Loving You (Part 1/?)


Title : Loving You

Cast : Kim So Eun, Cho Kyuhyun

Other Cast : Park Ji Hye (OC), dll.

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Length : Chaptered (1/?)

Agak bingung mau nentuin judulnya. Tapi yang kepikiran cuma ini, selain itu emang suka banget sama lagunya KRY yg satu itu. Sebenernya genrenya ada sadnya juga sih, tapi ada lucu2nya juga nyempil dikit, tapi itupun kalo bisa dibilang lucu sama reader sekalian, mungkin malah garing kali, hahaha.. ya udah deh, gk mau banyak cuap. Monggo dibaca part satunya ya. O ya berhubung baru nulis sampe segini doang, jadi butuh sabar buat nungguin part selanjutnya, itupun kalo ada yg nunggu, kekekeke.. dan makasi banget buat yang udah mau baca ff acakadulku ini.. gomawo.

 

Sahabat

Kim So Eun POV

Selama ini aku hanya memiliki seorang sahabat dan dia adalah satu-satunya teman yang aku miliki. Namanya Park Ji Hye. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dan sangat merindukannya. Setelah dia memutuskan untuk pergi ke Seoul empat tahun yang lalu, kami hanya berhubungan lewat telepon. Itu pun tak bisa setiap hari. Ibu selalu marah ketika aku menggunakan telepon rumah terlalu lama karena tagihannya akan sangat mahal. Ji Hye juga tidak bisa terus menghubungiku karena dia juga disibukkan dengan kuliahnya di sana.

Ketika dia memberitahukan mengenai kepindahannya kepadaku, aku sempat marah besar padanya. Aku pikir, dia sudah tidak sayang lagi padaku. Bagaimana mungkin dia tega meninggalkanku di sini? Hanya dia temanku satu-satunya, karena memang tak ada yang mau berteman denganku selain dia. Aku masih ingat ketika teman-teman di sekolah menghinaku, dia datang dengan kedua tangan dipingganya. Mata sipitnya melotot ke arah anak-anak yang menghinaku itu. dengan lantang dia berkata “Yaa anak ingusan. Kalian pikir diri kalian hebat dengan menghinanya seperti ini? Kalian pikir kalian lebih baik darinya? Dengar, sekali lagi aku melihat kalian mengganggunya, aku tidak akan segan untuk mematahkan tulang kalian! Mengerti?” aku dan anak-anak yang lain terdiam mendengarnya. Dia benar-benar hebat, pikirku. Semua anak yang tadi menghinaku terlihat ketakutan. Mereka kemudian lari terbirit-birit setelah menjawab dengan anggukan kepala mereka. Sejak itulah kami berteman dekat. Kami bersahabat hingga saat ini. Saling berbagi kisah dan pengalaman bersama.

Sejak bersahabat dengan Ji Hye, tak ada lagi yang berani mengganggu dan menghinaku. Meski tak ada yang mau berteman denganku, tapi setidaknya tak ada lagi yang menghinaku dan itu semua berkat Ji Hye. Itulah mengapa aku sangat menyayanginya. Bagiku, Ji Hye adalah pahlawan, sahabat, sekaligus saudaraku. Aku marah padanya berhari-hari karena kepindahannya itu. Ketika dia datang mencariku ke rumah, aku berpura-pura tidur. Ketika kami bertemu di tempat kerja paruh waktu, aku tidak menegur ataupun membalas sapaannya sama sekali. Hingga akhirnya, aku sendiri lelah dengan tingkahku. Aku sadar tidak bisa marah padanya terlalu lama. Tahu bahwa aku tak punya hak untuk melarangnya. Hidup di Seoul adalah cita-citanya sejak kecil. Kuliah dan bekerja di sana. Itulah mimpinya, aku tidak mungkin menghalanginya untuk meraih mimpinya itu.

Aku sendiri tak tahu mimpiku apa. Selama ini aku menjalani hidup apa adanya. Mungkin satu-satunya mimpi yang aku punya adalah menjalani hidup dengan tenang tanpa beban.  Merasakan hidup normal seperti orang lain, tanpa ada beban berat yang terasa menindih hatiku.

Beberapa hari kemudian, Ji Hye bersama kedua orang tuanya berangkat menggunakan kereta. Kami berpelukan erat sambil terus menangis. Mataku bengkak karena terlalu lama menangis. Dia melepaskan pelukannya “Yaa, berhentilah menangis. Mata indahmu jadi terlihat jelek sekarang.” Dia berusaha menghentikan tangisanku yang semakin menjadi-jadi sementara dia sendiri juga tidak bisa berhenti menangis. “Kau harus baik-baik di sana. Jaga kesehatanmu, jangan sampai kau sakit. Dan… jangan pernah melupakanku.” Kataku dengan sesenggukan. “Arasseo… Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. Wajah cengengmu itu pasti akan selalu kuingat.” Dia mencoba membuatku tertawa, dan kuakui itu berhasil. Kami kemudian tertawa bersama. Lalu berpelukan lagi dan saling mengucapkan selamat tinggal. Dia melambaikan tangannya kepadaku sebelum naik ke dalam kereta. Dengan tersenyum aku membalas lambaiannya. Dia lalu berteriak kepadaku “Aku menunggumu di Seoul…. segeralah menyusulkuuuu…” Belum sempat aku membalas perkataannya, dia sudah langsung masuk ke dalam kereta. Saat itulah aku merasakan kesepian itu lagi. Ketika sahabatku satu-satunya pergi meinggalkanku di sini, sendiri meratapi nasibku yang begitu menyedihkan.

***

Saat itu bulan terlihat sangat indah dan bersinar dengan terang. Aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kukayuh sepedaku dengan lambat, mengingat kembali kenanganku bersama Ji Hye. Membuat kimchi bersama, membeli teokbokki di depan sekolah dengan uang pas-pasan, bersepeda bersama di sore hari. Aku rindu sekali padanya. Sudah berapa lama ini? Sudah empat tahun. Aku menghela napas. Tak terasa, sudah empat tahun Ji Hye meninggalkanku. Sudah empat tahun pula aku merasa hidup sendirian. Meski hidup bersama ibuku, aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku tahu, dia pasti membenciku, amat sangat membenciku. Aku tahu itu, karena akulah sumber penderitaannya selama ini. Aku yang menyebabkan ibu menderita. Aku memang anak pembawa sial. Mengingat hal itu membuat mataku perih. Rasanya sakit sekali.

Tanpa terasa aku sudah sampai di rumah. Rumah sederhana dengan pagar yang terbuat dari batu-bata yang telah berubah warna menjadi kecoklatan dengan pintu yang terbuat dari kayu yang juga sudah lapuk termakan usia. Di samping kiri pintu masuk, ada pohon bunga Mugunghwa yang akan mekar dari bulan Juli sampai akhir Oktober. Aku sangat menyukai saat-saat dimana bunga itu mekar. Bunga Mugunghwa tidak memiliki tampilan meriah ataupun berbau wangi yang kuat, sehingga tampak biasa saja. Namun bagi orang korea, Mugunghwa melambangkan ketekunan, kelembutan, dan keteguhan. Mugunghwa adalah bunga nasional Republik Korea. Selain bunga Mugunghwa, di depan rumah juga ada beberapa tanaman hias yang berjejer rapi di sana.

Aku meletakkan sepedaku di dekat pohon bunga Mugunghwa. Lalu berjalan memasuki rumah setelah melepas sepatuku terlebih dahulu. Ibu ada di sana, menyaksikan tayangan drama sageuk kesukaannya. Namun pandangan ibu terlihat berbeda saat itu. Ibu seperti melamun. Matanya memang melihat televisi, tapi pikirannya tak ada di sana. Ada apa dengannya? Biasanya dia selalu antusias menyaksikan drama kesukaannya itu, bahkan sering kali tak sadar ketika aku telah kembali ke rumah.

Ketika aku ingin masuk ke kamarku, ibu tiba-tiba memanggilku.

“So Eun-a, duduklah sebentar. Ibu ingin bicara.” Aku berbalik menghadap ibu. Berjalan mendekatinya, dan duduk di samping ibu.

“Ada apa, Bu?” Aku melihat kesedihan serta kelelahan di mata itu. Ibu memandang datar ke arahku. Ia memang tak pernah tersenyum padaku, dan mata sendu itulah yang selalu kulihat setiap kali aku memandangnya. Begitu besarkah kebenciannya kepadaku? Tidak adakah rasa sayangnya sedikitpun padaku?

“Sepertinya kita harus pindah dari sini.” Ibu berkata lirih. Aku terkejut mendengarnya.

“Pindah? Ke mana?” tanyaku.

“Entahlah, mungkin ke Seoul. Di sana Ibu akan mencari pekerjaan yang lebih layak lagi.”

Seoul? apakah itu  berarti aku bisa bertemu lagi dengan Ji Hye? Aku bisa berkumpul lagi dengannya? Oh Tuhan.. aku tidak tahu harus bahagia atau sedih saat ini. Suara ibu kembali menyadarkanku.

“Kita akan berangkat minggu depan. Ibu akan mengurus semuanya terlebih dahulu. Kau juga bersiap-siaplah.”

Ibu mematikan televisi dengan menggunakan remote ditangannya, lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

“Kenapa Ibu tiba-tiba ingin pindah?” Aku tidak dapat menahan diri untuk menanyakan hal ini. Meski dalam hati aku merasa sangat senang dengan berita ini, tapi tetap saja aku ingin tahu alasan dibalik kepindahan kami. Ibu terdiam cukup lama. Namun jawaban ibu selanjutnya membuat hatiku remuk-redam.

“Apa aku harus memberi alasan kepadamu? Kalau kau memang tidak ingin pindah, kau bisa tetap tinggal di sini dan aku sendiri yang akan pergi. Terserah kau mau ikut atau tidak.” Ibu lalu masuk ke dalam kamarnya. Aku mematung. Rasanya sakit sekali. Bagaimana bisa ibu bicara setega itu padaku. Rasa bencinya sebegitu kuatkah? Apa ibu benar-benar tak menginginkanku? Lalu kenapa ibu mau melahirkanku ke dunia ini? Kenapa dia tidak bunuh aku saja ketika masih janin dulu? Kenapa dia tega menyiksa batinku seperti ini? Aku terus menangis tanpa suara. Merasakan angin malam dari jendela yang masih terbuka  menusuk kulit dibalik baju tipis yang kukenakan sekarang. Aku memeluk kedua lututku, membenamkan wajahku di sana. terus menangisi hidupku ini.

***

Pagi harinya, dengan mata bengkak karena semalaman menangis, aku berniat menelpon Ji Hye untuk mengabarkannya mengenai kepindahanku ke Seoul. Tapi saat nada sambung sudah terdengar di telingaku, aku buru-buru meletakkannya. Aku berubah pikiran. Aku akan memberi kejutan untuknya. Ya, kurasa itu ide yang bagus. Aku akan langsung mendatanginya ke tempat dia bekerja.

Setiap kali menelponku, dia selalu bercerita tentang perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Betapa besarnya perusahaan itu, orang-orang kantor yang baik dan ramah, ruangan yang harum dan nyaman, sampai bosnya yang dia bilang sangat tampan. Hahaha.. Dia tidak pernah ketinggalan bercerita padaku mengenai hal yang terakhir itu. Dia juga pernah memberikan alamat perusahaan tempat bekerjanya itu padaku. Jadi aku putuskan untuk langsung menemuinya di sana. Aku yakin dia pasti akan terkejut sekali nantinya. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan  hal itu.

=============================================

Pertemuan yang ‘Menyenangkan’

Cho Kyuhyun POV

Aku berjalan menuju dapur sambil terus mendengarkan ocehan ibu. Aku melirik jam sekilas, sudah jam sebelas malam, dan ibuku masih saja terus meneceramahiku di seberang sana. Bayangkan, dia menelponku sejak satu jam yang lalu. Awalnya aku tidak berniat untuk mengangkat telepon darinya, tapi aku tidak setega itu pada ibuku sendiri. Aku terus mendengarkannya sambil menuangkan kopi ke dalam mug.

“Bu, apa tidak ada bahan pembicaraan yang lain? Aku bosan mendengar Ibu bertanya tentang hal itu terus.” Keluhku padanya. Setiap kali kami bicara, pasti selalu membahas mengenai pernikahan.

“Aku baru 25 tahun, Bu. Bukan 35. Aku pasti akan memperkenalkan calon pasanganku kepada Ibu, tapi tidak sekarang. Saat ini aku masih ingin menikmati kesendirianku, Bu. Tolong mengerti.” Aku menghela napas panjang.

“Ibu tahu, tapi Ibu sudah tak sabar ingin memiliki cucu. Jadi cepatlah menikah dan berikan cucu untuk Ibumu ini. Apa kau tahu, semua teman-teman Ibu sudah memiliki cucu yang cantik-cantik dan tampan-tampan. Hanya Ibu yang belum.. Kyuhyun-a, segeralah berikan Ibu cucu.” Ibu merayu dengan nada manja seperti anak kecil yang merayu agar dibelikan permen oleh ayahnya. Hei, di sini yang jadi anaknya, aku atau ibu sih?

“Aku usahakan.” Kataku akhirnya. Aku sudah sangat lelah saat ini karena pekerjaan kantor yang sangat banyak, ditambah lagi dengan ocehan ibu yang tidak kunjung berhenti. Mungkin dengan jawabanku tadi bisa menghentikan ocehannya untuk malam ini, aku benar-benar ingin istirahat. Dan sepertinya itu berhasil.

“Benarkah?? Ibu senang mendengarnya. Kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya. Jangan bohongi Ibu, Kyuhyun. Ibu pegang kata-katamu itu. Segera cari istri dan berikan cucu untuk Ibu, Arasseo?”

“Ye..” Aku menjawab singkat.

“Baiklah Ibu tutup teleponnya. Beristirahatlah, kau pasti lelah seharian ini. Jaga kesehatanmu. Mimpi indah, anakku..”

Sambungan terputus. Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Meskipun cerewet, tapi aku sangat menyayangi ibuku. Dia selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum.  Aku lalu berjalan menuju sofa putih yang ada di ruang tengah. Menyalakan televisi. Menonton entah acara apa namanya, ditemani secangkir kopi panas ditanganku. Aku kembali teringat permintaan ibu tadi. Bisakah aku mendapatkan istri dalam waktu dekat ini? Istri yang bagaimana yang ibu inginkan? Apakah dia bisa membuatku bahagia nantinya? Apa dia bisa memberikan kehangatan untukku? Apa dia bisa setia kepadaku? Perasaan sakit karena diduakan sungguh sangat menyakitkan. Dan aku tidak ingin merasakannya untuk kedua kalinya.

***

Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kamar membangunkanku dari tidur nyenyakku pagi ini. Aku merenggangkan otot-ototku. Kemudian menggapai-gapai jam kecil di atas meja samping tempat tidurku. Aku membelalakkan mata ketika melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam. Sudah jam sembilan pagi. “Ohh, shit!!” Aku mengumpat pelan. Bagaimana bisa aku terlambat bangun seperti ini?

Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi. Sekitar sepuluh menit aku keluar dan langsung menyambar pakaian kantorku dari dalam lemari. Aku harus secepatnya sampai di kantor. Sebentar lagi ada rapat penting dengan para pemegang saham Star Group, perusahaan yang aku pimpin saat ini. Star Group adalah anak perusahaan dari StarMoon Group. Perusahaan multinasional yang dikelola oleh keluarga besarku. Ayahku sendiri memegang jabatan paling penting yakni sebagai pemimpin StarMoon Group. Itu karena beliau adalah anak sulung di keluarganya. Beliau bekerja keras untuk terus mengembangkan perusahaan itu hingga akhirnya dapat berkembang pesat seperti sekarang. StarMoon Group memproduksi berbagai jenis barang dalam segala bidang. Cakupan pemasarannya tentu saja tak hanya sebatas dalam negeri, namanya saja multinasional. Produk-produk StarMoon Group telah menyebar ke berbagai pelosok dunia dengan cabang-cabang yang didirikan di berbagai negara.

Aku sendiri mengambil alih Star Group ini. Star Group bergerak di bidang  elektronik. Memproduksi segala macam barang elektronik untuk semua kalangan, baik kalangan atas maupun menengah ke bawah. Aku selalu mengedepankan kualitas dalam setiap produksi barang di Star Group. Cukup tegas kepada karyawan-karyawanku dan tidak akan segan untuk membentak mereka jika melakukan kesalahan. Aku tidak suka mereka bekerja asal-asalan dan tidak profesional. Aku tidak akan segan memecat karyawanku yang bekerja dengan tidak teliti. Aku juga  menyeleksi secara ketat setiap orang yang melamar pekerjaan di perusahaan ini. Tidak akan kubiarkan perusahaan ini hancur karena kualitas pekerjanya yang tidak baik.

Tiga puluh menit kemudian, aku telah sampai di kantor. Aku segera memasuki kantor dengan sedikit terburu-buru. Sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Baru saja aku memasuki pintu utama, ponselku  berbunyi. Aku segera merogoh saku  celanaku. Karena sambil menjinjing tas kerjaku, aku sedikit kesulitan untuk mengambil ponselku. Setelah mendapatkannya, aku melihat layar smartphoneku. Satu panggilan masuk dari Park Ji Hye. Sekretarisku itu pasti sedang bingung sambil mondar-mandir di depan ruanganku saat ini. Dia memang selalu begitu setiap kali gelisah karena hal apapun. Meskipun aku tidak suka dengan kebiasaan buruknya yang satu itu, tapi aku sangat mempercayainya. Dia adalah partner terbaikku di perusahaan ini. Hasil kerjanya selalu memuaskan. Kami juga sangat akrab di luar masalah kerja. Aku selalu merasa nyaman setiap kali bercerita kepadanya. Aku juga sering meminta pendapatnya mengenai masalah-masalah yang aku hadapi, termasuk mengenai permintaan ibuku yang menyuruhku mencari pendamping hidup. Dia selalu memberikan solusi untuk setiap masalah yang kuceritakan kepadanya. Dia juga menyuruhku untuk mulai membuka hati bagi wanita lain dan melupakan kenangan pahit yang pernah kualami dulu. Andai saja Ji Hye belum memiliki kekasih, mungkin aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi itu mungkin juga tidak akan terjadi, karena hubunganku dengan Ji Hye memang sepantasnya hanya sebatas hubungan pertemanan saja. Dia adalah teman bicara yang sangat menyenangkan.

Berbeda denganku, Ji Hye justru lebih banyak berbicara mengenai kehidupannya di desa dulu. Ia selalu antusias bercerita mengenai sahabatnya. Dia menceritakan segala hal tentang sahabatnya itu. Bagaimana malangnya kehidupan  gadis itu. Dihina dan dijauhi oleh teman-temannya. Kegiatan apa saja yang sering mereka lakukan bersama. Bagaimana gadis itu selalu menangis karena perlakuan ibunya. Cerita Ji Hye seakan-akan membuatku merasa telah mengenal lama gadis itu, yang pada kenyataannya tak pernah kulihat sama sekali.

Ketika aku berniat mengangkat telepon dari Ji Hye, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang cukup berat menghantam tubuhku. Secara refleks aku menahan tubuh seorang wanita yang ternyata mengenai tubuhku tadi. Aku menatap mata wanita itu. Mata yang sangat indah, pikirku. Mata indah itu juga balas menatapku. Tiba-tiba saja jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Seakan terbius, kami berpandangan cukup lama, hingga akhirnya suara  batuk yang dibuat-buat oleh seseorang di depan kami menyadarkanku. Aku buru-buru melepaskan peganganku pada pundak wanita itu. Dia juga terlihat salah tingkah di depanku.  Aku berusaha menetralkan detak jantungku yang tidak beraturan ini. Menarik nafas lalu membuangnya, aku kemudian angkat bicara.

“Ada apa ini?” Aku bertanya dengan nada tegas kepada dua security yang ada di depanku.

“Begini, Cho sajang-nim. Nona ini memaksa ingin masuk ke dalam. Dia mengaku sebagai teman dari Park biseo-nim. Tapi Park biseo-nim tidak pernah berpesan kepada kami bahwa beliau akan kedatangan tamu. Jadi kami melarangnya masuk ke dalam.” Jelas salah seorang  security itu.

“Yaa.. Ajeossi. Aku tidak berbohong. Ji Hye adalah temanku dan sekarang aku ingin bertemu dengannya. Kalau kalian tak percaya, tanyakan langsung saja padanya!” Gadis tadi tiba-tiba berteriak marah kepada kedua security itu. Aku memperhatikan wanita di sampingku ini dari atas sampai bawah. Sekilas memang tak ada yang menarik dari wanita ini selain wajahnya yang sangat cantik meski tanpa make-up sekalipun. Dia memakai baju terusan warna putih selutut yang terlihat sudah lusuh. Rambut hitam lurus yang melewati bahunya. Serta bandana berwarna putih yang menghiasi kepalanya. Dia menggunakan flat shoes yang juga terlihat lusuh dan dekil. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Gadis itu juga memiliki bentuk tubuh yang ideal. Kalau saja dia menggunakan pakaian yang sedikit lebih baik, aku yakin banyak laki-laki yang akan tergila-gila dengan wanita ini. Mataku kembali naik ke wajahnya, dan seketika aku melihat matanya menatap tajam ke arahku. Sepertinya dia sadar bahwa aku baru saja  memperhatikannya.

“Aku akan menanyakan langsung kepada Park biseo-nim.” Ujarku akhirnya. Lalu mengalihkan perhatianku pada ponsel yang kupegang sejak tadi. Mencari nomor Ji Hye dan menekan tombol call. Aku lalu menempelkan ponselku di telinga. Tidak butuh waktu lama, karena Ji Hye langsung mengangkat teleponku.

“Park Ji Hye-ssi, apakah kau memiliki seorang teman wanita bertumbuh pendek, gendut, dan memakai pakaian lusuh?” Aku sengaja membesarkan volume suaraku. Ketika aku melirik ke arah gadis itu, dia sudah berkacak pinggang sambil melotot ke arahku. Hahahaha.. Dalam hati aku tertawa puas. Aku yakin, gadis ini pasti sangat marah padaku saat ini. “Dia mengaku sebagai temanmu.” Aku berkata setelah mendengar perkataan Ji Hye. “Aaahh.. tidak, kau tidak perlu datang ke sini. Aku akan segera membereskannya dan segera ke ruang rapat. Baiklah, aku tututp teleponnya.”  Aku memasukkan ponselku ke dalam saku celana. Gadis itu masih terus menatapku sangar.

“Apa maksud perkataanmu tadi, Tuan?” Dia bertanya kepadaku. Terdengar dengan jelas nada marah pada kalimatnya barusan. Mukanya merah padam karena emosi, terlihat sangat lucu dimataku. Tapi aku tidak takut sama sekali dan malah membalas pertanyaannya dengan santai.

“Aku hanya berkata apa adanya. Kenapa? Apa ada yang salah?”

“Tentu saja salah. Dengar ya, Tuan. Pertama, aku sama sekali tidak pendek dan aku juga tidak gendut. Yang kedua, bajuku ini tidak lusuh sama sekali. Dan yang ketiga, bagaimana bisa Anda menanyakan pada Ji Hye tanpa memberitahu namaku padanya?” Ckck..Wanita ini masih saja melotot ke arahku. Tapi justru malah membuatnya terlihat semakin lucu saja di mataku. Aku maju selangkah mendekati gadis itu.

“Dengar, Nona. Apa yang aku katakan tadi adalah kenyataan, tidak ada yang salah dari ucapanku tadi. Kalau aku tidak menyebutkan namamu tadi, itu salahmu sendiri tidak berinisiatif memberitahukan namamu padaku. Dan satu lagi, Ji Hye sama sekali tidak memiliki teman sepertimu. Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Jadi lebih baik segera keluar dari kantor ini… Hei kalian, apa yang kalian lakukan? Cepat bawa wanita ini keluar dari sini!” Aku balas menatap wajah gadis itu dengan sangar. Meski dalam hati aku tertawa puas melihat kemarahannya yang memuncak. Sebenarnya aku ingin sedikit mengulur waktu lebih lama lagi, bermain-main dengan gadis lucu ini cukup menyenangkan. Tapi aku harus segera menuju ruang rapat sekarang juga. Kulihat gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan.

“Lepas-kan.. Hei, Tuan. Dengar. Aku pasti akan mengadukan perbuatanmu ini kepada Ji Hye. Apa kau tidak tahu? Ji Hye sangat dekat dengan pemilik perusahaan ini. Aku jamin, setelah Ji Hye mengetahui ini, dia akan segera melaporkanmu kepada bos kalian dan kau.. akan segera dipecat!” Gadis itu berkata dalam satu tarikan napas. Hah, apa dia bilang? Memecatku? Yang benar saja. Dasar gadis aneh. Apa tadi dia tidak mendengar security itu memanggilku dengan sebutan sajangnim?!

***

Kim So Eun POV

Sial, dia pikir dia siapa berani-beraninya mengataiku seperti tadi. Aku terus saja menggerutu tidak jelas sambil keluar dari perusahaan menyebalkan ini. Orang-orang yang tadi melihat pertengkaranku dengan laki-laki itu terus saja memandangku dengan tatapan kasihan sekaligus merendahkan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin Ji Hye tahan bekerja di tempat ini? Semua yang dia katakan tentang perusahaan ini tidak ada yang benar dimataku saat ini, kecuali bangunan perusahaan yang memang amat sangat besar.

Aku segera mencari telepon umum terdekat untuk menelpon Ji Hye. Aku memang tidak memiliki ponsel karena ibu  tidak pernah berniat membelikan ponsel untukku. Awalnya aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena kupikir aku memang tidak membutuhkannya. Tapi melihat situasiku sekarang, kurasa ponsel adalah barang yang sangat kubutuhkan saat ini. Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya aku menemukan telepon umum juga. Itu dia, berada di pinggir jalan di taman yang tidak terlalu ramai pengunjung ini. Mungkin karena saat ini adalah jam kerja. Aku pun segera berjalan menuju  telepon umum itu. Kemudian masuk ke dalamnya. Telepon umum ini dibingkai oleh dinding yang terbuat dari bahan yang dicat merah dan kaca transparan. Membuat orang-orang di luar sana dapat melihatku di dalam sini. Aku lalu memasukkan beberapa koin dan memencet nomor telepon Ji Hye yang sudah kuhapal di luar kepala. Menunggu jawaban darinya, tapi berkali-kali kucoba tetap tak ada jawaban sama sekali. Kenapa Ji Hye tidak mengangkat teleponku? Aku sedikit sedih dan kecewa mendapati hal ini. Tapi aku tidak ingin berburuk sangka pada sahabatku itu. mungkin dia saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lebih baik aku temui dia di rumahnya saja nanti. Tak apa, yang penting aku bisa bertemu dengannya walaupun aku sudah tak sabar ingin segera berjumpa dengannya.  Lebih baik sekarang aku kembali ke rumah baruku dengan ibu. Mengingat itu, membuatku merasa bersalah karena telah meninggalkan ibu begitu saja. Tadi sesampainya di rumah baru kami, aku segera pamit kepada ibu untuk menemui Ji Hye. Padahal ibu sangat membutuhkan bantuanku untuk memindahkan barang-barang bawaan kami. Sekarang aku merasa sedikit menyesal dengan perbuatanku ini.

“Aku pulang..”

Tak ada sahutan sama sekali. Mungkin ibu sedang tidak ada di rumah. Berniat membuka pintu, aku kemudian merogoh tas kecilku untuk mengambil kunci cadangan yang ibu berikan tadi pagi kepadaku. Tapi ternyata pintu itu tak terkunci sama sekali. Hmm.. Ibu pasti lupa lagi mengunci pintu. Kebiasaan buruk ibu yang satu itu tidak pernah hilang. Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk? Entahlah, sepertinya ibu tidak terlalu mencemaskan hal itu. memangnya apa yang mau dicuri di rumah kecil begini?

Aku masuk ke dalam rumah. Kulihat barang-barang bawaan kami dari desa masih berserakan di mana-mana. Kardus-kardus yang berisi barang-barangku dan ibu masih berserakan di lantai. Tas besar yang berisi pakaian-pakaianku dan ibu pun masih ada di ruang tengah. Rumah ini tidak terlalu besar, sama seperti rumah kami di desa. Hanya terdiri dari dua kamar yang sempit, sebuah kamar mandi, dapur dengan peralatan masak yang seadanya dan sebuah meja meja dengan empat buah kursi, serta ruang tengah sebagai ruang tamu dengan sofa lusuh yang kami bawa dari desa. Di depan rumah sudah ada tanaman-tanaman hias, sepertinya itu sengaja ditinggalkan oleh pemilik rumah yang dulu. Aku lalu berjalan ke kamar untuk mencari ibu, tapi tidak menemukannya di mana pun. Sepertinya ibu memang sedang keluar. Karena merasa tidak ada pekerjaan lain, aku akhirnya mulai membereskan barang-barang yang masih ada di lantai. Meletakkan di tempat yang sesuai,  memasukkan pakaianku dan ibu ke dalam lemari, lalu membersihkan lantai yang terlihat kotor. Kamarku sendiri berada tepat di samping kamar mandi. Sementara ibuku memilih kamar yang satunya lagi. Setelah semua selesai, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa lusuh ini. Di temani  segelas air putih dingin yang baru saja aku ambil dari lemari es. Tidak ada bahan makanan apapun di sana selain air putih ini. Sepertinya ibu keluar untuk membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas yang kosong itu. membersihkan rumah ternyata membuat badanku lelah. Sambil bersandar di sandaran sofa, aku mulai merasakan kantuk menyerangku. Mataku terasa berat, dan akupun tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.

Aku terbangun karena mendengar suara berisik dari arah dapur. Mungkin ibu baru saja pulang membeli bahan makanan dan langsung memasukkannya ke dalam kulkas sebagai persediaan untuk kami selama beberapa hari ke depan. Jam berapa ini? Aku melirik jam yang tergantung pada dinding di depanku. Sudah sore rupanya. Aku lalu beranjak dari sofa menuju kamarku. Mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Berniat  membersihkan diri setelah seharian melakukan kegiatan yang melelahkan. Kulitku juga terasa sedikit lengket karena keringat. Tidak lebih dari 15 menit, aku pun keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarku. Lalu bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ji Hye dan keluarganya. Aku ingin segera menemuinya. Ji Hye bilang, kalau tidak ada lembur, dia biasa pulang sekitar jam 6 sore. Aku memilih baju seadanya. Celana jeans dan baju kaos warna abu rokok. Aku tidak memakai make-up sama sekali. Itu lebih terasa nyaman untukku. Rambutku aku biarkan tergerai lurus melewati bahu. Aku memang lebih suka tampil sederhana seperti ini. Selain tidak memiliki uang yang cukup untuk berdandan lebih cantik, aku memang lebih nyaman dengan ini. Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ibu untuk ke rumah Ji Hye. Ibu mengingatkanku untuk tidak pulang larut malam dan menitipkan salam kepada kedua orang tua Ji Hye bahwa ia tidak bisa datang untuk saat ini menemui mereka. Lagi-lagi wajah datar itu yang kulihat dari ibuku. Tidak bisakah dia memberikan senyumnya sedikit saja kepadaku? Berbekal sebuah alamat yang ada di genggamanku saat ini, aku berjalan menuju halte bus di dekat rumah. Tak sabar ingin memeluk Ji Hye secepatnya karena sudah terlalu rindu padanya.

Setelah beberapa menit di dalam bus, akhirnya aku sampai di sini. Aku melirik jam di tanganku. Sudah pukul lima lebih tiga puluh menit. Aku lalu mempercepat langkahku. Ingin secepatnya sampai di rumah Ji Hye sebelum dia pulang. Aku ingin memberi kejutan untuknya.

Aku mencocokkan alamat rumah di depanku ini dengan yang tertera di selembar kertas yang aku pegang saat ini. Benar, ini alamatnya. Setelah yakin, aku kemudian memberanikan diri memencet bel rumah itu.

***

“Kim So Eun, kaukah ini? Aigoo..  Bibi tak menyangka bahwa kau akan datang ke sini. Bagaimana kabarmu dan ibumu, sehat-sehat saja, bukan?” Bibi Park yang tak lain adalah ibunya Ji Hye terlihat terkejut dengan kedatanganku.

“Iya, Bi. Ini aku. Kami baik-baik saja, Bi. Bibi dan keluarga bagaimana?”

“Kami juga baik-baik saja, So Eun.”

“Apakah Ji Hye sudah pulang bekerja?”  tanyaku langsung.

“Kau ini, ada aku di sini tapi kenapa kau malah mencari anak itu?” Bibi bertanya dengan nada bercanda.

“Hahaha.. maaf, Bi. Itu karena aku sangat merindukannya.” Aku tak dapat menahan tawaku mendengar gurauan Bibi Park tadi.

“Arasseo, kau pasti sangat merindukannya. Tunggu saja, sebentar lagi dia juga pulang. Kau mau menunggunya di sini apa di dalam?”

“Aku tunggu di sini saja, Bi. Aku ingin memberikan kejutan untuknya.” Jawabku dengan tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu Bibi masuk dulu. Akan kubuatkan minuman untukmu.”

“Terima kasih, Bi.” Bibi Park lalu meninggalkanku sendiri di teras depan rumahnya. Andai saja ibu bisa tersenyum seperti Bibi Park tersenyum padaku. Aku menghela napas berat. Aku selalu merasa iri dengan anak-anak lainnya yang sebaya denganku. Mereka selalu mendapatkan kasih sayang dan pelukan dari ibunya. Bercanda bersama, bercerita mengenai teman yang disukai di sekolah, membuat kue bersama, memilih baju bersama. Aku ingin sekali merasakan itu semua. Kurasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Mengapa mengingat ini selalu saja membuatku ingin menangis?

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara klakson mobil di luar gerbang. Buru-buru kuhapus air mataku. Sepertinya itu Ji Hye. Aku segera berlari ke arah pintu gerbang, berniat mengejutkannya saat dia masuk nanti.

Dari celah-celah pagar, aku melihat Ji Hye berbicara dengan seseorang yang ada di dalam mobil. Ji Hye sendiri sudah ada di luar, membelakangiku. Aku mencoba untuk melihat lebih jelas seseorang yang ada di dalam mobil itu. sepertinya seorang laki-laki. Siapa laki-laki itu? kekasih Ji Hye kah? Tapi.. tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu. Di mana ya? Ah…. bukankah itu laki-laki yang tadi, yang bertengkar denganku di perusahaan itu. Kenapa Ji Hye bisa bersama laki-laki itu? Jangan-jangan laki-laki itu sengaja mendekati Ji Hye karena takut akan ancamanku tadi pagi. Dia pasti sengaja mendekati Ji Hye, merayunya supaya Ji Hye tidak melaporkannya kepada bos mereka. Laki-laki itu pasti percaya bahwa aku adalah teman baik Ji Hye, tapi dia sengaja tidak mengakuinya karena dia tidak suka akan keberadaanku di sana, terlebih lagi aku telah menabraknya waktu itu. Ya, aku yakin pasti begitu. Hah, dasar laki-laki tidak tahu diri.

Setelah bicara-entah apa- beberapa menit lamanya, mobil itu kemudian mulai bergerak meninggalkan Ji Hye sendiri di sana. Aku pun segera bersiap-siap untuk memberinya kejutan. Ketika Ji Hye membuka pintu masuk kecil di samping gerbang besar itu, aku langsung berhadapan dengan wajah sahabatku itu. Aku tersenyum sangat tulus kepadanya. Awalnya dia terlihat sangat terkejut melihat aku yang ada di depannya, tapi kemudian dia langsung menghambur memelukku dengan sangat erat. sampai rasa sesak menyergapku karena pelukannya yang terlalu kencang.

“So Eun-a… ini benar-benat kau? Benarkah? Astaga..” Dia melepaskan pelukan kencangnya itu. hanya sebentar, karena setelah itu, dia kembali memelukku dengan sangat erat.

Setelah berhasil mengambil napas, aku akhirnya berkata.

“Iya….. ini aku Kim So Eun. Bagaimana? Apakah kau merindukanku?” Tanyaku padanya.

“Bodoh. Tentu saja aku sangat merindukanmu. Kenapa kau malah bertanya seperti itu?” Ji Hye melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut kepadaku. Aku tertawa melihatnya.

“Yaa, kapan kau datang?”

“Baru saja. Ji Hye-ya, aku punya kabar bagus untukmu. Mulai sekarang aku juga akan tinggal di Seoul. Ibuku dan aku memutuskan untuk pindah ke sini. Ibu bilang ingin mencari pekerjaan yang lebih layak di sini.” Aku menjelaskan kepada Ji Hye mengenai kepindahanku ini. Dia tampak terkejut, tapi ada kebahagiaan yang terlihat di wajahnya. Seketika dia tersenyum kepadaku.

“Benarkah? Kau akan tinggal di kota ini? Kau tidak berbohong kan?” Dia masih menatapku tak percaya.

“Heizz.. tentu saja. Untuk apa aku membohongimu?!”

“Aaaahhh… So Eun. Akhirnya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu.” Dia berkata sambil langsung memelukku lagi. Kami berpelukan di sana. merasakan kebahagiaan berkumpul kembali dengan sahabatku ini, sungguh sesuatu yang sangat aku nantikan. Kami terus berpelukan sambil  loncat-loncat dengan penuh bahagia. Akhirnya, aku memiliki teman lagi sekarang.

FOR ONE DAY (YESUNG-SUPER JUNIOR)


Hangul+romanization+translation

 

 

감히 감히 제가 그녈 보냅니다

Gamhi gamhi jega geunyeol bonaemnida

부디 부디 나를 용서하길

Budi budi nareul yongseohagil

감히 감히 제가 그녈 떠납니다

Gamhi gamhi jega geunyeol teonamnida

부디 나를 잊고 행복하길 바랄게요

Budi nareul itgo haengbokhagil baralkeyo

단 하루만 단 하루만

Dan haruman dan haruman

그댈 지우려 해봐도

Geudael jiuryeo haebwado

습관처럼 바보처럼

Seubgwancheoreom babocheoreom

다시 또 눈물이 나죠

Dasi to nunmuri najyo

단 하루만 단 하루만

Dan haruman dan haruman

그댈 안을 수 있다면

Geudael aneul su itdamyeon

힘겹게 버텨온 모진 그 세상 끝에서

Himkyeobge beotyeoon mojin geu sesang keuteseo

살 수 있을 텐데

Sal su isseul tende

단 하루만

Dan haruman

울다 웃다 그리움에 또 지쳐서

Ulda utda geuriume to jichyeoseo

못난 못난 내가

Motnan notnan naega

견딜 수 없이 아파요

Gyeondil su eobsi apayo

단 하루만 단 하루만

Dan haruman dan haruman

그댈 지우려 해봐도

geudael jiuryeo haebwado

습관처럼 바보처럼

Seubgwancheoreom babocheoreom

다시 또 눈물이 나죠

Dasi to nunmuri najyo

단 하루만 단 하루만

Dan haruman dan haruman

그댈 안을 수 있다면

Geudael aneul su itdamyeon

힘겹게 버텨온 지독한 세상 끝에서

Himkyeobge beotyeoon jidokhan sesang keuteseo

살 수 있을 텐데

Sal su isseul tende

단 하루만

Dan haruman

 

ENGLISH TRANSLATION

How dare I, how dare I send her away

Please, please forgive me

How dare I, how dare I leave her

Please forget me

I shall wish for your happiness

For one day, just for one day

Though I fight to erase you from my mind

But like a habit, and I’m like a fool

Again, again my tears fall

For one day, just for one day

If I can hug you once

I can toughly endure in this harsh world

In the end, we can stay together

Just for one day

Weeping, laughing, and longing, and become fatigued

Foolish, how foolish I am

I cannot withstand, I am hurt

For one day, just for one day

Though I fight to erase you from my mind

But like a habit, and I’m like a fool

Again, again my tears fall

For one day, just for one day

If I can hug you once

I can toughly endure

At the end of this terrible world, we can live together

Just for one day

Hangul Lyrics: music.cyworld.com
Romanization: venus90@360kpop
English Translation: LaCrymaMosa @ YesungCenter
Shared by: aliza-mehayu.blogspot.com
Posted by: superaffxtion.wordpress.com
TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

The More I Love (Yesung-Super Junior)


Hangul+Romanization+Translation

 

한참 동안을 찾아가지 않은

Hancham donganeul chajakaji aneun
저 언덕 너머 거리엔

Jeo eondeok neomeo georien
오래 전 그 모습 그대로 넌

Orae jeon geu moseub geudaero neon
서 있을 것 같아

Seo isseul geot gata

내 기억보다는 오래돼버린 얘기지

Nae gieokbodaneun oraedwaebeorin yegiji
널 보던 나의 그 모습

Neol bodeon naeui geu moseub

이제는 내가 널 피하려고 하나

Ijeneun naega neol piharyeogo hana

언젠가의 너처럼

Eonjengaeui neocheoreom

이제 너에게 난 아픔이란 걸

Ije neoege nan apeumiran geol

너를 사랑하면 할수록

Neoreul saranghamyeon halsurok

멀리 떠나가도록

Meolli teonagadorok

스치듯 시간의 흐름 속에
seuchideut siganeui heureum soge

이제 지나간 기억이라고

Ije jinagan gieogirago

떠나면 말하던 너에게

Teonamyeon malhadeon neoege

시간이 흘러 지날수록

Sigani heullo jinalsurok

너를 사랑하면 할수록

Neoreul saranghamyeon halsurok

너에게 난 아픔이었다는 걸

Neoege nan apeumieotdaneun geol

너를 사랑하면 할수록

Neoreul saranghamyeon halsurok

TRANSLATION

.

In the street over the hill
I haven’t been to in a while
It felt that you’ll be standing exactly
as you stood there a long time ago.

A story that is older than my memory
The way I looked when staring at you
Am I now trying to avoid you,
as you did then

Now for you, that I am hurting,
the more I love you
To go far away,
into the flow of time as if only brushing by
Leaving me, you said it is
a memory of the past, to you
As the time flows by,
the more that I love you
That I was hurting for you,
the more that I love you

Credits:
Hangul lyrics – KBS (Immortal Song 2 show)
video uploaded by: YesungCenter@youtube

Protecting Love (FF Oneshoot)


Title : Protecting Love (FF Oneshoot)

Casts : Kim So Eun, Lee Donghae

Genre : Romance

Author : CloudStarMoon

Lee Donghae POV

Mataku tak bisa lepas dari sosok itu.  Entah sudah berapa lama aku memandangi wajah cantik yang tengah tertawa bahagia bersama anak-anak kecil itu. Kehangatan selalu menjalari hatiku setiap kali aku memandangnya. Dia bagaikan obat untukku ketika begitu banyak masalah yang kuhadapi. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia adalah nafasku, detak jantungku, sumber kekuatanku, dia adalah hidupku. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasakan perasaan yang begitu dalam ini kepadanya. Mungkin saja ketika kami bertabrakan di depan pintu masuk kantorku. Atau ketika kami ingin mengambil barang yang sama di supermarket saat aku menemani Noona berbelanja. Atau mungkin ketika melihatnya tertawa lepas bersama anak-anak kecil di taman bermain seperti yang ia lakukan saat ini. Entahlah, yang jelas aku begitu mencintai wanitaku ini. Sangat mencintainya. Dan aku berjanji tak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk menimpanya. Cukup satu kali saja dia merasakan sakit yang amat pedih. Cukup satu kali saja dia merasakan kehilangan yang teramat sangat. Cukup sekali saja dia merasakan kesepian. Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terulang lagi. Tidak akan pernah.

Aku tersadar dari lamunanku ketika wanitaku itu menepuk pundakku pelan. Wajahnya terlihat lelah, namun memancarkan kebahagiaan. Dia tersenyum padaku. Nafasnya terputus-putus, mungkin karena lelah berlarian bersama anak-anak kecil yang masih saja asyik bermain di tengah taman itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Dia bertanya padaku dengan nafas yang masih tidak teratur.

“Memikirkanmu, Kim So Eun.” Jawabku jujur. Tapi dia justru tertawa lebar mendengar jawabanku itu.

“Hahahaha… Apa kau tidak bosan memikirkanku terus, Lee Donghae? Aku saja bosan karena selalu saja mendengar jawabanmu yang itu itu saja.” Dia membalas jawabanku dengan nada bercanda. Dan dia terpaku setelah mendengar jawabanku selanjutnya.

“Aku tidak akan pernah bosan untuk memikirkanmu, So Eun. Sampai kapan pun. Bahkan sampai mati pun, aku tidak akan pernah bosan. Aku akan terus memikirkanmu.”

Dia menatapku tanpa berkedip. Aku balas menatap matanya dalam. Berusaha meyakinkannya bahwa yang kukatakan adalah sebuah kejujuran. Bukan ucapan gombal semata. Tiba-tiba saja setetes air mata jatuh melewati pipi mulusnya. Entah apa yang membuatnya menangis. Terharukah?

“Mengapa kau menangis?” kami masih saling bertatapan satu sama lain.

“Mengapa kau sangat bodoh? Kenapa kau mau menghabiskan waktumu dengan wanita malang sepertiku?” Dia balik bertanya tanpa menjawab pertanyaanku tadi.

“kenapa kau tak cari wanita yang lain saja? Yang berasal dari keluarga yang jelas dan hidup bahagia. Bukan wanita sepertiku.” Dia melanjutkan pertanyaan bodohnya itu. Dadaku sesak. Rasanya sulit untuk bernafas. Mataku mulai berkaca-kaca mendengar pertanyaan bodoh itu lagi. Setelah berhasil mengambil satu tarikan nafas dan menghembuskannya dengan berat, aku menjawabnya. Tangan kananku terangkat untuk menghapus air matanya. Sedangkan tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya.

“Bukankah sudah berulang kali kukatakan. Aku hanya mencintaimu. Aku tidak perlu mencari wanita lain, karena wanitaku sudah ada di depanku sekarang. Wanita yang sangat aku cintai, wanita yang akan kujaga sampai kapan pun. Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku, anak-anak kita. Dan jangan pernah berkata kau adalah wanita malang. Bagiku, kamu adalah wanita terhebat di dunia ini, bidadariku. Aku amat sangat bahagia bersamamu. Bisakah kau tidak mengulang pertanyaan bodoh itu lagi?” Aku menghela nafas. “Percayalah padaku… Aku hanya untukmu dan kamu hanya untukku.” Aku mengakiri jawaban panjangku. Dia masih terus menangis, bahkan dia mulai terisak. Sungguh, melihatnya menangis adalah hal yang paling aku benci. Aku tidak ingin dia menangis. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum. Tertawa lepas seperti tadi.

“Uljima…” Aku berkata pelan padanya. Berharap dia menghentikan tangisnya. Dia hanya mengangguk, tapi air matanya terus saja tak berhenti keluar.

“Haruskah aku yang menghentikannya?” tanyaku tersenyum. Aku langsung menarik tengkuknya dan mencium bibirnya sebelum dia sempat membalas pertanyaanku tadi. Aku menciumnya lembut, seolah takut ciumanku akan menyakitinya. Aku terus menciumnya dengan sayang. Awalnya dia sedikit terkejut dengan ciumanku ini, tapi akhirnya dia menutup matanya dan mulai membalas ciumanku. Aku sedikit melumat bibirnya ketika dia memberi respon kepadaku. Tangannya memegang erat jaket hitam yang kukenakan saat ini. Kami terus berciuman tanpa menghiraukan orang-orang yang berada di taman ini.

“Apa kau akan pergi hari ini?” Aku bertanya padanya dengan nada khawatir.

“Tentu saja. Hari inikan peringatan 100 hari kepergian orang tuaku. Bagaimana mungkin aku tidak pergi mengunjungi mereka? Kau ini ada-ada saja.” Dia menjawab sambil terkekeh pelan.

“Aku akan menemanimu. Kita pergi bersama.”  Aku menawarkan diri kepadanya. Entahlah, aku hanya takut dia akan melakukan hal yang tidak-tidak jika tidak ada aku di dekatnya. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghilangkan pikiran buruk yang meracuni pikiranku ini.

“Wae? Kau takut aku melakukan hal yang tidak-tidak?”

Dia selalu saja bisa mengetahui isi pikiranku.

“Ani. Aku hanya ingin menemanimu. Lagipula aku juga ingin menemui kedua orangtuamu. Apa tidak boleh? Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepada mereka.” Aku mencari-cari alasan lain untuk menutupi kegundahan hatiku ini.

“Mengatakan sesuatu?.. Apa itu?”

Raut wajahnya yang penasaran terlihat sekali di mataku. Aku tersenyum kepadanya. Mengangkat tanganku untuk mengacak rambutnya yang baru saja selesai ia sisir rapi.

“Rahasia.” kataku, lalu berlalu meninggalkannya.

“Yaa, Lee Donghae.. Kau membuat rambutku berantakan lagi,” keluhnya. Dia berkata dengan wajah cemberut. Dahinya berkerut, dan bibirnya mengerucut. Tanda bahwa dia sedang kesal karena ulahku. Aku tidak menjawab keluhannya itu dan terus saja berjalan meninggalkannya sendirian di depan meja rias di dalam kamarnya.

Aku terus melajukan mobilku dengan kecepatan sedang di jalan yang cukup lengang ini. Hari ini kami akan pergi ke makam orang tua So Eun. Tepat 100 hari sudah mereka meninggalkannya. Kecelakaan tragis itu sudah merenggut sebagian hidup wanitaku ini. Kesedihan yang amat sangat terlihat jelas di wajah cantiknya. Wajah itu tidak seceria dulu lagi. Bayang-bayang kesedihan itu selalu kulihat di matanya setiap kali aku memandang mata terindah yang pernah kulihat itu. Dalam hati, aku terus berharap suatu saat aku bisa menghapus kesedihan itu. Menggantinya dengan keceriaan dan kebahagiaan sepanjang hidupnya. Aku ingin dia tahu, bahwa dia masih memilikiku. Aku yang akan membahagiakannya seumur hidupku. Tidak akan membuatnya terluka lagi.

Aku dan So Eun sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Pikiranku dipenuhi oleh wanita cantik di sampingku ini. Sedangkan So Eun, aku tak tahu apa yang ia pikirkan. Matanya menerawang jauh ke depan. Tapi aku tahu, pikirannya tidak di situ. “Ehm..” Aku berdehem untuk memecah kebisuan yang tercipta di antara kami.

“Bagaimana kalau setelah dari makam, kita mampir ke Restoran seafood di dekat sini. Letaknya  tidak jauh dari lokasi makam paman dan bibi. Kudengar masakan di restoran itu sangat lezat. Aku ingin sekali mencobanya.” So Eun masih tetap diam. baru setelah itu dia membuka mulutnya untuk menjawab tawaranku tadi.

“Baiklah..” Dia mengambil jeda sebentar. “Sudah lama sekali aku tidak ke sana. Makanannya memang cukup lezat.” Dia berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pernah ke sana? Kapan?”  tanyaku sedikit antusias. Aku tidak dapat menyembunyikan rasa penasaranku.

“Sudah lama sekali, waktu aku, ibu, dan ayah berkunjung ke makam kakek dan nenekku.”

“O-Oh.. ” Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Secara tak langsung aku telah membuatnya merasakan kesedihan itu lagi. Bodoh. Kenapa aku mengungkit soal restoran sialan itu sih?! Rutukku dalam hati. Aku masih saja mengutuk kecerobohanku itu, tidak sadar bahwa So Eun terus menatapku sejak tadi.

“Gwencanha.. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas seperti itu. Aku akan tetap ikut ke restoran itu bersamamu.” Dia tersenyum menatapku. Tangan kirinya menggenggam tangan kananku yang bebas. Dia masih tersenyum, mungkin berusaha menenangkanku. Melihatnya tersenyum ke arahku seperti ini membuat hatiku terasa begitu hangat dan damai. Menambah keyakinanku untuk terus menjaga dan melindunginya di sampingku. Selamanya.

Dia terus menggenggam tanganku. Perlahan merebahkan kepalanya di bahuku. Aku rela, menghabiskan seluruh sisa hidupku bersamanya. Melakukan apapun yang ia inginkan. Memberikan seluruh cintaku padanya. Asal dia tetap di sisiku seperti ini. Hidupku sudah amat sangat bahagia.

***

Kami sampai di lokasi pemakaman beberapa menit kemudian. Aku segera turun dari mobil dan berlari  membukakan pintu untuk So Eun.

“Gomawo.”

“Kau tunggu saja di sana. Aku akan mengambil bunga dan yang lainnya dulu.” Aku hendak berjalan ke arah belakang mobil, tapi dia mencegahku.

“Biar kubantu.” Tawarnya.

“Tidak usah. Biar aku saja. Kau tunggu saja di sana.” Aku berkata sambil mendorong bahunya pelan. Lalu segera ke arah belakang mobil untuk mengambil barang-barang bawaan kami. Seperti lokasi pemakaman di Korea pada umumnya, lokasi pemakaman paman dan bibi juga terletak di atas bukit. Aku dan So Eun harus berjalan menaiki tangga untuk menuju makam kedua orang tuanya. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami tiba di sana. Makam paman dan bibi terletak bersebelahan. Kami segera menyusun barang-barang yang kami bawa tadi beralaskan anyaman yang kami bawa pula. Ada buah-buahan, arak, makanan kesukaan bibi dan paman, dan tak lupa bunga lily putih yang menjadi kegemaran kedua orang tua So Eun. Setelah semua tersusun rapi, aku sedikit mundur ke belakang. Membiarkan So Eun memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya dan selanjutnya bersimpuh di antara kedua makam orang tuanya itu. So Eun tak mengatakan satu patah kata pun. Aku tahu, saat ini dia sedang menangis. Punggungnya bergetar meski tidak ada suara di sana. Aku berusaha menahan diri untuk tidak segera menariknya ke dalam dekapanku. Tanpa terasa, wajahku sudah basah oleh air mata. Mendengar isakan pilunya membuat hatiku benar-benar teriris.

Aku hanya mendengarkan ketika So Eun mulai bersuara. Suaranya bergetar bercampur isakan.

“Eomma, Appa.. aku datang. Maaf tidak bisa mengunjungi kalian setiap hari. Jarak apartemen Donghae ke sini cukup jauh.” Dia terdiam sesaat. “kalian tak usah menghawatirkanku. Aku baik-baik saja di sini. Donghae selalu menemaniku. Dia selalu menjagaku, berada di sampingku. Jadi aku tidak merasakan kesepian di sini.” Dia membuatku melayang karena pujiannya itu. aku tersenyum mendengarnya.

“Eomma, setelah ini kami akan pergi ke restoran seafood tempat kita biasa mampir setelah mengunjungi kakek dan nenek dulu.. Andai saja kalian masih di sini, mungkin kita bisa makan bersama dengan bahagia di sana.” Ada rasa sesal dalam suaranya.

So Eun kemudian berdiri, menghapus air mata di pipinya dengan kedua tangan, lalu berbalik dan menatapku. Dia tersenyum ke arahku. Senyum yang dipaksakan. Aku tahu itu.

“Sekarang giliranmu.”

Aku lalu melangkah maju ke depan, sedangkan dia memilih untuk tetap berada di sana, di sampingku. Kemudian aku memberikan salam penghormatan kepada keduanya, dan setelah itu bersimpuh di depan makam kedua orang tua So Eun. Sesaat keraguan menghantui hati dan pikiranku. Entahlah, ini waktu yang tepat atau tidak untuk mengatakan semua ini. Tapi aku segera menghilangkan keraguan itu, dan menggantinya dengan keyakinan penuh. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Abeoji..” aku sudah menganggap ayah So Eun seperti ayahku sendiri. “Aku tak tahu ini bisa dibilang mendadak atau tidak. Tapi, kumohon.. Izinkan aku untuk mendampingi putrimu selamanya. Izinkan aku menjadikannya istriku.” Aku terdiam, So Eun pun begitu. Aku tahu, dia pasti sangat terkejut dengan ucapanku ini. Dia lalu memanggilku lirih. “Donghae-ya..” So Eun menatapku tak percaya. Aku meneruskan perkataanku.

“Dia adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku ingin menjaganya dan melindunginya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih lagi. Aku berjanji, tak ada seorang pun yang bisa menyakitinya lagi. Aku akan membahagiakannya seumur hidupku.” Aku mengambil nafas sejenak. “Maka dari itu, izinkan aku menikahinya. Menjadikannya ibu dari anak-anakku.” Aku menghela nafas. Ada rasa kelegaan yang menjalari hatiku.

Aku lalu bangkit dari dudukku. Berbalik menatap So Eun yang masih terkejut dengan lamaranku tadi. Ya, aku telah melamarnya langsung di depan kedua orang tuanya. Matanya berkaca-kaca. Ada rasa haru di sana. Aku lalu mempertegas lamaranku tadi. Ingin tahu apakah dia menerimaku atau tidak.

“Maukah kau menikah denganku? Maukah kau menjadi istriku selamanya?” Aku menunggu jawabannya dengan perasaan yang tak menentu. Jantungku berdetak berkali-kali lipat lebih kuat dari biasanya. Aku menatap matanya dalam, begitu pula dirinya. Aku berusaha meyakinkannya lewat tatapanku ini. Sedangkan dia berusaha mencari kesungguhan di mataku. Kami terus berpandangan satu sama lain hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa dia telah menerima lamaranku. Kebahagiaan yang teramat sangat langsung menghinggapi hatiku. Aku lalu menariknya ke dalam pelukanku. Mempererat pelukanku di pinggangnya dan mencium puncak kepalanya. Air mata bahagia jatuh melewati pipiku. Kurasakan dadaku basah oleh air mata So Eun yang jatuh mengenai kemeja hitam yang kukenakan saat ini.

Kami sampai di restoran seafood yang cukup terkenal itu. tanganku menggenggam erat tangan So Eun, melangkah menuju ke dalam restoran. Di pintu masuk, kami disambut oleh seorang pelayan wanita yang mengenakan seragam merah tua dengan garis hitam di bagian lengannya yang dipadukan dengan rok mini yang juga berwarna hitam beserta stoking dan sepatu berwarna hitam pula. Restorannya sendiri di dominasi oleh warna merah serta sedikit sentuhan hitam. Mungkin si pemilik restoran sengaja mengecat restorannya dengan warnah ini karena menurut yang aku tahu, warna merah dapat membangkitkan selera makan seseorang.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari pelayan itu, dia kemudian membawa kami ke salah satu meja. Antara meja yang satu dengan meja yang lain dibatasi oleh sekat. Memberikan privasi kepada setiap pelanggan untuk dapat menikmati makanannya tanpa ada gangguan dari pelanggan lainnya. Setelah memesan makanan yang kami inginkan, si pelayan wanita tadi pergi meninggalkan kami berdua. Aku tersenyum ke arah So Eun yang juga sedang tersenyum menatapku. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari saku celanaku. Melihat nama yang tertera di layar, aku segera mengangkat telponnya.

“O- Noona. Ada apa?” Aku bertanya-tanya ada perlu apa kakak perempuanku itu menelponku.

“Kau di mana sekarang?” Dia malah menjawab pertanyaanku dengan  dengan pertanyaan lagi.

“Aku sedang makan di restoran bersama So Eun. Kenapa?”

“Kau masih saja bersamanya? Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengannya lagi. Kenapa kau tidak mau mendengar kata-kataku sih?!” Desah kakakku di seberang sana. Aku menghela nafas berat. Aku heran, kenapa kakak begitu menentang hubunganku dengan So Eun. Dia pernah bilang bahwa So Eun hanya akan merepotkanku saja. So Eun tidak benar-benar mencintaiku dan hanya memanfaatkanku saja. Dia bilang So Eun hanya akan membuatku menderita dan sakit. Hah. Omong kosong macam apa itu. Kakakku hanya terlalu takut aku mengalami hal seperti yang dia alami dulu. Tersakiti dan merasakan penderitaan yang bertubi-tubi. Itulah mengapa sampai saat ini dia tidak mau menjalin hubungan lagi dengan lelaki mana pun. Tapi aku bukan kakakku. Aku percaya pada So Eun, sama seperti So Eun yang mempercayaiku. Hanya So Eun yang mampu membuatku bahagia. Aku yakin itu.

“Kita bahas ini nanti saja, Noona. Pesanan kami telah datang. Aku tutup dulu telponnya.”  Aku segera menutup telponnya sebelum kakakku sempat membalas ucapanku tadi. Aku harus segera meyakinkan noona bahwa So Eun tidak seperti yang dia pikirkan. Harus, mengingat sebentar lagi kami akan segera menikah.

“Kenapa?” So Eun bertanya dengan alis terangkat.

“A- anio. Hanya masalah kantor. Ayo kita mulai makannya, aku sudah sangat lapar.” Aku terpaksa berbohong kepadanya. Aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada So Eun. Itu akan membuatnya sedih. So Eun mengangguk lalu mulai memakan makanannya.

“Aku tahu kakakmu tidak menyukaiku.” Perkataannya yang tiba-tiba itu membuatku terkejut. Membiarkan makanan yang baru saja akan masuk ke mulutku, terdiam di udara. Sejak kapan dia mengetahui hal ini?

“Aku tahu sejak pertama kali kau memperkenalkanku dengannya.” Dia berkata seolah dapat membaca pertanyaan yang ada di otakku.

“Aku tahu dari caranya memandangku. Sama seperti tatapan Bibi Na Ri kepadaku.” Bibi Na Ri adalah bibi So Eun dari pihak ibunya. Dia tidak menyukai So Eun. Bahkan bisa dibilang membencinya. Terlebih lagi setelah saudaranya-yang tak lain adalah ibu So Eun-meninggal bersama ayah So Eun dalam sebuah kecelakaan mobil beberapa bulan yang lalu, kebencian Bibi Na Ri kepada So Eun semakin besar.

“Kalau saja waktu itu aku tidak memaksa ibu dan ayah untuk menghadiri pameran lukis itu, mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Dan Bibi Na Ri juga tidak akan semakin membenciku seperti sekarang.”

Lagi-lagi dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kedua orang tuanya itu. Inilah yang membuatnya sangat menderita. Perasaan bersalah yang sangat besar yang bersarang dalam hatinya membuat wanitaku ini seakan tak memiliki semangat hidup lagi. Kebahagiaannya seakan tersedot oleh rasa bersalah yang semakin membebani hatinya itu. Aku menggenggam tangannya erat. Berharap dengan menggenggam tangannya seperti ini dapat mengalirkan energi dan semangat kepadanya. Semangat untuk meraih kebahagiaan itu kembali.

“Tidak ada yang salah dalam hal ini. Ini memang sudah jalan yang digariskan Tuhan. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu terus-terusan seperti ini. Bibi dan Paman juga pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Mereka ingin kamu bahagia, bukannya terus larut dalam kesedihan seperti ini. Ara?” Aku berusaha meyakinkan So Eun bahwa ini sama sekali bukan kesalahannya. Dia hanya membalas dengan anggukan kecilnya.

“Ayo kita makan lagi, nanti makanannya keburu dingin.” Aku mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak mengingat kejadian itu lagi. Itu hanya akan membuatnya semakin sakit.

Setelah dari restoran, aku mengantarkan So Eun ke apartemen kami. Aku dan So Eun memang tinggal di satu apartemen.  Sejak kematian kedua orang tuanya, keluarga ayah dan ibunya tidak mengizinkan So Eun tinggal di rumahnya. Sejak awal So Eun diangkat menjadi anak oleh ayah dan ibunya, kedua keluarga mereka memang tidak menyukai So Eun. Mereka menentang keras keinginan kedua orang tua So Eun itu. Tapi mereka berhasil meyakinkan keluarga masing-masing sehingga bisa mengangkat So Eun sebagai anak mereka, entah dengan cara apa. Meski begitu, mereka tetap saja tidak mau menerima So Eun sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Hanya ayah dan ibunyalah yang dengan tulus menyayangi So Eun.

Dari apartemen, aku langsung bergegas menuju rumah besarku. Aku berniat untuk membahas masalah tadi dengan kakakku. Aku harus segera meyakinkannya dan memberitahunya mengenai rencana pernikahan kami. Sesampainya di depan pintu gerbang, aku menekan klakson mobil, dan pintu gerbang secara otomatis terbuka dengan sendirinya. Aku langsung melajukan mobilku melewati halaman yang cukup luas dan memarkirkan mobilku di dekat mobil milik kakakku. Aku segera turun dan berjalan ke dalam rumah.

“Apa noona ada di dalam?” Aku bertanya pada seorang pelayan yang menghampiriku setelah melihat kedatanganku tadi.

“Iya, Tuan. Nona Min Jae sedang duduk di taman belakang.”

Aku mengangguk. Memutar arah menuju taman belakang. Itu dia, noona sedang membaca koran ditemani secangkir teh kesukaannya. Begitu tiba di sana, aku langsung mengambil posisi duduk di depannya.

“Jelaskan padaku kenapa kau masih saja berhubungan dengan gadis itu?” tanyanya tanpa basa basi. Aku melirik ke arah lain sekilas, lalu kembali memandangnya.

“Kenapa Noona tidak menyukainya?” Aku balas bertanya padanya.

“Bukankah sudah kukatakan, dia hanya akan menyakitimu, Lee Donghae!” Noona berkata dengan nada tinggi. Terlihat sekali kalau dia sedang menahan emosinya.

“Dengar, saat ini hanya ada kita berdua. Ayah dan ibu sudah menitipkanmu kepadaku sebelum mereka meninggalkan kita untuk selamanya. Memintaku untuk menjagamu. Dan aku tidak ingin kau terluka. Apalagi karena wanita itu.” kakakku berteriak frustasi.

“Noona tak perlu khawatir, jika itu yang kau takutkan. So Eun tidak akan pernah menyakitiku. Kami saling mencintai, Noona. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Dia juga sudah cukup menderita dalam hidupnya dan aku tidak akan pernah meninggalkannya. Hanya aku yang dia miliki sekarang. Aku ingin melindunginya. Aku ingin membuatnya bahagia, karena hanya itulah yang akan membuat adikmu ini bahagia. Tolong terimalah dia, Noona.” Aku memohon padanya.

“Lalu bagaimana denganku? Kenapa kau lebih memilih dia daripada kakakmu sendiri?” Dia berkata sambil menitikkan air mata. Wajahnya memprlihatkan kesedihan yang mendalam.

“Aku menyayangi  Noona. Sama seperti aku menyayangi So Eun. Kalian adalah dua wanita yang paling aku sayang di dunia ini.” Aku berkata lirih padanya.

“Jebal, terima dia di sampingku, Noona. terima dia sebagai adik iparmu. Sebagai istri dari adikmu ini.” Dia terkejut dan membelalakkan matanya.

“Apa kau berniat menikahinya?” Noona bertanya tak percaya. Aku mengangguk membenarkan pertanyaannya.

“Kami akan segera menikah, Noona.”

“TIDAK. sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Tidak akan pernah.” Dia bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun aku mencegahnya.

“Aku akan tetap menikah dengannya. Dengan atau tanpa persetujuan darimu, Noona.” Aku berkata tegas. Ya, inilah keputusanku, menjaga dan melindungi So Eun, menjaga cintaku.

Noona berbalik terkejut dengan perkataanku tadi. Kalau begitu, jangan pernah temui aku lagi. Dia berbalik dan pergi meninggalkanku sendiri di tempat ini. Perasaan sakit di dadaku membuatku sesak. Ada rasa bersalah dalam diriku kepada noona. Tapi ini adalah pilihanku. “Maafkan aku, Noona.”

Dengan pikiran yang berkecamuk, aku terus membawa mobilku dengan kecepatan sedang. Begitu banyak masalah yang harus kuhadapi. Bisakah aku menyelesaikan semua ini tanpa harus menyakiti salah satu di antara mereka. Mereka sama-sama berarti untukku. Aku tak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Benar-benar tak ingin. Aku terlonjak kaget saat mendengar bunyi dering dari ponselku. Aku merogoh saku celana untuk melihat siapa yang menelponku, tapi sialnya ponselku malah terjatuh saat aku berusaha mengeluarkannya. Aku meraba-raba mencari ponselku dengan tangan kanan. Sedang tangan kiriku aku gunakan untuk mengendalikan stir mobil. “Sial, kenapa harus jatuh segala sih!” rutukku pelan. Karena tak kunjung mendapatkannya, aku melihat ke bawah mobil agar segera menemukannya. Ah, itu dia. Aku segera mengambilnya dan dapat. Ketika aku hendak melihat ke arah depan lagi, entah dari mana asalnya, sebuah truk sedang melaju kencang ke arahku saat ini. Karena panik, aku segera membanting stir ke arah kanan. Tapi sesaat setelah itu aku merasakan tabrakan yang sangat kuat. “Aaaahh…” aku menjerit tertahan akibat rasa sakit luar biasa yang kurasakan di bagian kepalaku yang menghantam stir. Sepertinya aku menabrak sesuatu di depan sana. rasa sakit di kepalaku semakin menjadi, bahkan telah menjalar ke seluruh tubuhku. Pandanganku mengabur. Namun, yang ada dipikiranku sekarang hanyalah So Eun. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana hidupnya nanti jika aku tak ada di sampingnya? Apakah dia bisa bertahan? Tidak. Aku tidak boleh mati sekarang. So Eun membutuhkanku. Aku harus bertahan. Tapi, sakit di kepalaku sudah tak tertahankan lagi. Hal terakhir yang kuingat adalah aku menyebut namanya dengan terputus-putus “So.. Eun-a.. Kim.. So… Eun.”

***

Kim So Eun POV

“Donghae..” aku memekik tertahan, terkejut karena secara tak sengaja menjatuhkan foto Donghae saat sedang membersihkan meja tempat diletakkannya beberapa foto Donghae dan fotoku. Aku melihat pecahan-pecahan kaca yang menjadi bingkai dari foto itu. Jantungku berdetak tak karuan. Entah dari mana asalnya, aku merasakan ketakutan di dalam diriku. Perasaan ini, rasa gelisah dan ketakutan ini. Ya Tuhan.. Aku merasakan firasat buruk, dan ini sama seperti yang kurasakan saat ayah dan ibu meninggalkanku untuk selamanya.

Bunyi telepon rumah yang berdering tiba-tiba, membuatku terlonjak terkejut. Aku menoleh ke arah meja tempat telepon itu diletakkan. Perasaan takut yang kurasakan membuatku menitikkan air mata. Jantungku tak henti-hentinya berdetak kencang. Aku berusaha menenangkan pikiran dan menormalkan detak jantungku ini dengan menarik nafas dalam. Tapi percuma, hasilnya tetap nihil. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju telepon yang tak juga berhenti berdering. Aku mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar.

“Ha-llo..” Bahkan suaraku pun ikut bergetar.

“Apa benar ini kediaman Tuan Lee Donghae?” Samar-samar aku mendengar suara seorang wanita di seberang sana.

“Benar.” Aku hanya menjawab singkat. Menunggu kelanjutan dari wanita itu.

“Maaf, saya ingin mengabarkan bahwa Tuan Lee Donghae mengalami kecelakaan dan…..” telepon itu terlepas begitu saja dari tanganku. Seketika aku terduduk di lantai, seakan  tenagaku terhisap semua. Aku terduduk lemas dan tanpa kusadari air mata telah membanjiri wajahku. Tidak. Tidak mungkin Donghae.. Dia sudah berjanji untuk menikahiku, dia sudah berjanji untuk menjaga dan melindungiku. Tidak. Dia tidak boleh pergi meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkannya, tidak akan. “Aaaaaaahhhh……”

Aku terus memainkan jari-jariku karena gelisah akan keadaan Donghae di dalam sana. kurasakan badanku lemah tak bertenaga. Tapi pikiranku hanya tertuju pada Donghae. Aku tidak peduli dengan rasa letih yang kurasakan saat ini. Ya Tuhan, tolong selamatkan Donghae, tolong selamatkan Donghae. Kata-kata itulah yang terus aku ucapkan dalam hati. Tiba-tiba seorang suster keluar dengan tergesa-gesa. Aku segera menghentikannya.

“Kenapa, Suster? Donghae kenapa?” Suster itu terlihat ragu untuk menjawab atau tidak pertanyaanku ini karena dia terlihat sangat terburu-buru.

“Pasien kehilangan banyak sekali darah. Kami sudah berusaha mencari, tapi stok darah di sini sudah habis, jadi…”

“Ambil darahku, Suster.” Aku memotong ucapan suster tersebut. Dia memandangku sesaat. Lalu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, kalau begitu mari ikut dengan saya.” Aku mengangguk dan segera mengikuti ke mana suster itu pergi.

“Maaf, Nona. Golongan darah Anda memang cocok dengan golongan darah pasien, tapi kondisi Anda saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan transfusi darah.” Suster itu menjelaskan dengan penuh penyesalan. Tapi aku tidak peduli. Akan kulakukan apapun itu, asalkan Donghae tetap selamat.

“Saya tidak apa-apa, Suster. Tolong segera lakukan transfusi darah. Ambillah darahku sebanyak yang dibutuhkan. Tolong lakukan itu, suster. Saya benar-benar tak apa-apa. Jebal..” Aku berusaha meyakinkan suster itu.

“Tapi ini bisa berbahaya untuk Anda, Nona.”

“Saya tidak peduli, kumohon lakukan segera. Masalah bagaimana kondisiku nanti, biar aku yang menanggungnya, Suster.”

Akhirnya suster itu menyerah dan menyetujui permintaanku tadi. Donghae, bersabarlah. Sebentar lagi kau akan mendapatkan donor darah yang cukup.

============================

Aku membuka mataku pelan. Samar-samar aku melihat keadaan di sekitarku dengan posisi masih berbaring. Aku berusaha untuk bangkit dari tidurku, walaupun rasanya susah sekali karena tenagaku belum pulih seutuhnya. Aku memegangi kepalaku karena rasa pusing yang kualami di sana. Mataku terus melihat ke semua penjuru ruangan sampai akhirnya berhenti di satu titik, tepatnya ke arah seseorang yang sedang duduk di sofa ruangan ini. “Min Jae eonni..” Tanpa sadar aku menyebutkan namanya. Ia lantas berdiri dan melangkah ke arahku.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Dia bertanya padaku dengan nada dingin. Menatapku dengan datar, tak ada senyum sama sekali di wajah itu. Dalam hati aku bertanya, apa yang telah kuperbuat sehingga dia begitu membenciku?

“Jangan harap dengan kau mendonorkan darahmu itu untuk adikku, aku lantas berubah menyukaimu.”

Seketika aku mengangkat kepalaku menghadapnya setelah dia mengatakan hal itu.

“Itu memang sudah seharusnya kau lakukan sebagai bentuk pertanggungjawabanmu terhadapnya. Karena secara tak langsung kaulah penyebab kecelakaan Donghae, sama seperti kecelakaan yang menimpa kedua orangtuamu dulu.” Dia mengatakan hal itu dengan sinis dan seoalah tanpa beban. Air mataku tidak dapat aku tahan lagi. Seberapa kuatpun aku mencoba, air mata ini tetap memaksa keluar. Aku menatapnya dengan perasaan sedih dan terluka. Kenapa semua orang terus menyalahkanku? Atau yang mereka katakan adalah benar, aku memang pembawa sial. Aku menundukkan kepalaku. Tak kuat melihat wajah yang penuh dengan kebencian terhadapku itu. Tiba-tiba saja Min Jae eonni menyerahkan sejumlah uang yang aku tak tahu berapa jumlahnya, yang jelas sangat banyak. Aku mendongak menatapnya, meski dalam hati enggan untuk melakukannya.

“A-Apa ini?” tanyaku tak mengerti dengan maksudnya.

“Ambillah uang itu dan pergi jauh-jauh dari kehidupan adikku.” Dia berkata tegas.

“Anggap saja itu untuk menebus darah yang kau donorkan untuknya.”

Aku ternganga dibuatnya. Kenapa dia berpikir bahwa aku melakukan ini semua demi uang? Aku mendonorkan darahku untuk Donghae karena aku menginginkannya, karena aku mencintainya. Tapi aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas ucapannya tadi. Yang bisa kulakukan hanya mencengkram selimut putih yang membungkus tubuhku kuat-kuat. Mencoba meredam amarah yang ada pada diriku saat ini. Sekali lagi dia melemparkan tatapan bencinya kepadaku, lalu berbalik dan pergi meninggalkanku di ruangan ini dengan perasaan yang amat sangat terluka.

Aku berjalan gontai menuju ruangan tempat Donghae dirawat. Saat ini sudah tengah malam, kondisi lorong-lorong rumah sakit pun sudah sangat sepi. Tak ada orang lain yang kulihat sekarang. Sedikit bergidik ngeri karena kondisi ini, tapi aku ingin segera menemui Donghaeku. Aku ingin melihatnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berusaha membawa langkahku ke tempat Donghae berada. Tangan kananku membawa uang yang tadi Min Jae eonni berikan padaku. Aku berniat mengembalikannya dengan menaruhnya di kamar Donghae nanti.

Tak terasa, aku sudah sampai di depan pintu kamar Donghae. Aku mengintip dari jendela pintu itu, melihat-lihat apakah ada orang di dalam sana selain Donghae, dan syukurlah tidak ada siapapun di dalam sana. Kemudian kubuka pintu itu dengan pelan. Aku berjalan mendekati Donghae yang tengah berbaring di ranjangnya dengan perban di kepalanya. Air mataku langsung jatuh melihat kondisinya saat ini. Aku mulai terisak di sana. Merasakan kepedihan yang mendalam. Aku selalu membawa petaka untuk orang-orang yang kusayangi. Aku memang pembawa sial.

“Mianhae, Donghae-ya. Jeongmal mianhae..” Ini semua memang salahku. “Kalau saja kita tidak menjalin hubungan. Kalau saja kau tidak masuk ke dalam hidupku. Kau tak perlu merasakan kesakitan seperti ini. Mianhae.. mianhae.” Aku terus mengucapkan kata maaf kepadanya.

“Tapi mulai sekarang kau tak perlu merasakan ini lagi. Aku akan pergi dari hidupmu. Aku akan pergi jauh dari kehidupanmu dan kau bisa hidup bahagia dengan wanita yang kau cintai kelak..” Air mataku makin deras membasahi pipiku. Dadaku terasa begitu sesak mendengar ucapanku sendiri. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat. Aku berjalan menuju meja di samping ranjang Donghae dan menaruh uang yang kubawa sejak tadi itu di sana. Lalu berbalik arah menatap Donghae lagi.

“Mianhae.. aku akan pergi sekarang. Hiduplah bahagia tanpa aku.”

Kudekatkan diriku ke wajahnya lalu mengecup bibirnya. Air mataku yang jatuh mengenai wajahnya segera kuhapus. Aku tersenyum padanya untuk yang terakhir kalinya.

“Selamat tinggal, Donghae…”

Aku berjalan menuju pintu dengan perasaan sedih yang begitu sakit kurasakan. Berhenti sebentar di depan pintu, aku lalu berbalik melihatnya lagi. tersenyum lagi dan berbalik untuk membuka pintu di depanku, pergi meninggalkannya. Jauh dari kehidupannya. “ Selamat tinggal, Donghae-ya..”

====================================================

1 tahun kemudian……

Lee Donghae POV

BRAK

Aku terlonjak kaget karena mendengar suara yang berasal dari meja kerja di depanku.

“Ah.. rupanya kau, Noona. Membuatku kaget saja.” Aku mengelus-elus dadaku untuk menenangkan jantungku ini.

“Yaa.. Kau kenapa? Tidak bisa tidur lagi?” Tanya noona tanpa mengindahkan protesku padanya.

“Emm..” jawabku sekenanya. Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Entah kenapa setelah dia pergi, rasanya aku sudah tak bersemangat lagi menjalani hidupku ini. Meskipun noona berulangkali mengatakan bahwa dialah yang memutuskan untuk meninggalkanku saat aku kecelakaan dulu, tapi tetap saja perasaan hampa itu terus saja menggelayuti hatiku. Dan semakin lama, perasaan yang seperti lubang kosong itu terus semakin membesar dan rasanya seperti menenggelamkanku ke dalam jurang kesakitan yang sangat dalam. Aku tidak bisa melupakan wanita itu, sama sekali tak bisa. Seberapa keraspun aku mencoba, justru semakin ingin aku menemukannya.

“Apa itu?” pertanyaan noona membuatku kembali tersadar dari pikiran-pikiranku tentang sosok itu. aku mengangkat wajahku, dan melihat noona telah mengambil selembar kertas di atas mejaku.

“Selama ini kau terus mencarinya?” Kakakku tampak terkejut melihatnya.

“Wae?” Kali ini dia memandang ke arahku dengan tatapan yang.. entahlah, aku sendiri tidak bisa menafsirkannya.

“Aku.. hanya ingin mengetahui kabarnya saja.” Jawabku asal. Sejujurnya lebih dari itu, aku bukan hanya ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang. Bahkan aku ingin memeluknya dengan erat saat ini, menahannya dan tak ingin membiarkannya pergi lagi dari hidupku. Mungkin seharusnya aku membencinya karena telah meninggalkanku begitu saja, tapi aku tak dapat membohongi hati kecilku bahwa aku sama sekali tak bisa membencinya. Aku tidak bisa melupakannya.

“Kenapa kau tak bisa melupakannya? Lupakan dia. Hilangkan dia dari pikiranmu, Lee Donghae!” Noona berteriak emosi. Aku tahu, dia pasti sangat kecewa padaku. Tapi aku tak bisa melakukannya. Tanpa kusadari, emosiku juga mulai naik.

“Sudah, Noona. Aku sudah berusaha melakukannya. Tapi semakin aku ingin melupakannya, semakin kuat perasaanku padanya.” Aku membuang nafas putus asa, lalu melanjutkan perkataanku. “Seberapa keras pun aku mencobanya, aku tetap tidak bisa melupakannya. Dia terus muncul dibenakku setiap saat. Bahkan dalam mimpiku, dia terus hadir di sana. Aku mencintainya, Noona. Bahkan setelah aku tahu dia pergi meninggalkanku seperti ini, aku tetap tak bisa menghapus rasa cintaku padanya.. Tak bisakah Noona memahamiku?” Aku mengakhiri perkataanku yang panjang lebar. Berusahan meredam emosi yang sempat bergejolak dalam diriku. Aku memejamkan mataku, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Aku berusaha mengalihkan arah pembicaraan.

“Apakah Noona jadi pergi ke Busan?” Aku bertanya dengan nada bicara yang kubuat senormal mungkin, menganggap apa yang baru saja terjadi tidak pernah ada.

“Ya, aku akan berangkat sore ini untuk melihat pabrik kita yang ada di sana. Kau urus semua masalah perusahaan selama aku tak di sini.” Noona menjawab pertanyaanku dengan tenang.

“Baiklah. Berapa lama kau akan di sana?”

“Mungkin satu minggu atau mungkin juga lebih. Masalah yang kita hadapi di sana cukup serius, sehingga aku perlu waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya. Selama aku pergi, kau harus memperhatikan kesehatanmu. Jangan lupakan waktu makanmu. Arasseo?” Aku tersenyum mendengar perkataan noonaku itu. Aku merasa seperti anak kecil saja harus diingatkan seperti ini.

“Arasseo.. Kau juga hati-hati di sana. Semoga masalahnya cepat selesai.” Noona mengangguk kecil.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ada meeting sebentar lagi.” Noona beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar.

“Noona..”

Aku menghentikan langkahnya tepat saat dia akan membuka pintu. “Cobalah buka hati Noona untuk seseorang. Di luar sana masih banyak laki-laki baik, seperti adikmu ini.” Aku tersenyum tulus ke arahnya. Dia tidak membalas perkatanku, justru terdiam memandangku dari sana. Lalu memutar arah untuk membuka pintu dan menutupnya setelah ia keluar. Aku terus memandangnya melalui kaca transparan yang membatasi ruanganku daengan area luar, sampai ia berbelok  dan tak kelihatan lagi batang hidungnya. Setelah ruanganku sepi kembali, pikiranku melayang lagi memikirkan sosok wanita itu.

***

“Noona, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membawaku kemari?” Aku heran kenapa kakakku  membawaku ke restoran ini.  Restoran ini bisa dibilang cukup jauh dari kantor. Kalaupun ingin mengajakku makan siang, kenapa tidak di restoran dekat kantor tempat kami biasa makan siang saja? Aku masih saja bertanya-tanya dalam hati ada rencana apa dibalik semua ini, sampai akhrinya aku tahu jawabannya saat kami sampai di meja kami, dia memperkenalkanku kepada seseorang yang dia bilang sebagai temannya. Noona bilang mereka sudah lama tidak bertemu dan kebetulan ada waktu, maka dia sekalian mengajakku ke sini. Tapi aku tahu, itu hanya alasannya saja. ‘Dia ingin menjodohkanku dengan wanita ini? Ayolah Noona.. yang benar saja!’..  Aku memutar bola mataku tak habis pikir. Bisa-bisanya dia memikirkan hal seperti ini. Kenapa tidak dia saja yang mencari pasangan untuk dirinya sendiri?!

Aku mulai gerah dengan pembicaraan yang tidak penting ini. Terlebih lagi saat teman noona-entah siapa namanya, aku tak begitu memperhatikan saat noona memperkenalkan kami tadi-mengatakan hal-hal buruk mengenai seseorang di masa laluku itu. Aku heran, dari mana dia bisa tahu mengenai hubunganku di masa lalu?

“Jangan katakan kalau Noona yang memberitahunya mengenai So Eun!” Aku mulai emosi mendengar setiap hinaan yang wanita itu tujukan terhadap orang yang sangat kucintai itu. Karena tak mendengar jawaban dari kakakku, aku kemudian bangkit dan pergi meninggalkan keduanya.

Rupanya noona mengejarku dan mencegahku pergi. Tapi aku tidak memperdulikannya sama sekali. Aku terus berjalan menuju tempat di mana mobilku terparkir. Sebelum sempat membuka pintu mobil, noona memaksaku untuk berbalik menghadapnya.

“Kenapa kau sampai semarah ini sih!” Noona membentakku tanpa peduli pada orang-orang yang melihat ke arah kami.

“Noona masih bertanya kenapa aku marah?” Aku tak habis pikir, kenapa kakakku ini belum juga memahami perasaanku.

“Bagaimana mungkin aku tidak marah mendengar orang lain menghina orang yang paling kucintai di depan mukaku sendiri?!” Aku tak bisa menahan luapan emosi yang kurasakan sekarang. Dadaku naik turun. Aku menatap noona dengan pandangan gusar. Tapi dia hanya diam menatapku. Lalu tiba-tiba saja dia menyerahkan selembar kertas kecil kepadaku.

“Apa ini?” Tanyaku setelah melihat alamat yang tertulis pada kertas itu.

“Busan?” Aku mengeja tulisannya. “Alamat siapa ini?” aku bertanya lagi, masih tak mengerti kenapa noona memberikan ini kepadaku.

“Itu.. alamat Kim So Eun saat ini. Dia tinggal di sana sekarang. Aku bertemu dengannya secara tak sengaja waktu aku berkunjung ke Busan minggu lalu. Pergilah. Bukankah kau sangat merindukannya?”

Perkataan noona tadi sukses membuatku terkejut. Entah kenapa, jantungku berdetak dua kali lebih cepat.  Aku menunduk melihat kertas itu lagi dengan senyum bahagia. Akhirnya aku menemukanmu So Eun..

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Donghae.” Aku mendongak melihat kakakku. Menunggu hal apa yang ingin ia katakan.

“Sebenarnya.. bukan dia yang meninggalkanmu, tapi aku yang menyuruhnya pergi. Dia juga yang telah mendonorkan darahnya untukmu saat kau  membutuhkan banyak sekali darah saat kau kecelakaan waktu itu. Tapi.. setelah dia baru saja membuka mata dari pingsannya, aku menyuruhnya untuk menjauh dari kehidupanmu. Aku yang memintanya pergi meninggalkanmu, padahal aku tahu saat itu kondisinya sangat lemah. Aku juga memberikannya sejumlah uang sebagai imbalan atas donor darah yang telah dia berikan untukmu, tapi dia mengembalikannya di meja ruangan tempat kamu dirawat dulu.” Aku terdiam mendengar semua pengakuan noona. apakah benar semua yang ia katakan tadi? Jadi selama ini…

“Maafkan noona, Donghae. Noona sudah sangat bersalah kepada kalian berdua. Memisahkan kalian berdua, dan membuatmu dan So Eun menderita. Noona pikir, setelah kau berpisah dengannya, kau bisa melupakannya dan hidup bahagia bersama noona di sini. Tapi noona salah. Kau justru sangat menderita karena semua ini. Maafkan noona, Donghae..”

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terlalu terkejut dengan pengakuan noona yang tiba-tiba ini. Aku tidak tahu harus marah atau justru berterima kasih padanya karena berkat dia saat ini aku bisa menemukan So Eunku. Tapi dia juga yang telah memisahkan aku dari So Eun.

“Pergilah.. Jemput dia dan bawa dia ke sini. Kau boleh memarahiku, tapi setelah kau berhasil membawanya kembali ke sini.” Noona kemudian berlalu dari hadapanku. Aku tercenung dengan kenyataan yang baru saja kuketahui. Tanpa pikir panjang, aku lalu berbalik arah dan membuka pintu mobil. Menginjak gas dan melajukan mobilku ke alamat yang noona berikan padaku tadi. Jantungku masih saja berdetak tak karuan. “So Eun-a, tunggulah. Aku akan segera datang menjemputmu.”

Aku segera memarkirkan mobilku di tepi jalan, dan memasuki sebuah gang sempit. Aku terus menelusuri jalan sempit khas perumahan korea itu dengan hati waswas. Benarkah So Eun tinggal di tempat ini. Noona tidak membohongiku kali ini kan?

Aku terus mencari-cari alamat rumah yang tertera di kertas itu, sampai akhirnya aku berhenti di depan taman bermain anak-anak. Aku terpaku begitu melihat siapa yang sedang bermain di tengah-tengah taman itu bersama beberapa anak kecil lainnya. Seperti merasakan de javu, aku terus memperhatikan sosok di depanku itu yang tak kunjung sadar akan keberadaanku di sini yang terus menatapnya dengan lekat. Aku merasakan kegembiraan yang begitu luar biasa di dalam hatiku. Otot-otot wajahku tertarik membentuk sebuah senyuman. Dia masih seperti So Eunku yang dulu. Cantik, dan manis. Meski tubuhnya terlihat lebih kurus dari sekarang.

“Jon Hee-ya.. hati-hati, nanti kau bisa terja..”

Belum sempat So Eun menyelesaikan kata-katanya, anak kecil yang ia panggil Jon Hee itu sudah terjatuh lebih dulu. So Eun tersenyum karena hal itu, sementara anak-anak lainnya menertawakan Jon Hee. So Eun lalu berjalan ke arah anak kecil itu dan membantunya berdiri. Membersihkan debu yang menempel pada pakaian anak itu dan mencubit pipinya. “Lain kali kau harus lebih hati-hati supaya kau tidak jadi bahan tertawaan teman-temanmu, arasseo?” dia tersenyum ke arah Jon Hee. “ye, Noona. lain kali aku akan lebih hati-hati.” Jon Hee berkata dengan aksen Busannya yang kental sekali, sambil menundukkan kepalanya. Tapi sedetik kemudian menegakkan kepalanya lagi. Kulihat sekilas dia melirik ke arahku. Lalu berkata kepada So Eun sesuatu yang membuatku merasakan detakan jantungku yang berkali-kali lipat lebih keras dari yang tadi.

“Noona, apakah kau sedang menunggu pacarmu?”

Aku melihat perubahan raut wajah So Eun setelah mendengar pertanyaan Jon Hee tadi.

“Wae?” tanya So Eun.

“Sepertinya orang yang kau tunggu-tunggu telah datang. Orang itu terus melihat Noona sejak tadi.” Jon Hee berkata sambil tangannya menunjuk ke arah di mana aku berada. Siapa yang anak itu maksud? Aku melihat ke sekitarku, tapi tak ada orang lain sama sekali, mungkinkah yang dia maksud adalah aku?

Lama setelah itu, baru So Eun memutar kepalanya untuk melihatku. Aku melihat wajah terkejutnya ketika mengetahui siapa yang ditunjuk oleh teman kecilnya itu. Dia kemudian berdiri dari duduknya. Memperhatikanku lekat-lekat, memastikan bahwa yang dilihatnya sekarang benar-benar diriku, Lee Donghae. Kami saling menatap satu sama lain. Aku memperhatikan wajahnya. Tidak ada yang berubah sama sekali dari dirinya. Persis seperti So Eun yang kukenal dulu. Aku tersenyum kepadanya, tapi sepertinya dia masih shock melihat kedatanganku sehingga dia hanya berdiri mematung di sana. Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya. Sekarang jarak kami tak lebih dari satu meter. Aku kembali memberikan senyuman paling tulusku padanya. Mengikis kembali jarak di antara kami, dan tanpa bisa menahan perasaanku lagi, aku langsung menariknya ke dalam pelukanku. Aku memeluknya dengan sangat erat, sampai mungkin dia kesulitan bernafas karenanya. Tapi aku terus saja memeluknya seperti ini. Ingin terus memeluknya, tak ingin membiarkannya pergi lagi dariku.

Setelah beberapa lama kami berpelukan, seperti tersadar, tiba-tiba saja dia mendorongku dengan kuat. Melepas pelukanku.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” Dia bertanya dingin kepadaku.

“Menjemputmu.” Aku berkata apa adanya. Dia tertawa kecil, tapi lebih terlihat seperti seringaian di mataku.

“Menjemputku? Apa kau bercanda?” dia masih berkata dengan nada sedingin es. Aku tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.

“Kalau yang kau pikirkan soal kakakku, kau tak perlu khawatir. Dia sendiri yang memberikan alamatmu kepadaku. Dia yang memintaku untuk segera ke sini dan menjemputmu.” Terlihat sekali keterkejutan di mata indahnya.

“Noona telah mengakui semua perbuatannya padaku. Aku tak menyangka kalau dia sampai berbuat seperti ini. Jujur aku sangat marah padanya, tapi di satu sisi aku juga sangat berterima kasih padanya, karena berkat dia kita bisa bertemu lagi.” Aku berhenti mengambil jeda sejenak.

“Maukah kau kembali padaku? Aku sangat mencintaimu So Eun. Kumohon, berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk bersamamu. Aku tak bisa hidup tanpamu, Kim So Eun.” Ucapanku ini benar-benar tulus dari hatiku yang paling dalam. Aku ingin memilikinya di sisiku. Aku terdiam menunggu jawaban darinya. Jantungku terus berdetak tak beraturan. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa saat ini. Sampai-sampai rasanya sulit sekali untuk bernafas.

“Terima.. terima.. terima.. terima..” Tiba-tiba saja anak-anak kecil yang sejak tadi menjadi penonton di taman bermain ini bersuara untuk mendukungku. Aku tersenyum karenanya. Terima kasih anak-anak.

So Eun tampak ragu memutuskan untuk menerimaku kembali atau tidak. Keraguan itu terpancar jelas dari wajahnya. ‘Aku mohon, So Eun-a.. berikan aku kesempatan satu kali lagi. kumohon..’ aku meminta dalam hati sambil menutup mataku rapat-rapat. Dan perkataan So Eun selanjutnya menciptakan kelegaan yang luar biasa dalam hatiku.

“Ya, aku mau.”

Akhirnya penantianku terjawab sudah. Aku tersenyum sembari membuka mataku kembali. Dia tersenyum ke arahku. Senyum terindah yang biasanya hanya kulihat dalam mimpi itu, kini benar-benar kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Seketika aku mendengar tepuk tangan yang sangat meriah dari anak-anak kecil itu. Aku tersenyum bahagia, benar-benar bahagia. Terima kasi Tuhan…

==========================================================

“So Eun-a.. bagaimana kau dan noona bisa bertemu waktu itu?” Donghae bertanya kepadaku dengan posisi sebelah tangannya merangkul bahuku sedangkan tangan yang satu lagi menggenggam erat tanganku. Saat ini kami sedang duduk-duduk di taman bermain anak-anak dekat rumahku. Aku tersenyum terlebih dahulu, lalu menjawab pertanyaannya itu.

“Saat itu aku sedang dalam perjalanan untuk pergi bekerja, tapi aku melihat Min Jae eonni hendak menyebrang jalan. Mungkin karena Min Jae eonni sedang berbicara dengan seseorang di telepon, dia sampai tak menyadari kalau ada mobil dari arah kanan yang melaju dengan kencang. Aku langsung berlari ke arahnya, dan untung saja berhasil menariknya tepat sebelum mobil itu lewat.”

“Kau tahu, dia terlihat sangat terkejut saat melihatku waktu itu. Tapi akhirnya dia berterima kasih padaku dan mengajakku mengobrol.” Aku menjawab panjang lebar, sampai tenggorokanku rasanya kering.

“O ya? Lalu apa yang kalian bicarakan?” Donghae terlihat penasaran sekali.

“Rahasia.” Aku sengaja membuatnya kesal. Hahaha.. Aku sangat suka melihat wajah kesalnya itu. Sangat lucu dimataku

“Yaa.. Kau berani main rahasia-rahasiaan denganku?” Dia bertanya dengan nada kesal padaku.

“O.. wae? Kau tak suka?” Aku menantangnya.

“Aaa… baiklah kalau begitu. Mungkin setelah ini kau bisa membuka sedikit mulutmu untuk mengatakan rahasia yang kau sembunyikan dariku itu.”

Sebelum aku sempat bertanya mengenai maksud perkataannya itu, dia sudah lebih dulu membekap bibirku dengan bibirnya. Awalnya ciumannya lembut, tapi dia semakin memperdalam ciumannya padaku. Tangannya yang ada di pinggangku semakin menarikku ke dalam pelukannya. Sementara tanpa aku sadari, tanganku sudah bertaut di lehernya. Dia terus memperdalam ciumannya dan aku pun membalas ciuman panasnya itu. kami terus berciuman di bawah sinar rembulan yang bersinar terang malam ini. Donghae membawaku ke dunia fantasinya, membuatku terasa melayang oleh ciuman memabukkannya. Rasanya aku tak ingin melepaskan ciuman dan pelukan ini sampai kapan pun.

THE END.

entah apa yang aku pikirin sampai berani naruh tulisan amburadul ini di sini. yang jelas ini murni buah pikiranku sendiri. Sebenarnya, rada gak PD juga sih mau publishnya. cuma aku pikir-pikir lagi, daripada isi blog kosong melompong kayak tong kosong, lebih baik di cicil satu-satulah yaa…

DMZ (Demiliterized Zone)


Salah satu hal yang menarik menurut saya dari korea adalah tentang perang saudara antara Korea Selatan dan Korea Utara. Sampai sekarang belum ada kepastian mengenai penghentian perang antara kedua negara yang dahulunya bersatu tersebut. Yang ada hanyalah gencatan senjata yang disepakati oleh kedua belah pihak. Itu artinya sewaktu-waktu bisa saja terjadi peperangan antara kedua negara, tetapi tentunya tidak ada yang mengharapkan hal itu akan terjadi.

Antara Korea Selatan dan Korea Utara, dibatasi oleh garis batas yang dinamakan DMZ. Adakah yang pernah mendengar istilah ini?

DMZ atau Demiliterized Zone adalah garis batas yang memisahkan antara korut dan korsel. DMZ membelah semenanjung Korea dari timur ke barat sepanjang 248 km. Di area itu, tidak boleh ada penduduk yang tinggal, selain pihak militer. Setiap hari, pasukan Korea Selatan dan Korea Utara berhadap-hadapan di garis DMZ samil menjaga teritori masing-masing.

Wilayah DMZ dijadikan sebagai salah satu objek wisata di Korea Selatan. Tetapi, karena wilayah tersebut merupakan wilayah militer, tur ke DMZ tidak bisa semabrangan. Kita tidak bisa pergi sendirian ke sana, tetapi harus menggunakan tur operator yang sudah terdaftar.

Syarat-syarat untuk berkunjung ke perbatasan pun berbeda dengan kalau mau ikut tur biasa. Untuk ke DMZ, kita harus menyerahkan paspor, dilarang mengambil foto sesuka kita, ada batasan umur, dan harus bersedia mengikuti aturan militer yang ada. Ada juga ketentuan beberapa negara yang harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemerintah Korea Selatan sebelum ikut tur DMZ.

Ketegangan akan Anda rasakan selama mengikuti tur menuju DMZ. Di beberapa pos pemberhentian, tentara-tentara Korea Selatan dengan seragam lengkap dan bersenjata, menaiki bus dan memeriksa paspor peserta tur. Mereka akan mengingatkan agar jangan mengambil gambar para tentara yang memeriksa.

Perjalanan ke DMZ dimulai dengan menuju Panmeujon, sekitar 55 km sebelah utara Seoul. di sana ada sebuah pangkalan militer tempat dilaukannya perundingan antara Korut dan Korsel pada 1953.

Dari Panmeujon, tur DMZ diteruskan ke Imjingak, yang merupakan sebuah taman di sekitar sugnai Imjin. Di Imjingak juga ada satu jembatan yang dinamakan “Bridge of Freedom”. Jembatan ini dahulu pernah digunakan sebagai tempat untuk melakukan pertukaran tawanan perang.

Tour DMZ juga menawarkan kunjungan 3rd  Infiltration Tunnel. Di tempat tersebut terdapat sebuah terowongan yang dibangun oleh pihak Korea Utara untuk melakukan infiltrasi ke Korea Selatan.

Dari terowongan, Anda akan diajak menuju Stasiun Kereta Api Dorasan. Ini adalah stasiun kereta api yang menghubungkan Korut dengan Korsel. Dorasan juga menjadi stasiun terakhir di Korsel sebellum memasuki perbatasan Korut. Namun, tidak ada kereta yang lewat stasiun ini. Jalur kereta antarkedua negara tersebut memang tak digunakan lagi.

Itulah sedikit pengetahuan saya tentang DMZ yang saya dapatkan dari buku yang saya baca. Semoga suatu saat nanti DMZ akan runtuh. Dan bila itu terjadi, Korea Selatan dan Korea Utara akan bersatu lagi sebagai saudara.