertanyaan dijawab pertanyaan. Memang inilah yang ingin kutanyakan kepada ibu sejak kemarin. Kenapa dia tidak biarkan aku tetap bekerja saja pada Kyuhyun?

“Bukankah sudah jelas? Ibu tak perlu mengulangnya untuk kedua kali.”

“Tapi bagiku alasan ibu itu tak masuk akal. Bagaimana mungkin hanya karena itu ibu menyuruhku untuk berhenti dari pekerjaanku?” aku mulai berkata dengan nada tinggi. Aku tahu, tak seharusnya aku bersikap seperti ini pada orang yang sudah merawatku sejak kecil. Orang yang paling kusayangi. Tapi harus bagaimana lagi? Aku ingin semuanya jelas, sehingga tak ada lagi beban dihatiku.

“Bagian mana yang kamu maksud tak masuk akal?” tanya ibu lagi. Pandangan matanya begitu dingin saat ini.

“Semua, Bu. Semua alasan ibu setiap kali melarang aku untuk ini dan itu. kenapa, Bu? Kenapa ibu tak jujur saja padaku? Ibu tak ingin aku mengalami hal yang sama seperti yang ibu alami dulu kan? Mencintai laki-laki kaya dan ditinggalkan setelah mengandung bayi haram dalam rahimmu, iya kan? Ibu—“

Plak.

Aku terdiam setelah menerima tamparan keras dari ibuku. Ini pertama kalinya ia menamparku. Air mataku jatuh tanpa bisa kuhindari. Melewati pipiku yang terasa perih oleh tamparan kerasnya. Aku memandang ibuku dengan rasa marah bercampur rasa sedih dan kecewa. Dalam hati aku sadar bahwa apa yang kukatakan tadi adalah salah. Kata-kataku tadi jelas telah menyinggung perasaannya hingga menamparku sekeras ini. Tapi rasa marah itu saat ini menguasai akal sehat dan pikiranku. Aku tak bisa berpikir jernih. Yang terpikir olehku hanyalah pergi dari rumah ini dan tak ingin bertemu dengan ibu untuk saat ini. Maka dari itu kuputuskan untuk berlari keluar rumah. Meninggalkan ibu yang terpaku di meja makan tanpa berniat mencegahku pergi. aku berlari secepat yang aku bisa. Semakin jauh dari rumah semakin baik. langkahku baru terhenti setelah berlari cukup jauh. Dengan nafas yang terputus-putus, aku terduduk lesu di trotoar jalan. Menangkupkan wajah di antara kedua lengan yang kutumpukan di atas lututku. Menutupi wajah basahku agar tak jelas terlihat kalau saat ini aku sedang menangis. Walau mungkin orang akan bisa dengan mudah menebakku sedang menangis karena kurasakan punggungku bergetar saat ini akibat tangisan. Entah mengapa, ingatan masa laluku tiba-tiba saja berputar kembali dalam otakku tanpa bisa kucegah.

flashback

“Eomma, berhenti berkata yang tidak-tidak tentang So Eun. Dia tidak seperti yang Eomma bayangkan.” Sungmin segera mendekati ibunya untuk menghentikan “nyanyian indah” yang sejak tadi disenandungkan ibunya untukku. “Nyanyian”nya bahkan terlalu indah sehingga membuat mataku meneteskan air mata seperti saat ini.

“Tapi memang begitu kenyataannya, Sungmin. dia itu tidak akan jauh beda dengan ibunya, hanya mementingkan harta dan laki-laki. Cih, tapi malang sekali nasibnya. Ketika Na Mi menunggu laki-laki tercintanya itu di acara pernikahan mereka, laki-laki itu bahkan tidak datang sama sekali. Padahal saat itu dia sudah mengandung seorang anak haram dari hubungannya dengan laki-laki itu. mungkin dia baru sadar saat itu bahwa wanita yang akan dinikahinya bukan wanita baik-baik. Keluarganya saja tidak sudi menerimanya lagi, makanya dia pindah ke desa ini.” Kata ibunya lagi. Aku pasrah dengan semua hinaannya untukku. Toh tak akan ada yang membelaku di sini. Sungmin juga seperti mengiyakan setiap perkataan ibunya. Kupikir dia akan membelaku mengingat hubungan kami saat ini yang tak bisa dibilang biasa-biasa saja. Membuat rasa sakit yang kurasakan saat ini bertambah dua kali lipat dengan sikap pengecutnya itu. Telingaku rasanya seperti tuli sesaat. Pandanganku mengabur. Bayangan ibu Sungmin yang terus “bernyanyi” terlihat samar-samar di depanku. Meski begitu, aku masih bisa melihat dengan jelas bibir tebalnya yang dipoles dengan lipstick merah merona terus berkomat-kamit. Apa dia tidak merasa kehabisan oksigen setiap kali berkata panjang lebar tanpa jeda seperti itu? Entahlah. Yang kupikirkan sekarang adalah kemana Ji Hye? Bukankah tadi dia bilang hanya ingin mengambil sapu di rumahku? Tapi kenapa sampai kegiatan bersih-bersih sudah selesaipun dia belum juga kembali? Apa dia sengaja beralasan seperti itu supaya dia bisa kabur dari kegiatan bersih-bersih kali ini? Cih, dasar anak itu. Sudahlah. Aku sudah tidak kuat lagi. Tubuhku sudah terlalu lelah dengan kegiatan bersih-bersih tadi. Ditambah ocehan Ibu Sungmin yang sepertinya tidak akan berhenti sampai bibirnya lepas dari mulut berbisanya itu. Mataku sudah semakin berat. Sepertinya aku akan pingsan sebentar lagi. Hal terakhir yang kulihat adalah Ji Hye berlari dengan wajah panik di depanku. Aku sempat mendengar dia meneriakkan namaku sebelum akhirnya aku tak dapat merasakan apa-apa lagi.

End Flashback

 

Cukup lama aku menangis hingga baru kusadari kalau saat ini kondisiku benar-benar kacau. Aku keluar tanpa alas kaki dan hanya memakai pakaian tipis tanpa mengenakan jaket penghangat tubuh. Dan kupastikan saat ini mataku sudah memerah dan bengkak. Hidung dan telingaku sudah semerah tomat. Kurasakan angin bertiup cukup kencang. Aku benar-benar merasa kedinginan. Kupeluk tubuhku sendiri untuk mengurangi rasa dingin itu, walau nyatanya tak berhasil sama sekali. Dinginnya terasa menusuk hingga tulang. Tak membiarkanku merasakan hangat sedikit pun. Hingga kurasakan sebuah jas menyelimuti tubuhku. Memberikan sedikit kehangatan di tubuh kurusku ini.

Aku mengangkat pandanganku untuk melihat siapa si pemilik jas ini, dan betapa terkejutnya aku melihat siapa orang yang telah berbaik hati menyelimutiku.

 

-TBC-

Loving You (Part 5/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (5/?)

Kim So Eun POV

Bus yang kutumpangi berjalan dengan kecepatan sedang. Mungkin karena ini jam makan siang, banyak kendaraan yang berlalu lalang. Mereka para pegawai pasti sedang sibuk mencari tempat makan yang enak dan bisa membuat perut mereka kenyang. Bekerja dari pagi pasti benar-benar melelahkan. Seharusnya yang kulakukan sama seperti mereka. Bukankah aku pegawai juga? Tapi yang kulakukan malah sebaliknya. Aku harus mengantarkan makanan untuk seseorang di sana. Dia pasti juga telah menungguku dari tadi. Ah.. mungkin tepatnya bukan menungguku, tapi menunggu makan siangnya. Dan jika aku telat sedikit saja, dia akan langsung mengeluarkan kata-kata “indah”nya. Mengingat laki-laki itu membuatku teringat dengan kata-kata ibu semalam.

Flashback

“Siapa laki-laki itu?” Tanya ibu dingin.

Kulihat tatapan matanya yang berbeda. Apa ibu marah karena aku diantar oleh laki-laki? Aku memang belum pernah pulang bersama seorang laki-laki sebelumnya. Rasa khawatir itu mulai muncul dalam benakku. Seharusnya tadi aku tidak membiarkan Kyuhyun mengantarku sampai sini. Tapi bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur.

“Kenapa diam saja? Siapa lakil-laki itu?” Tanya ibu lagi. Seperti biasa, halus namun dingin.

“Dia…” aku ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Firasatku mengatakan kalau ibu tidak akan suka dengan pekerjaanku kali ini. Entahlah, tapi firasatku mengatakan demikian. Aku memang sengaja tidak memberitahu ibu mengenai pekerjaan baruku ini dari awal. Itu karena aku ingin memberinya kejutan. Aku ingin memberikan gaji pertama dari hasil bekerjaku di kota ini padanya. tapi melihat kondisi saat ini..

“Jawab ibu So Eun!” kata-kata ibu menyadarkanku dari lamunan.

Baiklah. Sepertinya memang tak ada cara lain selain memberitahu ibu yang sebenarnya. Kutarik nafas dalam dan menghembuskannya.

“Dia.. Dia bosku, Bu. Aku bekerja padanya. Aku bekerja sebagai pelayannya.”

Diam. Ibu hanya diam tanpa memberikan respon apapun. Aku sendiri tak berani menatapnya. Apa yang ibu pikirkan? Kenapa dia hanya diam saja? seharusnya ini bukan sesuatu yang sulit untuk diterima.

“Berhenti dari pekerjaan itu.”

Hah. Aku tau ibu akan mengatakan ini. Tapi kenapa walau aku sudah tau sekalipun, rasanya tetap sakit. Apapun yang kuperbuat, tidak pernah ada yang benar di mata ibu.

“Wae? Kenapa ibu melarangku bekerja?” aku tidak bisa menerima begitu saja. susah payah aku mendapatkan pekerjaan ini demi dirinya, tapi kenapa sekarang justru ibu yang memintaku untuk melepaskannya.

”Ibu tidak pernah melarangmu bekerja. Ibu hanya tidak mau kamu bekerja pada orang sepertinya!”

“Tapi kenapa, Bu? Kenapa? Aku bekerja juga demi ibu. Aku bekerja untuk ibu. Bukankah ibu juga tahu, betapa sulitnya mencari pekerjaan di sini. Aku tidak mungkin melepas pekerjaan ini begitu saja tanpa alasan yang jelas, Bu.. aku hanya tidak ingin membebani ibu.” Rasanya sulit sekali menahan amarahku pada ibu saat ini. Aku sudah terlalu sering diam. Menuruti semua kemauan ibu tanpa bantahan apapun. Tapi kali ini rasanya sulit sekali. Semua rasa yang kutumpuk dalam hatiku seperti ingin meledak. Wajahku basah oleh air mata. Kutatap ibu dengan wajah sedihku. Berharap ibu akan merubah pikirannya.

“Ibu tidak mau orang lain memandang kita sebagai keluarga yang tidak tahu malu. Mendekati laki-laki kaya dengan pura-pura bekerja sebagai pelayannya. Apa kau pikir ibu mau dianggap rendah seperti itu?” bentakan ibu benar-benar mengagetkanku.

“Kalau itu yang Ibu takutkan, aku berjanji tidak akan diantar pulang olehnya lagi.” Aku berusaha menawarkan solusi padanya.

“Ini bukan masalah diantar pulang atau tidak Kim So Eun. Sudahlah. Bukankah kamu bilang bekerja demi ibu? Maka dari itu, keluar dari pekerjaan itu, Kim So Eun. Ibu tidak mau kamu bekerja padanya!”

Aku benar-benar terkejut dengan kata-kata ibu. Tidak bisa. Kenapa ibu begitu keras kepala?

“Tapi, Bu..”

“Ibu tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Kamu pilih, keluar dari pekerjaan itu, atau.. keluar dari rumah ini!”

Setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu, ibu berlalu meninggalkanku. Aku sendiri tak mampu berkata-kata lagi. Yang kulakukan hanya menangis. Mengapa terasa begitu sulit..

Flashback end

Aku menghapus air mata yang turun begitu saja. Tidak. Aku tidak boleh menangis lagi. Semalam aku sudah menangis terlalu lama. Mataku saja masih sedikit bengkak sekarang. Kalau aku menangis lagi, bukannya hilang, bengkak dimataku malah semakin terlihat jelas. Aku tidak mau. Tapi air mataku justru tidak mau berhenti keluar. Aish.. menyebalkan. Yaa.. berhentilah keluar air mata!

 

 

Cho Kyuhyun POV

Dasar perempuan jelek! Setiap hari kerjanya selalu telat. Kapan dia bisa tepat waktu sih? Bagaimana jika nanti dia sudah menjadi istriku? Pekerjaanku bisa berantakan semua. Eh, tunggu. Apa yang baru saja kukatakan? Aish.. sepertinya otakku benar-benar sudah dirusak olehnya. Bagaimana mungkin aku akan menjadikanya istriku? Aku tak bisa bayangkan seperti apa rumah tangga kami nanti. Setiap harinya kami akan selalu bertengkar, hingga salah satu di antara kami akan menghentikan pertengkaran karena sudah lelah berdebat.  Tentunya banyak hal yang bisa menjadi alasan kami untuk berdebat, bahkan hal kecil pun bisa membuat kami terlibat pertengkaran yang tidak ada ujungnya. Bagaimana mungkin sebuah rumah tangga akan berjalan baik seperti itu? Tapi lucunya, justru itulah yang paling aku sukai. Terlibat perdebatan dan pertengkaran dengannya seperti sudah menjadi candu untukku. Melihat ekspresi wajahnya yang berubah-ubah menjadi hiburan tersendiri. Aku menyukai wajahnya saat marah, kesal, bahagia, cemberut, bingung. Aku suka semua ekspresi wajahnya.

Lamunanku terhenti ketika seseorang di luar sana mengetuk pintu. Itu pasti dia. Dan seperti biasa, mengetahui akan berhadapan dengannya selalu membuat jantungku bekerja lebih cepat. Aish.. sial!

“Masuk.” Kataku. Aku sudah siap untuk berdebat dengannya kali ini.

Kulihat dia membuka pintu dan langsung berjalan menuju meja tamu, menaruh makanan yang ia bawa untukku. Ck, gadis ini. Baru datang saja sudah membuatku kesal.

“Yaa.. kau benar-benar tidak tahu sopan santun. Setidaknya kau minta maaf padaku karena sudah terlambat, tapi kau malah—“ aku terdiam ketika dia menghadapkan wajahnya ke arahku. Apa yang ingin kukatakan terhenti begitu saja melihat kedua mata indahnya yang bengkak dan wajahnya yang sembab. apa yang membuat gadis ini menangis sampai meninggalkan bekas yang terlihat jelas di wajahnya? Refleks, aku segera bangkit dan berjalan menuju tempatnya berdiri. Kutangkupkan kedua tanganku di kedua pipinya yang tembam. Bermaksud melihat wajahnya lebih jelas. Benar, dia baru saja menangis. Meski bekasnya sudah tidak begitu jelas, tapi aku masih bisa melihatnya. Seketika itu, perasaan menyesal karena telah membentaknya tadi menguasai hatiku.

“Maaf.. tadi aku tidak bermaksud membentakmu, hanya saja.. maksudku, aku.. aku..” sungguh, aku benar-benar bingung harus berkata apa. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hingga yang kulakukan hanya menatap kedua matanya. Lama. Kedua tanganku juga masih di tempat semula. Mata kami saling memandang lama. Melihat jauh ke dalam matanya. Melihat kerapuhan yang terpancar dari dalam mata indah itu. Membuatku ingin membawanya ke dalam pelukanku. Kurasa, aku mengerti sekarang betapa rapuhnya hidup gadis ini seperti yang Ji Hye katakan.

Seperti tersadar akan sesuatu, dengan cepat dia melepaskan tanganku di wajahnya. Dia terlihat seperti salah tingkah.

“A-aku akan ambilkan minum dulu.” Katanya lalu keluar dengan terburu-buru dari ruanganku.

Huft, apa yang baru saja kulakukan? Bodoh. Kenapa kau bertindak seperti itu, Cho Kyuhyun?! Jantungku benar-benar lari marathon sekarang.

***

Makan dalam kondisi canggung seperti ini sungguh menyebalkan. Tidak ada yang berniat memulai percakapan di antara kami. Biasanya saat makan, aku akan mengomelinya karena datang terlambat. Tapi kali ini suasananya berbeda.

Aku hendak mengatakan sesuatu ketika dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku.

“Kau dulu saja.” Kataku akhirnya.

Kulihat sekilas dia terlihat ragu dengan apa yang ingin dikatakannya.

“Begini, Cho Kyuhyun-ssi. Aku..”

Dia seperti orang kebingungan. Aku menunggu kata-katanya sampai menganggurkan makan siang yang baru seperempat kumakan.

“Ada apa? Katakan saja.”

“Emm.. begini. Aku aku.. Emm.. Apakah aku boleh keluar dari pekerjaan ini?”

Apa yang baru saja dia katakan?

“Apa maksudmu? Kau tidak suka dengan pekerjaan ini?” setelah diam cukup lama, akhirnya aku mengajukan pertanyaan itu. Entah kenapa mendengarnya ingin berhenti dari pekerjaannya membuatku emosi.

“Bukan begitu, hanya—“

“Atau kau ingin berhenti karena tidak menyukaiku?”

“Eh?”

“Aa.. aku salah. Sejak awal kamu memang tidak menyukaiku. Kamu membenciku. Apa itu alasannya?”

“Bukan begitu.” So Eun membantah perkataanku. Tapi dia sepertinya tidak berniat untuk mengatakan alasan sebenarnya. Aku menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Tapi sekian detik aku menunggu, dia tak kunjung menyuarakan apa yang ada di pikirannya yang aneh itu.

“Baiklah kalau begitu. Aku tidak mengizinkanmu untuk keluar dari pekerjaan ini.”

Aku tidak mungkin membiarkannya keluar dari pekerjaan ini. Tidak mungkin. Ada bagian dari diriku yang tidak merelakannya pergi.  rasa emosiku keluar begitu saja saat dia mengatakan keinginannya untuk berhenti. Jangan tanyakan kenapa aku bisa merasa seperti ini, karena aku pun tidak tahu.

“Tapi kenapa? Bukankah kau tinggal cari yang lain saja untuk menggantikanku?” tanyanya.

kenapa? Aku juga tidak tahu. Yang jelas hanya dia yang aku mau. Aku tidak butuh orang lain untuk mengisi pekerjaannya. Bukankah dari awal niatku hanya untuk menolongnya? Bukan benar-benar membutuhkan pelayan pribadi. Dan sekarang setelah aku sudah merasa senang dengan pekerjaannya, dia mau berhenti semaunya? Tidak akan kubiarkan.

“Aku malas mencari pelayan lagi. Kau pikir semudah itu mencari pelayan pribadi?” kilahku. Walaupun sebenarnya alasanku terdengar konyol.

“Tapi—“

“Sudahlah, aku tidak ingin mendengar bantahan lagi.” Aku langsung memotong ucapannya sebelum dia mencari-cari alasan yang lain lagi.

Aish.. gara-gara ucapannya tadi, selera makanku sudah hilang sama sekali. Kulemparkan mangkuk dan sumpit yang sejak tadi kupegang ke atas meja dengan sedikit kasar. Membuatnya terkejut dengan tindakanku tadi. Itu karena rasa kesalku masih belum hilang sepenuhnya. Kemudian aku berdiri dari dudukku. Meliriknya sekilas yang masih menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Dia mungkin berpikir bahwa aku sedang marah padanya saat ini. Biar saja dia berpikir seperti itu untuk saat ini. Dengan begitu dia tidak akan membantahku lagi.

“Jika sudah tidak ada lagi yang kau lakukan, kau boleh pulang sekarang. Aku sedang tidak membutuhkanmu saat ini.” Kataku padanya. Lalu berjalan keluar dari ruangan ini. Aku butuh  udara segar untuk menyegarkan pikiranku.

***

“Kyuhyun-ah..  Kyuhyun-ah.. Yaa, Cho Kyuhyun!”

Panggilan Ji Hye membuatku terkejut. Seketika saja aku tersadar.

“Maaf.” Jawabku singkat. Kuarahkan tanganku untuk menggapai coffee latte yang belum tersentuh sama sekali di atas mejaku. Menyesapnya pelan untuk menikmati rasanya. Tapi rasanya sudah tak seenak ketika masih hangat. Mungkin karena terlalu lama melamun sampai tak sadar minumanku sudah mendingin.

“Sejak tadi aku menjelaskan panjang lebar tapi kau malah tak mendengarkanku. Dan sekarang kau seenaknya saja bilang maaf. Kau ini kenapa sih?” aku tahu Ji Hye pasti akan bertanya seperti ini. Dia paling tak suka diabaikan, sekalipun itu oleh atasannya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Pikiranku memang sedang tak fokus sekarang.

“Tidak. Hanya saja, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Maaf karena tadi aku tidak memperhatikan penjelasanmu.” kataku akhirnya. Berusaha meredakan kekesalannya padaku.

Perbincanganku dengan So Eun tadi siang memang terus mengganggu pikiranku. Bagaimana kalau dia mengajukan permohonan untuk berhenti lagi? Aku tidak tahu  dengan alasan apa lagi aku harus menolak keinginannya.

“Kim So Eun. Diakah yang sedang mengganggu pikiranmu?” Ji Hye menebak dengan tepat. Dari mana dia bisa tahu?

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku keheranan.

Ji Hye memperlihatkan senyum mencibirnya mendengar aku melontarkan pertanyaanku. Apa itu terlihat konyol di matanya?

“Aku tidak bodoh Cho Kyuhyun. Sejak pertama kali kulihat kau memandangnya, aku sudah tahu apa yang kau pikirkan tentang dia. mungkin, kebiasaanmu yang senang membuatnya kesal bisa menutupi perasaanmu yang sebenarnya kepada So Eun. Tapi kau tidak bisa menyembunyikan itu dariku. Kau memiliki perasaan lebih padanya. Bukankah begitu, Kyuhyun-ssi?” Ji Hye terlihat seperti sedang mengikuti kuis wants to be millionere dimana dia menunjukkan rasa bangganya karena sudah bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang dilontarkan padanya. Wajahnya terlihat benar-benar puas dengan pemikirannya itu. lihat saja senyum bangga yang dia perlihatkan saat ini.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” aku sendiri saja tak yakin dengan apa yang dikatakannya. Benarkah perasaanku padanya adalah jenis perasaan yang seperti itu?

“Matamu ketika memandangnya yang mengatakan itu semua, Kyuhyun. Mulutmu bisa saja selalu mengeluarkan kata-kata pedas untuknya. Tapi matamu tak bisa bohong ketika kau memandangnya dengan cara yang berbeda. Yang tidak pernah kulihat saat kau memandang wanita lain manapun.” Ji Hye menjawab pertanyaanku dengan sangat lugas dan jelas. Bahkan ketika hatiku masih meragukan apa yang baru saja Ji Hye katakan? Aku kembali tercenung dengan pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan lain mengenai perasaanku saat ini. Benarkah itu? Benarkah aku telah jatuh cinta pada So Eun?

***

Kim So Eun POV

Huft. Dia benar-benar bos yang menyebalkan! Aku kan hanya bertanya. Kenapa dia bisa jadi semarah itu? Dasar laki-laki jelek, sombong, tidak berperasaan! Kalau saja dia bukan bosku, dari dulu sudah kutendang-tendang dia dengan kakiku ini. Walau dia memohon sekalipun, aku tidak akan berhenti. Rasa kesalku sudah sampai di ubun-ubun setiap kali dia membentakku layaknya seorang bos besar yang amat sangat berkuasa, walau kenyataannya memang begitu. Aku benar-benar muak dengan tingkah lakunya yang sangat menyebalkan itu. Tapi bahkan dalam kondisi menyebalkan  begitu, dia tetap tidak kehilangan pesonanya sedikitpun. Kenyataan itu membuatku terhempas kembali ke jurang paling dalam. Kenapa hatiku begitu lemah? Bahkan hanya dengan melihat wajahnya, bisa membuatku lupa dengan kata-kata ibu semalam. Mudah sekali terbuai oleh pesona palsunya itu. Dan setiap kali pemikiranku membawaku ke sana, seketika itu pula kesadaran menyeruak mendesakku untuk kembali ke dunia nyata bahwa aku tak mungkin dan mustahil untuk.. aish, hilangkan itu dari pikiranmu So Eun. Yang harus kau pikirkan saat ini adalah bagaimana kau harus menghadapi ibumu nanti. Bagaimana kau akan menjelaskan semuanya padanya. Dan yang terpenting adalah, bisakah dia menerima kenyataan bahwa anaknya yang sama sekali tak penting untuknya ini masih tetap mempertahankan pekerjaannya? Entahlah. Semua ini membuatku lelah untuk berpikir. Badanku terasa lemas. Aku ingat kalau belum makan dari pagi. Perutku sudah mulai protes sekarang. Kutundukkan kepalaku sambil terus melangkahkan kaki dengan gontai menuju halte bus terdekat. Tanpa melihat apa yang ada di depan, aku terus berjalan dengan lemas hingga tak sengaja tubuhku berbenturan dengan sesuatu di depanku. Tubuh manusia juga kurasa. Dan seorang laki-laki, karena kurasakan lenganku sempat berbenturan dengan dadanya yang bidang.

Tanpa melihat wajahnya, aku membungkukkan badanku meminta maaf padanya. Dia pun melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan, sampai akhirnya dia memanggil namaku dengan keterkejutan yang tergambar dalam suaranya itu. Segera saja kudongakkan kepalaku untuk melihat siapa laki-laki yang baru saja menuturkan namaku, dan aku terkejut dengan siapa  baru saja aku bertabrakan.

“O. Sungmin-ssi??”

–TBC–

mian chingu kalo aku lamaaaaaa banget lanjutin ini ff. ideku sempet tersendat waktu mau lanjutin ffku ini. bingung sama pilihan kata yang harus aku pake. bingung mau ngurutin jalan cerita yang idenya sebenernya udah ada di otakku tapi ya begitulah, enggak gampang bikin cerita. sorry kalo menurut kalian ini terlalu pendek atau bagaimana. aku sudah berusaha untuk tetap jaga pikiranku supaya gaya storyku enggak berubah karena terlalu lama libur dari dunia per-ff-an wkwkwkwk.😄 mungkin next time, aku bakal berusaha kasi part yang lebih panjang lagi. dan insya allah aku juga akan berusaha untuk update secepatnya kelanjutan ffku. mumpung lg enggak ada kegiatan wkwkwk😀 o iya sampe lupa. sesuai janjiku di part sebelumnya, aku kasi satu tokoh baru tuh. kemunculannya emang baru segitu aja sih, ya itung2 introlah gitu wkwkwkwk *kayak lagu aja deh*. nanti kemungkinan juga bakal ada tokoh2 yang lain. so tetep ikutin terus ya ff acak2an author yang satu ini yaaaaa😀

Starmoon ( part 1/?)


Title : Starmoon

Cast : Kim So Eun, Lee Donghae, Leeteuk.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered

Part 1

“So Eun-a, kenapa kau sangat menyukai bulan dan bintang?” Donghae bertanya padaku di sela-sela kegiatan kami memandang bulan yang sedang purnama, ditemani ribuan bintang yang berkelap-kelip di langit.

Tidur di atas rumput hijau di halaman belakang rumah besar ini memang menjadi kebiasaanku dan Donghae setiap malam. Kami akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat ribuan bintang di atas sana. ini memang hobby kami berdua. Aku dan Donghae memiliki kecintaan yang sama pada bulan dan bintang. Bedanya, aku suka mengoleksi segala jenis barang yang berbau bulan dan bintang, sementara Donghae tidak. Dia hanya senang melihat bulan dan bintang seperti ini. Mungkin karena dia seorang laki-laki, makanya dia tidak berniat melakukan hal-hal yang berbau perempuan seperti yang kulakukan.

Aku sendiri senang mengoleksi berbagai macam barang yang berbau bulan dan bintang, seperti jam tangan berbentuk bintang, kalung dengan liontin bulan dan bintang, anting berbentuk bintang, cincin perak dengan mata bintang, kaos dengan gambar bulan dan bintang, sepatu yang dilukis dengan bentuk bulan dan bintang, tas dengan bentuk bintang, sampai kamar yang penuh dengan pernak-pernik berbau bulan dan bintang. Yang jelas semuanya tentang bulan dan bintang.

Aku melirik Donghae sekilas sebelum berkata padanya.

“Apa harus ada alasan?” aku menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.

“Tentu saja. Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri menyukai sesuatu.” Jawabnya yakin.

“Begitukah? Kalau begitu, apa alasanmu suka melihat bulan dan bintang di malam hari?” sekarang aku justru menanyainya tentang alasannya menyukai bulan dan bintang, padahal aku sendiri belum menjawab pertanyaannya barusan.

“Setiap kali aku melihat bulan dan bintang, aku selalu membayangkan kalau mereka tersenyum ke arahku. Terutama saat bulan sabit. Mereka bahkan membentuk sebuah wajah yang sedang tersenyum. Dua buah bintang sebagai matanya, dan bulan sabit sebagai bibirnya yang sedang tersenyum. Benar-benar indah dan lucu.” Jawabnya sambil terus tersenyum menatap ke atas sana.

Donghae melanjutkan kata-katanya. “Dari dulu, setiap kali aku bersedih, aku pasti akan datang ke sini dan melihat bulan dan bintang dari sini. Dengan begitu, kesedihanku akan hilang dan aku akan kembali tersenyum.” Kali ini dia menolehkan wajahnya ke arahku. Dia menatap tajam ke dalam mataku. Mataku bergerak-gerak menatap secara bergantian kedua bola matanya. Kenapa dia memandangku seperti ini? Tapi sejujurnya, aku menikmati apa yang sedang dia lakukan sekarang. Aku senang ditatap begini olehnya. merasa bahwa dia memiliki perasaan yang lebih kepadaku. Tak hanya sekedar sebagai seorang saudara, namun lebih dari itu. tapi aku sadar, itu tak mungkin terjadi.

Kualihkan pandanganku ke ribuan bintang di langit. Menepis semua pikiran aneh yang terlintas dalam diriku. Bodoh. seharusnya aku tak memikirkan hal ini lagi. seharusnya aku melupakan perasaan itu. Donghae jelas tak akan mungkin membalas perasaanku padanya. Dia hanya menganggapku saudara, menganggapku adiknya, tak lebih. kurasakan mataku mulai basah. Kenapa air mata ini selalu saja ingin keluar di saat yang tak tepat.

Donghae melihatnya. Donghae tahu aku sedang menangis. Karena itulah dia menyentuh pipiku dan menghadapkanku kembali dengan wajahnya tampannya.

“Kenapa kau menangis?” tanyanya lembut.

“Tidak. Aku hanya rindu ibu dan ayahku.” Aku terpaksa berbohong padanya, meski tak sepenuhnya berbohong. Aku memang merindukan mereka, tapi air mataku saat ini bukan karena hal itu, melainkan karena sosok di sampingku saat ini.

“Jangan menangis..” katanya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Tapi air mataku terus keluar. Lalu tiba-tiba saja Donghae bangkit dari tidurnya dan memposisikan dirinya tepat di atasku. Kedua tangannya ia letakkan di kedua sisi tubuhkku yang ia gunakan untuk menyangga tubuhnya agar tak terjatuh menimpa tubuh mungilku.

Aku terpaku dengan apa yang baru saja Donghae lakukan. Dia menempelkan bibirnya di keningku. Aku hanya terdiam di tempat. Apakah ini nyata ataukah hanya mimpi semata? Tapi kurasa ini benar-benar nyata, aku bisa merasakan hembusan nafas Donghae di wajahku. Aku benar-benar bisa merasakan bibir Donghae yang menempel di keningku cukup lama, sampai akhirnya dia mengangkat wajahnya dari wajahku. Kami kembali saling menatap satu sama lain. Tatapan matanya tajam dan dalam. Membuatku merasa sulit bernafas. Kami terus berada dalam posisi ini, sampai suara eomma mengagetkan kami berdua.

“Donghae-ya, So Eun-ah, cepat ke sini. Semuanya sudah berkumpul di dalam. Ayo ucapkan salam perpisahan dengan kakak kalian sebelum dia pergi.” Eomma berteriak dari teras sana. beliau tidak melihat secara langsung badan kami karena tertutupi oleh tumbuh-tumbuhan yang sengaja di tanam mengelilingi kolam ikan tempat kami berada saat ini. Untung saja. Batinku.

Seperti tersadar, Donghae kemudian bangkit dan segera berdiri menatap ke arah eommanya.

“Ba-baik Eomma. Kami akan segera masuk.”

Donghae pergi begitu saja setelah itu. Tak menoleh sedikitpun ke arahku.

Setelah Donghae dan eomma menghilang di balik pintu. Barulah aku bangkit dari tidurku. Kurasakan jantungku yang terus berdetak tak karuan. Wajahku saat ini pasti sudah semerah udang rebus. Apa yang baru saja terjadi? Aku sendiri masih bingung. Apa arti ciuman Donghae tadi? Apakah itu bentuk ciuman kasih sayang seorang kakak kepada adiknya? Ataukah bentuk ciuman lain, sebagai seorang laki-laki kepada perempuan? Bolehkah aku berharap lebih? Bolehkah aku menganggap bahwa pilihan kedua adalah jawabannya?

“Ya, So Eun-ah..”

Panggilan seseorang dari teras sana kembali menyadarkanku ke alam nyata. Di depan sana sudah berdiri seorang pemuda tampan dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.

“Sampai kapan kau terus diam di sana? Apa kau masih marah padaku sampai-sampai tak ingin bersamaku sebentar saja di malam terakhirku di sini?” katanya padaku.

Itu Leeteuk Oppa. Dia adalah anak sulung di keluarga Lee. Umurnya empat tahun di atas umurku dan Donghae. Ya, aku dan Donghae memang seumuran. Hanya berbeda beberapa bulan saja.

Tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama, aku kemudian berlari ke arah Leeteuk Oppa, dan berhenti setelah sampai di depannya. Dia masih terus tersenyum ke arahku.

“Hei, adik kecil. Apa kau masih marah padaku?” tanyanya lagi.

Aku memanyunkan bibirku. Aku memang masih kesal pada oppaku yang satu ini. Bisa-bisanya dia mengambil keputusan untuk sekolah di luar negeri tanpa menanyai persetujuanku dulu.

“Tidak. Siapa yang marah? Aku tidak marah.” Jawabku ketus.

“Dan satu lagi, aku bukan adik kecil lagi. Sekarang aku sudah kelas 3 SMP. Kenapa Oppa masih saja memanggilku adik kecil sih?” tambahku lagi. Aku tahu tak seharusnya aku bicara seketus ini padanya di malam terakhirnya bersama kami. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang benar-benar masih belum bisa merelakan kepergiannya.

“Itu karena kau memang masih kecil dimataku, dan akan selalu menjadi adik kecilku. Lihat, tubuhmu saja mungil begini. Kau lebih cocok berada di taman kanak-kanak daripada menjadi anak SMP.” Kata oppa dengan senyum mengejek. Aisshh, dia membuatku makin kesal saja. Aku makin menekuk wajahku sebal. Sudahlah, tak ada gunanya meladeni ledekannya.

“Oppa… kenapa harus kuliah di luar negeri sih? Bukankah di sini masih banyak universitas yang bagus dan terkenal? Tidak kalah dengan yang di luar. kenapa kau tega meninggalkanku di sini?” keluhku dengan nada sedikit manja. Aku memang begini pada Leeteuk Oppa. Terkadang bersikap manja padanya, bahkan mungkin sering. Sampai-sampai Donghae selalu saja marah dan kesal kalau aku sudah bersikap seperti itu pada Leeteuk Oppa. Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa dia begitu. Mungkin dia cemburu karena Leeteuk Oppa lebih perhatian kepadaku daripada dia.

Leeteuk Oppa tersenyum mendengar keluhanku. Dia lalu memajukan tubuhnya sehingga lebih dekat denganku. Kemudian mengangkat sebelah tangannya dan mengacak-acak rambutku.

“Ckck. Ternyata adik kecilku ini takut di tinggal pergi ya? Hahahaha” bukannya menjawab pertanyaanku, Oppa malah meledekku lagi.

“Ya, Oppa.. aku serius.” Aku kembali memasang wajah cemberut di depannya sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Oppa masih saja tertawa di depanku.

“Hahaha ya ya, Oppa minta maaf. Oppa  tidak pernah bermaksud meninggalkanmu, sungguh. Tapi kau tau sendiri kan, ini adalah cita-citaku sejak kecil. Lagi pula, Eomma dan Appa sangat menyetujui keputusanku ini. Jadi Oppa tidak mungkin mengecewakan mereka.”

“Ck. Cita-cita yang aneh!” jawabku datar. Walau sejujurnya aku juga membenarkan niatan oppa itu. Tapi tetap saja, dia akan pergi dalam waktu yang lama. Tidak ada lagi yang akan memberikan hadiah-hadiah lucu dan unik kepadaku tiap bulannya. Tidak ada lagi yang akan membelaku jika dijahili Donghae. Tidak ada lagi yang akan mengajak aku dan Donghae untuk pergi jalan-jalan bersama. Tidak ada lagi yang mengajari dan membantu kami menyelesaikan PR kami. Aisshh aku benar-benar masih belum rela ditinggal olehnya. Aku selalu berharap kalau keajaiban akan datang.

Aku membayangkan tiba-tiba Leeteuk Oppa membatalkan renacana kepergiannya ke Inggris karena ternyata Inggris sedang dilanda krisis politik di negaranya. Seluruh rakyat Inggris turun ke jalan, melakukan aksi demo terhadap pemerintah dan kerajaan. Rakyat Inggris marah dan merusak semua fasilitas umum sebagai pelampiasan atas kemarahannya kepada pemerintah karena dianggap tidak berpihak kepada rakyat Inggris. Membuat situasi di negara itu menjadi mencekam. Semua negara melarang warganya untuk masuk ke wilayah Negara Inggris. Dan alhasil, Leeteuk oppa membatalkan rencana kuliahnya di Negara itu, dan memilih untuk berkuliah di Korea saja. Huh, terkadang pikiranku bisa melayang entah ke mana. Membayangkan hal-hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Karena pada kenyataannya, Leeteuk oppa akan tetap berangkat besok pagi ke Inggris. Mengingat ini kembali membuatku sedih.

“Sudahlah, ayo kita masuk. Mereka pasti sudah menunggu kita dari tadi.” Kata Leeteuk Oppa akhirnya.

Oppa menarik tanganku dan membawaku untuk ikut bergabung bersama Donghae, Eomma, dan Appa yang sudah menunggu di ruang keluarga. Acara perpisahan dengan keluarga akan segera diaksanakan. Hari sudah semakin malam.

***

Pagi harinya, kami sekeluarga pergi untuk mengantarkan Leeteuk Oppa ke Bandara Incheon. Setiap kali aku datang ke Bandara Incheon, aku selalu terkagum-kagum dengan arsitekturnya. Meskipun sudah beberapa kali aku ke sini, tapi tetap saja, aku tidak pernah bosan untuk mengagumi betapa megahnya bandara ini. Apalagi bandara ini menawarkan fasilitas-fasilitas yang sangat lengkap, seperti museum kebudayaan Korea, Spa On Air, berbagai macam restoran, kafe dan segala macam makanan cepat saji dan tak terbatas. Bagi wisatawan yang membutuhkan internet juga dapat mengunjungi lounge internet uber-modern. Layanan lain yang ditawarkan di bandara termasuk fax, layanan mobile, wi-fi, musik dan banyak lagi. Selain itu ada juga fasilitas lainnya, seperti lapangan golf , es skating arena, serta taman indoor . benar-benar seperti berada di hotel bintang lima. Tak salah jika Incheon menjadi salah satu bandara terbaik di seluruh dunia. Membuatku semakin bangga menjadi warga Korea.

Tak terasa sebentar lagi kami akan berpisah dengan Leeteuk Oppa. Aku semakin merasa sedih karena hal ini. Memang kami tidak akan berpisah selamanya, tapi tetap saja ini membuatku sedih. Kulirik Donghae yang berjalan di sampingku dengan wajah ceria. Aish, anak ini. Bagaimana bisa dia menampakkan wajah seperti itu di saat kakaknya akan pergi meninggalkannya. Aku saja yang bukan adik kandungnya merasa sedih akan ditinggal, tapi dia malah senang.

Aku menyikut perutnya dan alhasil dia mengaduh kesakitan. Biar saja. Biar dia tahu rasa.

“Kenapa kau menyikutku? Sakit tahu!” katanya dengan wajah sebal.

Aku hanya membalasnya dengan menjulurkan lidahku untuk mengejeknya. Dia semakin kesal karenanya. Hahaha dia benar-benar terlihat lucu dengan muka kesal begitu. Sebelum dia sempat membalas keusilanku, aku segera berlari dan berlindung pada Leeteuk Oppa yang memang berjalan di depan kami sejak tadi bersama Eomma dan Appa. Aku melingkarkan tanganku pada lengan Oppa lalu kembali menolehkan wajahku ke belakang, melihat Donghae yang masih menatapku dengan kesal. Lalu aku kembali menjulurkan lidah. Hahaha kau memang tak akan pernah bisa menang melawanku Lee Donghae.

Sebelum Oppa masuk ke ruang tunggu, kami berpamitan sekali lagi. Pertama-tama Leeteuk Oppa memeluk eomma dan appa. Eomma terlihat menitikkan air matanya yang segera saja dihapus oleh Oppa. Lalu beralih ke appa, dan setelah itu ke Donghae. Sekali lagi, Donghae hanya menampakkan wajah biasa saja, tidak ada sedih-sedihnya sama sekali. Dasar tidak berperasaan. Saking sibuknya aku memerhatikan wajah Donghae, aku sampai tak menyadari kalau Leeteuk Oppa sudah berada di depanku.

“Ehm..” Leeteuk Oppa berdehem sebelum memulai kata-katanya. Aku menunggunya mengatakan sesuatu padaku. Tapi Oppa diam saja, seperti mencari kata yang tepat untuk dikatakan. Lalu, setelah menarik nafas cukup dalam dan menghembuskannya, Oppa memulai ucapannya.

“So Eun-ah. Kau tahu kan, kau adalah adik kecil yang sangat kusayangi?”

Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan. Aku tahu benar kalau Leeteuk Oppa sangat menyayangiku, meski aku bukanlah adik kandungnya. Tapi dia memeperlakukan aku seperti adik kandungnya sendiri. Aku juga menyayangi Oppa seperti kakak kandungku sendiri.

“Jaga dirimu baik-baik selama Oppa pergi. Jangan nakal. Jangan terlalu sering bertengkar dengan Donghae, ara?”

Aku memanyunkan bibirku mendengar kata-kata Oppa. “Kalau Donghae tidak memulai duluan, aku tidak mungkin menyerangnya balik, Oppa..”

“Mwo?? YA, Kim So Eun. Kau yang sering memulai pertengkaran. Kenapa kau malah menyalahkanku?!” sanggah Donghae. Aish.. bisakah dia tidak berteriak di depan telingaku.

“YA, jangan berteriak di depan telingaku! Kau pikir aku tuli?”

“Siapa yang berteriak? Aku tidak berteriak. Telingamu saja yang terlalu sensitif!”

“Ck. Jelas-jelas kau berteriak, masih tidak mau mengaku?”

“YA…”

“Aigoo.. baru saja aku katakan tapi kalian justru melakukannya di depanku sekarang. Tidak bisakah kalian membiarkanku pergi dengan tenang tanpa mengkhawatirkan kalian?”

Seperti biasa, Leeteuk Oppa akan menjadi penengah di antara kami jika kami bertengkar seperti sekarang ini. Sementara Eomma dan Appa justru hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah kami berdua. Apa pertengkaranku dengan Donghae terlihat seperti sirkus sampai membuat mereka tertawa?

“Benar yang dikatakan Leeteuk, So Eun-ah, Donghae-ya. Apa kalian akan terus bertengkar seperti ini sampai kalian dewasa nanti? Seperti kucing dan anjing saja.” Eomma kali ini mulai bersuara.  Aku hanya memanyunkan bibirku sebal. Begitu pula dengan Donghae.

“Baiklah kalau begitu, aku harus segera check in. So Eun-ah.. jaga dirimu baik-baik. Donghae, aku titip So Eun padamu. Jangan terlalu sering membuatnya menangis, arasseo? Eomma, Appa, aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik. aku pasti akan sangat merindukan kalian.” Kulihat Leeteuk Oppa sudah mulai berkaca-kaca dan dapat kurasakan, wajahku juga sudah basah oleh air mata. Aku langsung menghambur kepelukannya. Benar-benar tidak rela melepasnya pergi jauh. Kami semua berpelukan di sana. Cukup lama hingga akhirnya kami menyudahinya dan Oppa bergegas masuk melewati pintu keberangkatan. Aku menatap sosok itu hingga menghilang dari jangkauan mataku.

Rasanya baru kemarin aku masuk ke keluarga ini. Tapi kenapa waktu terasa begitu cepat berlalu?”

–TBC–

sebelumnya aku mau minta maaf krn blm bisa lanjutin FFku yg satunya. kuliah dan kegiatan kampus benar-benar menyita waktuku. karena itu aku harap temen2 bisa maklumi. dan maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisanku, aku jg baru mulai belajar nulis cerita dan seperti inilah gaya penceritaanku. aku nggak mungkin maksain orang buat suka sama ceritaku, tapi aku selalu berusaha untuk bercerita dengan gayaku sendiri. makasi juga buat saran2nya chingu.🙂

mumpung sekarang aku lagi libur 1 bulan, aku ingin ngisi waktu liburanku ini buat nulis ff sesering mungkin. doain ya😀

Loving You (Part 4/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (4/?)

 

 

Cho Kyuhyun POV

 

Aku baru tiba di kantor saat ayah menelpon dan menyuruhku untuk datang ke kantornya. Dia mengatakan ada hal penting yang ingin dibicarakan denganku. Padahal saat itu aku baru saja duduk di kursi kerjaku. Tapi mengingat sifat ayah yang tegas dan tak mau dibantah, aku pun tak bisa menolak permintaannya. Ayah memang cukup keras.

Setelah sampai di kantornya, aku segera menuju ruangan ayah. Dan ternyata yang ingin dibicarakannya adalah mengenai pengembangan perusahaanku. Proyek kerja sama dengan anak perusahaan sahabatnya yang juga dikelola oleh anak dari sahabatnya itu. Kupikir apa, ternyata hanya membahas soal proyek kerja sama. Aku tak mengerti dengan jalan pikiran ayah. Dia bilang kalau proyek kerja sama ini akan sangat berguna untuk kemajuan Star Group, bahkan juga akan semakin memajukan Starmoon Group. Tapi aku justru tak melihat keuntungan yang begitu besar yang bisa kudapatkan dari kerja sama itu. Aku hanya bisa mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh ayah. Toh ayah tak mungkin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan Star Group. Aku sangat paham akan hal itu.

Setelah pembicaraan dengan ayah selesai, aku segera kembali lagi ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Perusahaan sedang menangani proyek yang cukup besar. Semua karyawanku bekerja ekstra akhir-akhir ini. Begitu juga denganku. Tapi sialnya, otakku malah terserang ‘virus berbahaya’. Wajah gadis itu terus bergentayangan di pikiranku. Bahkan semalam aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkannya.

Ingatanku kembali pada kejadian di coffee shop kemarin siang, dimana aku bertemu dengan gadis itu. Melihatnya diperlakukan tak manusiawi membuat hatiku terasa miris. Apakah hidupnya benar-benar susah sampai harus memohon hanya untuk sebuah pekerjaan? Aku melihat raut wajahnya yang seakan menahan air mata  untuk keluar saat ia terjatuh karena didorong laki-laki botak yang baru saja menghinanya. Mukanya sudah merah menahan malu. Tangannya sedikit bergetar. Memandangku dengan sorot mata sendu. Ingin rasanya aku memeluknya. Melindungi gadis bodoh itu dengan sekuat tenaga. Tapi kutahan keinginanku dan beralih menatap manager botak yang sedang menatapku dengan tatapan waspada. Aku menatapnya marah. Ini tidak dibuat-buat. Aku memang benar-benar marah pada pria botak itu. Kemarahanku semakin menjadi saat dia justru semakin menghina So Eun. Rasanya ingin sekali membenturkan kepala botaknya itu ke pintu coffee shopnya. Tapi kuurungkan niatku dan memilih untuk membalasnya dengan kata-kata pedas yang keluar begitu saja dari mulutku. Dan itu berhasil.

Aku tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentangku. Toh yang salah di sini adalah manager itu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Melindungi gadis yang berdiri di sampingku yang hanya menatap kami berdua dengan wajah melongo dan tak percaya. Dalam hati aku tersenyum, yakin bahwa kali ini sikapnya yang dingin kepadaku pasti akan berubah 180 derajat setelah melihat aksiku menolongnya.

Tapi ternyata aku salah besar. Kenyataan yang terjadi malah melenceng jauh dari perkiraanku. Bukannya berterima kasih, dia justru menyalahkanku dan mengataiku sok pahlawan. Benar-benar tak tahu terima kasih! Bahkan saat aku menawarinya pekerjaan, dia justru menuduhku yang tidak-tidak. Inikah caramu berterima kasih, Nona Kim So Eun? Kau tahu, kau benar-benar menyebalkan!

Kukembalikan akal pikiranku ke alam sadar. Aku bahkan tak sadar kalau sebentar lagi akan tiba di ruanganku. Ruang kerja direktur tentunya, bukan bos mafia.  Saat tiba di sana, aku tak melihat Ji Hye di mejanya. Ck. Kemana perginya anak itu? Kenapa dia meninggalkan mejanya di saat aku tak ada di sini? Kulihat layar komputernya masih menyala. Berkas-berkas yang kuminta untuk dikerjakan berceceran di atas mejanya. Ckck. Bagaimana kalau ada tamu yang datang? Mereka bisa mengira aku tak becus mempekerjakan sekretarisku. Tapi sudahlah. Tak ada gunanya memarahi pegawaiku yang satu itu. Dia sama keras kepalanya denganku. Biarkan saja dia begini, asalkan pekerjaannya selesai dengan baik dan memuaskan.

Aku kemudian melanjutkan langkah menuju pintu ruang kerjaku. Begitu membukanya dan melangkah masuk ke dalam, aku dikagetkan oleh seseorang yang sedang duduk di sofa ruanganku. Benar-benar terkejut sampai merasa terpaku di tempatku berdiri saat ini.

“Kau..”

“Kau..”

Kami berbicara secara bersamaan. Aku tahu dia sama terkejutnya denganku. Aku bisa melihat itu dari raut wajahnya.

Kenapa dia bisa berada di ruanganku? Apa yang dilakukannya di sini?

Aku masih terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba ini, sampai kudengar dia kembali berbicara yang tentunya ditujukan kepadaku. Siapa lagi kalau bukan aku? Di sini hanya ada kami berdua.

“Kenapa kau ada di sini?” Tanyanya. Hei.. Seharusnya aku yang bertanya begitu, bukan dia. Aku berusaha mengendalikan diri dari keterkejutanku. Meskipun kebingunganku masih belum terjawab sama sekali.

“Justru itu yang ingin kutanyakan. Kenapa kau bisa ada di ruanganku?” Aku balik bertanya padanya. Kulihat wajah polosnya yang tadi  sempat tenang kembali memperlihatkan keterkejutan. Itu membuatnya terlihat semakin lucu di mataku.

“Yaa. Kau pikir kau bisa membodohiku?! Ini ruangan direktur, bukan ruangan karyawan biasa sepertimu. Apa kepalamu terbentur sesuatu sampai kau lupa jalan menuju meja kerjamu sendiri?”

Kata-katanya kembali membuatku ‘terpana’. Dia berkata seolah-olah dia lebih tahu tentang tempat ini dibandingkan aku, pemilik sah perusahaan ini. Apa dia belum tahu siapa diriku yang sebenarnya? Apa dia masih berpikiran kalau aku adalah seorang bos mafia? Dia tidak tahu dengan siapa dia bicara saat ini. Aku penasaran bagaimana reaksi kalau tahu akulah direktur perusahaan ini.

Baru saja aku hendak membalas perkataan gadis itu, tiba-tiba Ji Hye datang dan memotong perkataanku.

“Dengar gadis bodoh—“

“O. Kau sudah kembali rupanya.” Kata Ji Hye memotong ucapanku. Dia berdiri tepat di sampingku. Kulihat gadis itu berjalan mendekati kami berdua.

“Ji Hye-ya” ujarnya.

“Park Ji Hye-ssi. Bisa kau jelaskan kenapa gadis ini bisa ada di ruanganku?” Tanyaku tegas. Tanpa perlu meliriknya, aku tahu gadis itu sekarang sudah melongo melihatku. Apa kau masih belum percaya kalau ini adalah ruang kerjaku, Kim So Eun?

Bukankah kau sendiri yang menyuruhku kemarin untuk membawanya ke sini? Kau sendiri yang bilang mau mempertimbangkannya terlebih dahulu untuk bisa bekerja di perusahaan ini.” Kata-kata Ji Hye sudah berhasil menjawab pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.

Bodoh. Kenapa aku bisa lupa kalau dulu Kim So Eun datang ke sini untuk mencari Ji Hye. Kupikir dia hanya mengada-ada. Aku tak menyangka kalau dia benar-benar sahabat Ji Hye. Tunggu dulu.. Kalau dia mengaku sebagai sahabat Ji Hye, bukankah berarti gadis ini yang sering diceritakan Ji Hye padaku? Setahuku Ji Hye hanya memiliki seorang sahabat. Tapi kalau benar dia sahabat Ji Hye yang diceritakannya itu, kenapa Ji Hye tak pernah cerita kalau sahabatnya ini sudah ada di Seoul?

“So Eun-ah, kenapa kau diam saja? Ayo perkenalkan dirimu. Beliau ini adalah direktur perusahaan ini, Cho sajangnim.” Perkataan Ji Hye membuyarkan lamunanku.

“Mworago?” Hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu. Aku tahu dia sama terkejutnya seperti diriku.

Ji Hye memandang kami secara bergantian. Mungkin dia heran melihat tingkah kami berdua yang seperti orang kebingungan.

“Ji Hye-ssi, bisakah kau meninggalkan kami berdua dulu?” Kataku pada Ji Hye. Kurasa akan lebih baik kalau aku hanya bicara empat mata dengannya, tanpa ada Ji Hye.

Meski dia terlihat sedikit enggan untuk pergi, tapi akhirnya dia mengiyakan juga permintaanku.

“Ba-baiklah kalau begitu. Aku akan keluar. So Eun-ah, fighting!” Aku masih bisa mendengar Ji Hye memberi semangat dengan mengangkat dan mengepalkan kedua tangannya di depan dada pada gadis di depanku yang saat ini bahkan masih terlihat shock dengan apa yang baru saja terjadi. Hah, apa kau baru percaya kalau aku ini bukanlah karyawan biasa apalagi bos mafia seperti yang kau katakan?

Kudengar suara pintu tertutup di belakangku. Setelah beberapa detik, barulah aku beranjak menuju meja kerjaku. Kemudian duduk di kursi dan kembali memandang gadis itu yang sampai sekarang masih saja tak bergerak di tempatnya. Dia bahkan masih membelakangiku. Apa seperti ini caranya melamar pekerjaan? Benar-benar tak sopan.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ dan membiarkanku hanya menonton punggung kurusmu dari sini?” Aku berusaha mengalihkannya dari keterkejutannya. Barulah setelah itu dia mau berbalik dan menatapku masih dengan wajah terkejutnya. Lalu dia berjalan pelan ke arahku dan berhenti tepat di depanku.

“Duduklah” kataku.

Dia hanya mengikuti saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku menatapnya cukup lama. Namun yang ditatap justru hanya menunduk tak berani menatapku.

“Jadi kau datang ke sini untuk melamar pekerjaan?” Aku bertanya padanya.

Dia menganggukkan kepalanya mengiyakan. Masih dengan posisi menunduk.

Aku masih ingat sekali kemarin dia bilang tidak akan pernah mau bekerja di perusahaanku, tapi nyatanya sekarang justru dia yang datang sendiri ke sini. Hah, sekarang kau termakan ucapanmu sendiri, Kim So Eun. Baiklah, sepertinya aku mulai menyukai semua ini. Aku tersenyum penuh arti sambil terus menatapnya.

“Bisa kulihat ijazah terakhirmu?” Kali ini dia mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku. Dia hanya menatapku tapi tak kunjung menyerahkan apa yang kuminta  padanya. Setelah beberapa detik barulah dia seperti tersadar dan langsung menyerahkan ijazahnya padaku. Ya Tuhan.. Bahkan untuk bisa menangkap kata-kata sederhanaku saja dia harus berpikir selama itu. Apa dia benar-benar shock? Seharusnya dia sudah bisa menebak jabatanku di kantor ini hanya dengan melihat penampilanku. Siapapun yang melihatku pasti sudah bisa menebak kalau aku memiliki jabatan penting di perusahaan. Tapi ya.. Kuakui, dia memang sedikit berbeda dari yang lainnya. Ditambah lagi dengan otaknya yang sedikit rusak.

Aku menerima pemberiannya dan mulai membuka map yang diberikannya. Aku membelalakkan mata melihat angka-angka yang tercetak di lembaran kertas yang kupegang. Ckck. Tak mengherankan memang, mengingat betapa ‘ajaib’nya otak gadis yang satu ini. Bagaimana mungkin dia bisa lulus dengan angka-angka ini? Apa dia menyogok sekolahnya dulu agar diluluskan? Tapi kurasa itu tak mungkin. Atau mungkin saja guru-gurunya kasihan melihatnya, karena tahu betapa menyedihkan hidup gadis ini seperti  yang Ji Hye ceritakan.

Seperti menyadari apa yang kupikirkan, dia lalu berkata kepadaku.

“Dulu aku memang sedikit bermasalah dengan pelajaran sekolah.” Katanya sambil kembali menunduk. Cih, sedikit dia bilang? Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. Dia melirikku sekilas lalu kembali berkata.

“Banyak..YAA, kuakui kalau aku memang banyak bermasalah dengan pelajaran sekolahku dulu. Tak seperti Ji Hye yang punya otak cerdas. Tapi bisakah kau tak memandangku dengan tatapan menghina begitu?!  Ck. Membuatku kesal saja.”

Hah, gadis ini benar-benar. Bukankah sekarang dia yang sedang membutuhkan pekerjaan, kenapa jadi dia yang marah-marah padaku? Bahkan dia berkata dengan sedikit berteriak. Wajahnya ditekuk kesal.

“YAA. Kenapa kau jadi marah-marah? Bukankah kau ke sini untuk melamar pekerjaan padaku? Beginikah caramu melamar pekerjaan? Pantas saja tidak ada yang mau menerimamu bekerja di manapun. Mana ada yang mau menerima pelamar sepertimu!” Aku balas meneriakinya dengan tak kalah keras karena emosiku mulai bangkit. Tapi kemudian aku menyesali perkataanku barusan. Kulihat sekarang mata indahnya itu sedikit berkaca-kaca. Oh.. Sial.

“Apa kau perlu berkata seperti itu?” Ujarnya berusaha menahan suaranya agar tetap terdengar normal. Tapi aku bisa menangkap getaran dalam suaranya. Dia menahan tangis agar tak keluar. Sungguh, aku benar-benar menyesali perkataanku tadi.

“Ma-maaf, tadi aku hanya terbawa emosi. Aku sama sekali tak bermaksud berkata seperti itu padamu.” Aku berkata lembut padanya. Kuharap dengan begitu dia akan berhenti bersedih. Dan berhasil. Dia mengusap bagian sudut matanya. Menghapus air mata yang sempat menggumpal di sana.

“Jadi bagaimana? Apa kau akan menerimaku di sini atau tidak? Kalau kau memang tak berniat menerimaku bekerja, aku bisa pergi  sekarang juga.” Ujarnya santai.

Astaga.. Dia berkata seolah-olah akulah yang membutuhkannya di sini, bukan sebaliknya. Tapi kau tenang saja, Kim So Eun. Aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ini adalah kesempatanku untuk membalas semua perbuatanmu padaku. Mungkin juga kesempatan agar aku bisa lebih dekat denganmu. Aisshh dari mana sih datangnya pikiran itu?

Kulihat wajahnya yang sedang menanti jawaban dariku.

“Baiklah, kau kuterima bekerja.” Jawabku akhirnya. Seketika itu wajahnya langsung berubah antusias. Seulas senyum bahagia tersungging di bibir mungilnya. Membuatku terpana beberapa saat dengan wajah bahagia yang ditunjukkannya saat ini.

“Benarkah? Kau benar-benar menerimaku, Cho Kyuhyun? Terima kasih. Aku benar-benar tak menyangka kalau kau akan menerimaku bekerja di sini. Kupikir karena beberapa kali pertemuan kita yang tak menyenangkan, kau tidak akan mau menerimaku bekerja di sini. Benar-benar terima kasih. Aku sungguh berterima kasih padamu.” Dia terus berkata tanpa melepas senyum di wajahnya. Hahaha. Aku tertawa dalam hati. Dia belum tahu rencanaku yang sebenarnya.

“Kalau boleh kutahu, aku bekerja di bagian apa?” Ini adalah pertanyaan yang kutunggu-tunggu sejak tadi. Aku kembali tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya.

“Kau akan bekerja sebagai.. Pelayan pribadiku.”

Aku tersenyum simpul melihat keterkejutan yang saat ini kembali tercetak di wajah cantiknya itu. Kulihat dia mengerutkan dahi.

“Apakah ada jenis pekerjaan seperti itu di perusahaan ini?” Tanyanya bingung.

“Tentu saja tidak. Aku baru terpikir tentang hal itu sekarang. Kau tahu, perusahaanku sekarang sedang sibuk sekali. Jadi, aku sebagai seorang direktur juga tentunya akan sangat sibuk mengurus banyak hal. Karena itulah aku berniat mencari seorang pelayan pribadi yang bisa melakukan apapun yang kuminta selama 24 jam penuh, sehingga pekerjaan kantorku juga tidak akan terganggu. Dan kebetulan sekali kau datang melamar pekerjaan padaku. Jadi kenapa tidak kau saja yang jadi pelayan pribadiku?” Kataku dengan tersenyum. Raut wajahnya sedikit berubah menjadi waspada.

“Solma (jangan-jangan)… Kau merencanakan sesuatu padaku?” Kali ini sepertinya otaknya sedak dalam keadaan baik, karena dia bisa menebak dengan tepat apa yang kupikirkan.

“Terserah kau mau berpikir apa mengenai tawaranku ini. Tapi yang jelas, hanya pekerjaan inilah yang bisa kutawarkan padamu.” Aku menjawab pertanyaannya dengan tenang. Jangan sampai dia curiga dengan rencanaku.

Dia terlihat berpikir cukup lama, lalu akhirnya berkata. “Baiklah. Bisa kau jelaskan apa saja yang harus kulakukan?”

“Sederhana saja. Kau datang pagi-pagi ke apartemenku. Menyiapkan sarapan untukku, lalu setelah itu membersihakan seluruh ruangan, mencuci dan menyetrika pakaianku, dan sebagainya. Dan setelah semuanya selesai, kau harus membawakan makan siang untukku ke kantor. Lalu kau tetap di kantor untuk melayaniku. Ingat, hanya melayaniku, bukan melayani karyawan di kantor ini. Kau kerjakan apa yang kuperintahkan padamu sampai aku memperbolehkanmu untuk pulang. Barulah setelah itu kau boleh pulang ke rumahmu.”

Dia hanya melongo menatapku. Mulutnya sedikit terbuka mendengar penjelasan dariku tadi. Dia seperti ingin protes, namun segera saja aku membungkam mulutnya dengan perkataanku.

“Kalau kau bersedia, kau bisa mulai bekerja besok. Tapi kalau kau tidak mau, kau bisa meninggalkan kantor ini sekarang juga.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Kali ini aku yakin, akulah yang menang. Hahahaha.

***

 

Kim So Eun POV

 

Awalnya aku sangat terkejut mengetahui bahwa dia adalah direktur perusahaan ini. Benar-benar terkejut sampai-sampai aku tak menghiraukan sama sekali perkataan Ji Hye padaku saat dia hendak keluar dari ruangan direktur. Aku bahkan tak sadar kalau laki-laki itu sudah duduk di kursi kerjanya dengan gaya yang, ya Tuhan… benar-benar terlihat angkuh dan sombong. Inikah bos yang dimaksud Ji Hye itu? Yang dia bilang sangat tampan dan mempesona itu? Ckck bos angkuh nan sombong seperti ini dimana letak mempesonanya sih? Apa mata Ji Hye sudah rabun? Bukankah dari dulu dia yang lebih ahli menilai seseorang daripada aku. Tapi kenapa sekarang penilaiannya sedikit bergeser? Kuakui dia memang tampan. Tapi melihat tingkahnya yang congkak, bagiku dia tidak mempesona sama sekali.

 

Aku tak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran laki-laki sombong itu untuk menjadi pelayan pribadinya. Sejujurnya aku sedikit ragu. Mungkin saja dia memiliki niat lain terhadapku. Pasalnya baru kali ini aku melamar pekerjaan ke perusahaan dan bukannya menjadi pegawai di perusahaan itu, malah diminta menjadi pelayan pribadi. Aku baru mendengar hal seperti itu.

Tapi ketika keraguan itu menyergapku, hal lain juga membayangi pikiranku. Bayangan ibu yang pulang dalam keadaan lelah dengan peluh bercucuran di dahinya membuatku akhirnya mengambil keputusan untuk menerima tawaran Cho Kyuhyun. Firasatku mengatakan kalau dia hanya ingin memanfaatkan kondisiku saat ini untuk membalasku. Mengingat betapa seringnya aku membuat dia kesal dan emosi. Itu karena dia dulu yang memulai. Kalau dia tidak membuatku kesal, aku juga tak akan berbuat begitu padanya.

Dasar laki-laki kejam. Bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaanku yang sedang susah untuk membalas dendam. Lihat saja. Aku tak akan menyerah begitu saja. Walau seperti apapun kau mencoba untuk menjahiliku, aku tidak akan dengan mudah untuk takluk dan mengakui kesombonganmu itu. Aku bersumpah, kau tak akan menang melawanku, Cho Kyuhyun!

***

 

Besok paginya, aku datang ke apartemen Kyuhyun berbekal selembar kertas bertuliskan alamatnya yang diberikan padaku kemarin. Entah keputusanku ini benar atau tidak, tapi yang jelas aku tak bisa mundur lagi. Kalau aku mundur, berarti aku telah mengaku kalah darinya. Dia akan menertawaiku kalau aku sampai melakukan itu. Aku menguatkan kembali tekadku. Ini semua demi ibu. Aku tidak ingin terus menjadi beban baginya. Hidupnya sudah terlalu menderita karena aku.

Sekarang aku sudah berada di depan gedung apartemen laki-laki itu. Benar-benar besar dan mewah. Aku tak pernah membayangkan akan masuk ke apartemen semewah ini. Kulangkahkan kakiku dengan hati berdebar. Sama seperti saat kemarin aku menginjakkan kaki di pintu masuk perusahaannya, begitu juga yang kurasakan kali ini. Tapi entah kenapa rasanya sedikit berbeda. Kalau kemarin aku belum mengetahui siapa yang akan kutemui, tapi sekarang aku sudah tahu siapa orangnya. Laki-laki itu, Cho Kyuhyun. Tak tahu kenapa ada perasaan lain yang merasuki hatiku. Entahlah, aku juga tidak tahu perasaan apa itu.

Setelah sampai di lobby apartemen, aku tercengang melihat betapa mewahnya gedung ini. Ini pertama kalinya aku masuk ke tempat semewah ini. Aku tidak mampu menutupi kekagumanku pada semua yang ada di tempat ini. Lama aku mengedarkan kepalaku menatap setiap sudut apartemen, sampai akhirnya pandanganku bertemu dengan wajah resepsionis yang tengah menatapku dengan wajah tersenyum ramah. Aku membalas senyumnya sedikit kikuk. Lalu melangkah untuk lebih mendekat ke arahnya.

“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Sapanya ramah.

“A-aku ada perlu dengan Cho Kyuhyun.” Jawabku dengan sedikit terbata.

“Oh, Tuan Cho Kyuhyun? Beliau tinggal di lantai 13 nomor 069.”

Sepertinya laki-laki itu cukup terkenal di apartemen ini, sampai-sampai wanita itu langsung menyebutkan tempat apartemen Kyuhyun tanpa perlu mengeceknya terlebih dahulu.

“Aa… terima kasih. Kalau begitu saya akan langsung ke sana. Sekali lagi terima kasih atas informasinya.” Kataku sambil membungkukkan badan.

“Ne, sama-sama, Nona.” Jawabnya masih dengan tersenyum.

Aku lantas berjalan menuju lift untuk naik le lantai 13 tempat apartemen Cho Kyuhyun berada. Setelah sampai di lantai 13, aku segera mencari apartemen nomor 069.

Suasana di tempat ini masih sangat sepi. Hanya aku yang berjalan di lorong panjang ini. Kupikir itu wajar, mengingat ini memang masih sangat pagi. Orang-orang di apartemen ini pasti masih betah berlama-lama di kasur mereka yang empuk dan nyaman. Berbeda dengan orang-orang di desa. Dulu saat aku masih berada di desa, pada jam-jam ini orang-orang sudah ramai keluar dari rumah untuk pergi bekerja dan melakukan kegiatan lainnya. Para orang tua akan pergi bekerja ke pasar atau pun ke sawah dan ladang. Kebanyakan masyarakat di desaku memang bekerja sebagai pedagang dan petani. Tapi tak sedikit juga yang memilih untuk pindah ke kota dan mencari penghidupan yang lebih layak di sana. Seperti halnya Ji Hye, sahabatku. Dan juga aku, meski bukan kemauanku sepenuhnya.

Akhirnya aku sampai di depan pintu apartemen 069. Benarkah ini apartemen Kyuhyun? Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak keras lagi? Aku merasa gugup. Ragu apakah akan mengetuk pintu di depanku ini atau tidak. Kugigit bibir bawahku dan kumainkan jari-jari tanganku. Kegugupan dan keragu-raguan itu melebur menjadi satu. Astaga.. Kenapa aku bisa jadi segugup ini? Aku kan hanya akan bertemu dengan Cho Kyuhyun, laki-laki sombong dan tidak berperasaan itu. Bukannya Presiden Korea Selatan. Tapi kenapa aku malah segugup ini? Aish, hentikan So Eun, hentikan! Apa kau bodoh? Untuk apa kau seperti ini? Dia itu kan laki-laki sombong yang selalu menghinamu. Jadi untuk apa kau takut? Kau harus berani, So Eun. Kau harus tunjukkan padanya kalau kau bukanlah seorang pengecut!

Benar. Aku harus tunjukkan padanya kalau aku bukan seorang pengecut. Aku tidak akan kalah begitu saja darinya. Meskipun hatiku mengatakan kalau dia merencakan sesuatu dibalik semua ini, aku harus terus maju. Aku tak boleh kalah darinya. Aku tak akan membiarkan diriku bertekuk lutut mengakui kesombongannya itu. Hah, tidak akan pernah, Cho Kyuhyun!

Setelah menarik nafas cukup dalam dan menghembuskannya dengan cukup keras, aku lalu mengangkat sebelah tanganku untuk mengetuk pintu di depanku ini. Baru saja aku hendak mengetuknya, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam dan saat itu pula aku melihat sosok laki-laki itu. Dengan wajah khas bangun tidur dan rambut yang sedikit acak-acakan dia berdiri dan menatapku.  Dia memakai kaos putih lengan pendek serta celana pendek selutut. Aku terdiam menatapnya tak berkedip. Ya Tuhan, bahkan saat bangun tidur pun dia masih terlihat setampan ini. Kurasakan jantungku kembali bekerja secara tak normal. Dadaku rasanya jumpalitan tak karuan. Aku merasa sulit bernapas. Seakan oksigen di sekitarku menipis secara mendadak. Aku tak tahu kenapa bisa begini. Sementara dia terus menatapku dengan mata beratnya, terlihat masih mengantuk. Lalu dia menguap lebar dan setelah itu menggaruk tengkuknya.

“Ah, kau rupanya. Kupikir siapa. Ayo masuk.” Katanya padaku

Dia lalu berjalan mendahuluiku dan setelah itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Aku lalu menyusulnya ke dalam dan kembali aku dibuat terkagum-kagum dengan kemewahan apartemennya. Benar-benar mewah. Aku merasa kembali seperti orang bodoh menatap ke seluruh sudut apartemen Cho Kyuhyun.

 

 

Apartemen  Kyuhyun didominasi oleh warna putih. Berbeda dengan ruang kerja di kantornya yang terlihat lebih klasik, kali ini apartemennya justru terlihat sangat modern, ditambah dengan interior rumah yang cantik dan elegan.

“Ya, kenapa kau masih berdiri di situ? Cepat ke sini!” Katanya sedikit membentak. Mengagetkanku saja. Aku lalu mendekat kepadanya.

“Duduk.” Perintahnya.

Setelah aku duduk, dia lalu meneruskan perkataanya.

“Dengar, Kim So Eun. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar padamu. Jadi kau harus mendengarkanku baik-baik, dan kau tak boleh memotong penjelasanku sebelum aku selesai bicara. Mengerti?” Tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya.

“O-o. Arasseo..” Jawabku.

“Oke. Jadi pertama-tama aku akan menjelaskan padamu mengenai  apartemenku ini. Aku hanya tinggal sendiri di sini. Apartemenku ini sebenarnya ada dua kamar, tapi kamar yang satunya lagi sudah aku alih fungsikan menjadi ruang kerja. Yang di sebelah sana adalah kamarku, sedangkan yang ini adalah ruang kerjaku” Dia menjelaskan sembari menunjuk letak kamar dan ruang kerjanya. “Lalu itu dapurnya.” Katanya seraya menunjuk  letak dapur yang juga di dominasi warna putih. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasannya.

“Kalau kau mau ke kamar mandi, letaknya ada di sana, di sebelah ruang kerjaku. Selebihnya kurasa tak perlu kujelaskan. Ingat, aku paling tidak suka melihat ada debu yang menempel sedikit saja di apartemenku ini. Jadi pastikan apartemen ini bebas dari debu setiap harinya. Dan kalau sampai ada barang yang rusak atau pecah karena keteledoranmu, maka aku akan memotong gajimu sebagai ganti rugi barang yang kau rusakkan—“

“Mwo?? Kenapa bisa begitu?” Protesku padanya. Aku tak peduli walaupun tadi dia sudah menyuruhku untuk tidak memotong penjelasannya. Ini tidak bisa diterima. Mana boleh dia memotong gajiku seenaknya.

“Wae?? Itu memang sudah seharusnya begitu.”

“Andwae. Tidak bisa begitu. Lagipula aku tidak akan mungkin dengan sengaja memecahkan barang-barangmu. Dan aku bisa jamin, kalau barang-barang di apartemen ini tidak akan ada yang pecah ataupun rusak selama aku bekerja di sini.” Sanggahku cepat.

“Aaa.. Begitukah? Kita lihat saja nanti. Kalau sampai ada barang di rumah ini yang pecah atau rusak karena ulahmu, maka aku akan langsung memotong gajimu. Arasseo?” Katanya dengan senyum mengejek.

“Aish. Terserah dirimu saja.” Jawabku kesal. Sial. Dia pasti sudah merasa di atas angin sekarang. Bisa kulihat dari senyum puas yang tersungging di bibirnya. Laki-laki ini benar-benar mengajakku perang ternyata.

***

“Haaaahh.. Benar-benar melelahkan.”

Aku menjatuhkan pantatku di sofa empuk milik laki-laki sombong itu. Kusandarkan tubuhku di sandaran sofa ini, dan meluruskan kaki-kakiku yang rasanya akan terlepas kalau aku tidak segera mengistirahatkannya. Peluh bercucuran dari dahiku, dan dapat kurasakan juga punggungku sudah basah karena keringat. Bayangkan, aku harus membersihkan apartemen sebesar ini seorang diri. Memastikan kalau tidak ada debu yang menempel sedikitpun di setiap sudut ruangan. Dan setelah itu, aku juga harus mencuci dan menyetrika semua baju kotor laki-laki itu. Hah, dia benar-benar menyebalkan. Aku tahu, di apartemen semewah dan sebesar ini, pasti sudah ada jasa yang bertugas membersihkan apartemennya, juga jasa laundry yang akan mencuci dan menyetrika baju-baju mahalnya. Lalu apa untungnya menyuruhku bekerja sebagai pelayan pribadinya? Ah tidak tidak. Aku lebih tepat disebut pembantu rumah tangganya. Sekarang aku benar-benar yakin, tujuan utamanya menawarkan pekerjaan ini kepadaku tak lain adalah karena dia ingin menyiksaku saja.

Sudahlah. Daripada aku terus memikirkan laki-laki itu, lebih baik aku segera memasak makan siang untuknya. Bisa-bisa dia marah kalau aku sampai telat mengantarkan makan siangnya.

***

“Ji Hye-ya..” Sapaku pada Ji Hye saat sampai di meja kerjanya. Ji Hye mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tersenyum.

“Kau sudah datang, So Eun. Aigoo, kau terlihat kelelahan sekali. Aku benar-benar masih tidak menyangka kalau kau mau menerima pekerjaan ini.” Kata Ji Hye. Dia terlihat kasihan kepadaku. Aku memang sudah menceritakan semuanya pada Ji Hye mengenai hubunganku yang kurang baik dengan Cho Kyuhyun. Begitu pula dengan tawaran Kyuhyun yang memintaku untuk menjadi pelayan pribadinya (yang lebih tepat disebut pembantu). Awalnya Ji Hye berniat memprotes pada Kyuhyun mengenai jenis pekerjaan yang diberikannya padaku , yang Ji Hye anggap tak masuk akal. Tapi aku mencegahnya melakukan itu. Aku tidak mau disebut tukang ngadu oleh laki-laki sombong itu. Itu sama saja artinya dengan aku mengakui kelemahanku. Alhasil, Ji Hye pun mengurungkan niatnya untuk protes, dan lebih memilih untuk mendukung dan menyemangatiku. Ya, saat ini memang hal itu yang aku butuhkan. Aku tersenyum kecut membalas ucapan Ji Hye barusan.

“Yaa. Jangan cemberut begitu. Mana So Eun yang dulu kukenal? Yang tidak mudah menyerah dan selalu bersemangat kalau bekerja?” Kata Ji Hye yang mulai membaca keletihanku. Entahlah, kenapa aku sekarang merasa kalau aku akan kalah dari Kyuhyun? Semangat yang tadi pagi aku dengung-dengungkan, entah menguap ke mana. Padahal ini baru hari pertama aku bekerja. Bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Aish, menyebalkan!

“So Eun-ah, jangan mau kalah dari Kyuhyun. Meski sebenarnya aku tak memihak salah satu di antara kalian, tapi aku juga tidak mau sahabatku yang satu ini langsung kalah di ronde pertama. Kau mengerti kan maksudku?” Tanya Ji Hye.

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Hahahaha, jadi Ji Hye juga berpikir bahwa ini tak hanya masalah pekerjaan, tapi juga pertempuran antara aku dan Cho Kyuhyun. Kau memang benar-benar jeli  Ji Hye. Dia benar, aku tak boleh kalah dengan mudah dari Kyuhyun. Ini hanya baru awalnya saja. Aku harus tetap semangat.

“Terima kasih, Ji Hye. Kau memang sahabatku yang paling baik.”

“Tentu saja. Memang sahabatmu siapa lagi selain aku?”

“Aish, kau ini. Ya sudahlah. Aku masuk dulu. Bisa-bisa aku tidak jadi mengantarkan makanan untuknya karena terlalu asyik berbicara denganmu.” Kataku pada Ji Hye dengan tersenyum.

“Hahaha .. Arasseo. So Eun-ah, hwaiting!” Katanya sambil mengepalkan kedua tangannya memberiku semangat. Aku hanya membalasnya dengan senyum lebar, lalu masuk ke dalam ruangan Cho Kyuhyun.

Baru saja aku masuk ke ruangannya, tapi dia sudah langsung berkata pedas kepadaku.

“Yaa, kenapa kau lama sekali? Aku sudah sangat lapar dari tadi” katanya tanpa menoleh padaku. Pandangannya masih fokus pada dokumen-dokumen yang ada di depannya. Kalau memang dia kelaparan, kenapa tidak menyuruh karyawannya saja untuk membelikannya makanan? Kenapa harus menunggguku? Ck, benar-benar aneh.

Setelah sampai di hadapannya, aku lalu meletakkan bekal yang sudah kumasakkan untuknya. Barulah saat itu dia mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Apa kau sengaja ingin membuatku mati kelaparan?” Tanyanya dengan raut wajah kesal.

“Aisshh. Aku hanya telat beberapa menit. Bagaimana mungkin itu akan membuatmu mati kelaparan?!” Kataku kesal karena ikut terbawa emosi. Aku lalu duduk di depannya.

“Apa seperti ini caramu bersikap pada majikanmu? Hah, baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu.” Katanya. Aku tahu dia pasti makin kesal padaku. Biarkan saja. Asal kau tahu saja Kyuhyun. Jangan berpikir karena sekarang posisiku sebagai pembantumu, bukan berarti kau bisa mengaturku semaumu. Membuatku menjadi bersikap baik padamu. Cih, jangan harap!

“Sudahlah. Bukankah kau bilang hampir mati kelaparan? Cepatlah makan, sebelum apa yang kau katakan menjadi kenyataan.” Kilahku.

“Aku tidak pernah bilang hampir mati kelaparan. Aku bilang aku sangat lapar. Dan ini semua gara-gara kau, Kim So Eun!” Bentaknya padaku.

Aish, dia semakin berani membentakku sekarang.

***

 

Cho Kyuhyun, kau benar-benar membuatku kesal. Setelah puas membentakku, sekarang kau menyuruhku pergi ke sana ke mari untuk membelikanmu ini itu. Bayangkan saja, dia meyuruhku pergi untuk membelikannya ayam di tempat yang lumayan jauh dari kantornya untuk ukuran pejalan kaki sepertiku. Lalu setelah aku datang dan memberikan pesanannya, dia kembali meyuruhku pergi membeli kopi di byuldabang, atau yang lebih terkenal di luar dengan nama Starbucks. Orang korea memang biasa menyebut Starbucks dengan sebutan byuldabang. Byul artinya bintang, sedangkan dabang artinya warung kopi.

Setelah aku kembali lagi dari membeli kopi, tiba-tiba dia berkata kalau dia sedang ingin memakan pizza.

“Ah, dan jangan lupa membeli buah juga untuk pencuci mulut.” Katanya enteng.

Oh Tuhan.. Cho Kyuhyun, kau benar-benar membuatku jengkel! Memang perutnya sebesar apa sih sampai muat memakan semuanya sendirian? Apa dia tidak tahu, kakiku rasanya sudah mau patah? Dia benar-benar keterlaluan.

Sekarang aku tengah duduk di sofa ruang kerjanya. Melihat dia dengan lahapnya menyantap semua makanan yang kubelikan tadi, tanpa repot-repot menawarkannya kepadaku. Cih, benar-benar pria sombong dan tak berperikemanusiaan. Bagaimana mungkin dia bisa makan dengan lahap dan membiarkan aku yang kelaparan hanya menontonnya makan? Aku terus menatapnya dengan sebal. Sementara dia tetap cuek, tak mau menoleh sedikitpun ke arahku. Tapi bisa kulihat sudut bibirnya yang membentuk senyuman kecil. Dia pasti sedang menertawakanku sekarang. Merasa berhasil telah mengerjaiku. Ya, kuakui hari ini kau memang berhasil mengerjaiku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Lihat saja, suatu saat akan aku balas kau, Kyuhyun!

***

Tak terasa sudah seminggu aku bekerja untuk pria sombong itu. Dan sejauh ini aku masih bisa bertahan dengan semua tingkah menyebalkan laki-laki itu. Untung saja ada Ji Hye yang terus member semangat untukku. Kalau tidak, mungkin aku sudah memilih untuk mencari pekerjaan lain saja, daripada terus menjadi budak Cho Kyuhyun. Tapi setiap aku memikirkan hal itu, bayangan ibu selalu muncul. Kalau aku mencari pekerjaan lain, belum tentu aku akan segera mendapatkannya. Apalagi mengingat usahaku mencari pekerjaan yang sia-sia sebelum bekerja pada Kyuhyun. Aish, bayangan saat aku dipermalukan oleh manager botak itu kembali terlintas di kepalaku. Itu benar-benar memalukan. Aku sangat malu saat itu, terlebih lagi pada Kyuhyun. Dan aku baru ingat, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih kepadanya karena dia telah menyelamatkanku dari manager botak itu.

Sudahlah, kurasa dia juga tidak membutuhkan kata terima kasih dariku. Baginya, menyiksa dan mengerjaiku lebih menarik dari sekadar ucapan terima kasih. Bahkan hari ini pun aku dipaksa ikut lembur olehnya karena dia  harus menyelesaikan beberapa dokumen hari  ini juga. Yang aku herankan adalah, dia yang lembur tapi kenapa aku juga harus ikut menungguinya lembur? Ji Hye saja sudah di suruhnya pulang, kenapa aku yang tak ada kepentingan apa-apa dengan pekerjaannya malah ditahan di sini?

“Supaya aku tak perlu susah-susah kalau aku butuh sesuatu.” Begitu katanya.

Hah, alasan! Nyatanya aku hanya jadi patung semalam di ruangannya karena selama dia menyelesaikan pekerjaannya, dia sama sekali tak menyuruhku apapun. Kecuali mengambilkannya kopi, itu saja. Selebihnya aku hanya duduk diam di sofa empuk ini. Tak tahu harus melakukan apa.

“Apa kau butuh sesuatu?” Aku memecah kebisuan di antara kami. Aku tidak bisa terus begini. Harus ada yang kukerjakan. Kalau tidak, rasanya aku akan mati kebosanan di tempat ini. Dia mengangkat kepalanya dari dokumen yang dipegangnya. Menatapku dengan datar, lalu menyuruhku mendekat. Aku tersenyum simpul. Itu artinya dia akan menyuruhku melakukan sesuatu dan aku tidak jadi mati bosan karenanya. Aku lalu berdiri dan melangkah ke arahnya. Duduk lama-lama membuat pantatku sakit ternyata.

Aku menunggu perintah darinya. Dia masih terus menatapku lama. Apa dia sudah kehabisan akal untuk menyuruhku?

“Duduklah.” Katanya.

“Ye?” Tanyaku tak mengerti. Aku menunggu perintah darinya untuk mengerjakan sesuatu, tapi kenapa dia malah menyuruhku duduk?

“Apa kau tuli? Aku menyuruhmu duduk, Kim So Eun.”

“O-Oh. Baiklah.” Kataku akhirnya. Mungkin perintahnya kali ini agak panjang, jadi dia menyuruhku duduk.

Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Aku menunggu-nunggu dia berbicara padaku, tapi yang ada dia justru kembali memfokuskan dirinya pada dokumen di depannya. Lalu untuk apa aku disuruh duduk di sini?

“Ya, Kyuhyun-ssi. Kenapa kau diam saja?” Tanyaku akhirnya. Tak tahan dengan sikap diamnya.

“Lalu kau mau aku berkata apa?”

“Ya terserah, apa saja. Dari tadi aku menunggu perintahmu, tapi kau malah kembali mengerjakan kertas-kertas itu.” Kataku sebal.

“Bukankah tadi aku sudah memerintahkanmu untuk duduk. Jadi  perintah apalagi yang kau tunggu?”

“Mwo? Jadi maksudmu aku harus terus duduk di sini tanpa melakukan apapun?” Kataku tak habis pikir.

Dia hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.

“Mwo? Yang benar saja! Lebih baik aku kembali ke tempatku tadi, daripada aku harus duduk di depanmu begini.” Kilahku hendak berdiri dari kursiku, tapi langsung ditahan olehnya.

“YA, tetap di situ. Kalau aku bilang kau harus duduk di sini, berarti kau memang harus duduk di sini. Jangan coba-coba membantah. Mengerti!” Katanya sok tegas.

Haaaahhh.. Baiklah, Kyuhyun. Kau memang rajanya dalam hal menyiksaku. Kau benar-benar tahu bagaimana membuatku kesal.

***

Aku harus pulang larut malam hari ini. Badanku rasanya pegal sekali. Duduk berjam-jam di hadapan laki-laki itu benar-benar membuatku kesal. Aku jenuh hanya duduk saja. Setiap kali aku berniat berdiri dan melonggarkan sendi-sendiku yang kaku, dia langsung melotot ke arahku. Ck, menyebalkan.

Aku pulang ke rumah jam sebelas malam. Semoga saja ibu tidak cemas menungguku di rumah. Saat ini aku sedang berada di dalam mobil bersama Kyuhyun. Dia berbaik hati mau mengantarku pulang. Setidaknya, ada satu hal baik yang dia lakukan kepadaku hari ini.

Akhirnya aku sampai juga di rumah. Aku sudah menyuruhnya untuk menurunkanku di depan gang saja, tapi dia memaksa untuk mengantarku sampai ke depan rumah. Dia bilang supaya dia tak repot-repot mencari rumahku nantinya kalau ada apa-apa. Benarkah?

Setelah turun dari mobilnya, aku lalu berjalan untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum menaiki tangga kecil di depan rumahku, dia memanggilku kembali. Mau tak mau aku kembali menolehkan wajahku ke arahnya.

“Wae?” Tanyaku.

“Tidak ada. Hanya ingin mengingatkanmu, istirahatlah yang cukup.” Katanya.

“Ck, tanpa kau suruhpun aku akan langsung tidur dan istirahat setelah ini.” Kataku kesal.

“Hahaha, baiklah kalau begitu. Selamat tidur. Jangan lupa memimpikanku malam ini.” Katanya dengan senyum manis. Dan setelah itu dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan aku yang terbengong dengan kata-katanya barusan.

Mwo? Apa dia bilang? Memimpikannya? Cih, tidak akan!

Aku lantas berbalik untuk masuk ke dalam rumah, tapi aku dikagetkan dengan kehadiran ibu di depanku. Dia menatapku dengan dingin. Terlihat sekali dari tatapannya kalau dia sedang marah. Benar-benar marah.

“Siapa laki-laki itu?”

 

TBC

 

mian chingu, ff ini baru bisa aku update sekarang. dikarenakan satu dan lain hal. oh ya, minal aidin walfaizin ya.. mungkin sedikit terlambat, tapi nggak apalah, daripada nggak ngucapin sama sekali kkkk😀

dan makasi banget buat kak shane yang udah terus support aku buat lanjut ini ff. makasi juga buat temen2 yang udah luangin wktnya buat comment dan like🙂

sedikit bocoran aja ya, di part2  berikutnya bakal muncul tokoh2 sebelumnya belum pernah muncul di ff ini. so, ikutin terus ya ffnya.. ;D

Sistem Pendidikan Korea Selatan Ternyata Horor!!


SJForIndonesia

Anyeonghaseyo… Sesuai judul postingan, MinTS mau berbagi sedikit cerita tentang pendidikan di Korea Selatan. Mimin jadi kepo sama sistem pendidikan di Korea Selatan gara-gara nonton K-Drama, reality show, sama waktu chat sama pelajar KorSel. Ini dia hasil browsingan mimin di Om Google:

– Bagaimana sih sistem pendidikan di Korea Selatan itu?

Sistem pendidikan di Korea saat ini mirip dengan di Indonesia, yaitu 6 tahun pendidikan dasar, 3 tahun pendidikan menengah awal, 3 tahun menengah atas, baru kemudian pendidikan tinggi. Usia untuk sekolah dasar pun sama dengan di negara kita yaitu dari mulai usia sekitar 6 tahun, dan untuk tingkat pendidikan seterusnya pun tak jauh berbeda.

– Jenis SMA di KorSel?

Sekolah menengah atas di korea biasanya dibagi menjadi dua jenis, sekolah umum dan kejuruan. Ada juga beberapa sekolah yang disebut sekolah komprehensif, yaitu sekolah umum dan kejuruan digabung. Sekolah-sekolah khusus pun ada, misalnya sekolah menengah khusus seni, olahraga, ilmu pengetahuan…

Lihat pos aslinya 1.295 kata lagi